
"Kamu." Ucap Rizki ketika dirinya baru saja membuka pintu.
"Ngapain kesini." Sambungnya lagi.
"Maaf Bos, ponsel bos nggak bisa di hubungi. Makanya saya memutuskan kesini." Ucap Juna asisten Rizki, karena memang selepas Rizki bertemu Larisa pria itu langsung mematikan ponselnya demi kemungkinan terbesar jika Larisa akan menelponnya nanti.
"Mengganggu saja, ada masalah apa?" Ucap Rizki.
"Nggak ada niatan gitu ajak aku masuk dulu Bos, biar ngobrolnya di dalam gitu." Ucap Juna, pasalnya Rizki seperti enggan menyuruhnya masuk. Bahkan wajah pria itu saja menatap Juna dengan wajah kesal yang tak ia sembunyikan sama sekali.
"Lupa, ayo masuk." Ucap Rizki akhirnya menelan kekesalannya terhadap Juna, karena dia sendiri penasaran dengan tujuan Juna datang ke apartemennya. Karena asistennya itu tak pernah begini sebelumnya selain hal darurat saja menurutnya.
"Selamat siang Bu Melodi." Ucap Juna sopan pada Melodi ketika dirinya dan Rizki sudah di ruang tamu dimana Melodi sedang duduk di sana.
"Siang juga Jun, aku belum punya anak Juna. Nggak usah panggil ibu." Ucap Melodi sedikit kesal, karena baru pertama kalinya ada orang yang memanggilnya dengan sebutan ibu.
"Maaf Bu, bukan maksud saya begitu. Hanya saja anda kan istri Bos saya kan." Ucap Juna terpotong karena ucapan Rizki yang langsung menyelanya.
"Turuti keinginan istriku Jun kalau nggak mau di pecat." Ucap Rizki walau sebenarnya dia setuju dengan sebutan Juna tadi, itu berarti Juna tahu menempatkan dirinya. Namun begitu, apapun yang membuat Melodi tak merasa nyaman maka dia akan menuruti keinginan istrinya itu.
__ADS_1
Juna yang mendengan ucapan Rizki langsung menelan Saliva nya kasar. Apa benar ini Rizki Bosnya, kenapa sekarang dia jadi berubah. Bahkan Larisa saja dia tak mau di bantah oleh gadis itu tapi apa ini sekarang. ckckck cinta memang bisa merubah seseorang, pikir Juna.
"Baiklah, akan aku panggil nona Melodi saja." Ucap Juna pada akhirnya.
"Begitu lebih baik." Ucap Melodi.
"Yasudah, duduk dan jelaskan kedatangan kamu kesini untuk apa?" Tanya Rizki.
"Begini bos, sekarang di cafe ada nona Larisa di sana. Dia terus memaksa saya memberitahukan alamat tempat tinggal anda, tapi saya bilang saja saya tak tahu." Ucap Juna karena dia berpikir jika Larisa yang sudah cukup lama saja berhubungan dengan Rizki namun kenapa tak tahu tempat tinggal kekasihnya sendiri, itu berarti memang Bosnya itu tidak ingin memberitahu pada Larisa. Makanya itu dia lebih memilih untuk berbohong pada Larisa, dari pada nanti dia kena amukan dari Bosnya itu.
"Bagus, kamu sudah melakukan yang benar. Lalu apa sekarang dia sudah pergi?" Ucap Rizki yang begitu bersyukur karena Juna memang bisa di andalkan dalam keadaan apapun itu, bahkan di luar kerjaannya sekalipun pria itu selalu sigap jika Rizki membutuhkan bantuan dari dirinya.
"Nona Larisa masih di cafe Bos, dia bilang tak akan pergi sebelum tahu dimana tempat tinggalnya Bos." Ucap Juna membuat Rizki menghembuskan nafasnya pelan.
"Aku tak ada hubungan apapun lagi dengan Larisa." Ucap Rizki sambil menatap sekilas Melodi yang sejak tadi tak memperdulikan obrolannya dengan Juna. Gadis itu seperti sibuk sendiri dengan ponsel di tangannya.
"Benarkah, pantas saja tadi Nona Larisa seperti orang stres yang hanya mondar-mandir gelisah di ruangan anda Bos." Ucap Juna sambil mengingat tingkah Larisa yang tak mau pergi dan lebih memilih menunggu Rizki di ruangan pria itu.
"Sebaiknya kamu temui Larisa Mas, mungkin tadi kamu nggak mendengarkan penjelasan dia tadi. Makanya dia mau bertemu kamu." Ucap Melodi bersuara setelah sejak tadi ternyata dirinya juga menyimak pembicaraan kedua pria di sebelahnya itu.
__ADS_1
"Maksud kamu apa Mel, tak ada yang perlu di jelaskan. Itu sudah keputusan terakhirku tanpa atau melihat kejadian tadi pun itu sudah menjadi keputusan terakhirku sejak aku niat keluar apartemen tadi." Ucap Rizki tak mengerti jalan pikiran Melodi.
"Yah maksud aku setidaknya kamu harus menjelaskan baik-baik lagi, mungkin dia belum bisa terima. Aku juga wanita Mas, punya perasaan dan aku mengerti perasaanya sekarang sebagai sesama wanita. Hubungan kalian bukan sebentar Mas, itu sebabnya mungkin dia belum bisa menerima keputusan kamu. Memang betul dia sudah melakukan kesalahan, tapi kamu juga harus mendengarkan alasannya barulah kamu memutuskan baik-baik. Kasihan kan kalau dia terus mencari kamu, lebih baik temui dia biar semuanya jelas dan dia juga mengerti dan tak lagi mencari kamu. Karena wanita itu suka mendengarkan penjelasan, dan tak suka di tinggalkan tanpa penjelasan pula." Ucap Melodi panjang lebar setelah mendengar obrolan kedua pria itu tanpa bersuara tadi.
Rizki pun hanya diam setelah mendengar penuturan panjang dari Melodi. Memang benar tadi dia tak memberikan ruang untuk Larisa menjelaskan pada dirinya tentang kejadian tadi, karena menurutnya yang dia lihat sudah lebih dari cukup dari penjelasan apapun lagi. Namun begitu dirinya pun salah, tak menjelaskan kenapa dia memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Larisa. apalagi dia tadi mengatakan pada gadis itu bahwa niat awalnya datang memang untuk menyudahi hubungan mereka dangan atau tanpa kejadian tadi. Apakah kata-kata itu yang membuat Larisa jadi mau bertemu dia sekarang, pikir Rizki.
"Ah apakah perempuan seribet itu, jelas-jelas dia sendiri yang sudah membuat kesalahan di depan mataku sendiri. Lalu penjelasan apa lagi yang perlu dia jelaskan sedangkan sudah sejelas itu tadi." Batin Rizki.
"Mas kenapa diam." Tanya Melodi karena Rizki tak menanggapi ucapannya tadi.
"Mungkin Bos sudah menyesal." Ucap Juna yang sudah bosan diam karena membiarkan kedua pasutri itu beradu argumen.
"Diam kamu Jun." Ucap Rizki yang kesal dengan Juna yang sudah menuduhnya menyesal.
"Maaf Bos." Jawab Juna cepat.
"Baiklah aku akan temui Larisa, tapi bukan karena aku menyesal atau khawatir terhadap dia. Ini semua aku lakukan, agar Larisa bisa mengerti dan menerima keputusanku." Ucap Rizki pada akhirnya.
"Begitu lebih baik." Ucap Melodi lega karena kalau tidak, mungkin dirinya yang akan merasa bersalah sudah masuk di antara hubungan mereka berdua. Walaupun memang Larisa sendiri yang turut andil besar dalam perpisahan dirinya bersama dengan Rizki.
__ADS_1
"Setelah urusanku dengan Larisa selesai, aku harap kamu pun secepatnya menyelesaikan hubunganmu dengan Anzas sayang. Aku tak mau lagi ada orang ke tiga atau ke empat lagi dalam hubungan kita." Ucap Rizki penuh penekanan dengan menatap serius tepat di kedua bola mata Melodi, membuat gadis itu mendadak merinding dengan ucapan serta tatapan serius Rizki padanya.
"Aku pamit sayang, Ayo Jun." Ucap Rizki. setelahnya keduanya pun berlalu pergi dari apartemen.