
Siang hari...
Saat ini rombongan liburan Melodi dan kawan-kawan sedang berada di wahana air terjun yang di rekomendasikan oleh Mahesa sebagai yang lebih kenal wilayah liburan mereka kali ini.
Tempatnya pun tak jauh dari Villa milik Mahesa, hanya lima belas menit saja waktu yang mereka tempuh dari Villa. Itu sebabnya pria itu merekomendasikan tempat itu untuk mereka ke sana sekaligus menikmati selingan makan siang mereka siang ini.
Di tempat itu terdapat sebuah warung kecil, namun begitu terkenal lezat bagi setiap pengunjungnya dengan makanannya yang membuat tempat itu jadi terkesan selain air terjun sebagai peran utamanya.
"Wah keren ih." Ucap Melodi ketika mereka baru sampai di tempat itu.
"Yah sayang, indah banget." Ucap Rizki namun matanya tertuju pada Melodi yang nampak berbinar dan Gerald yang melihat itu langsung menoyor kepala Rizki.
"Kenapa sih lo." Kesal Rizki tak terima kepalanya di dorong Gerald.
"Kenapa?" Tanya Melodi saat mendengar ucapan suaminya itu.
"Tanya tuh suami kamu mana yang indah." Ucap Gerald membuat Rizki tersadar.
"Kenapa memangnya, orang memang pemandangannya indah kok. Nggak pernah bosan lihatnya apa lagi sejak hamil bertambah indah pula pemandangan ku tiap harinya, bukan begitu sayang." Ucap Rizki dan langsung di sambut senyum malu Melodi.
Wanita itu nampak bersemu merah mendengar kalimat pujian dari Rizki, sungguh lelaki itu selalu saja sukses membuatnya bahagia di tempat dan keadaan apapun. Dan hal itu sungguh selalu dia mensyukurinya.
"Kamu By, ada-ada aja." Ucap Melodi malu, dan itu membuat Rizki ingin sekali membawa pulang istrinya itu dan mengurungnya seharian di kamar saja pikir Rizki.
"Dih dasar bucin." Ucap Gerald kemudian dia langsung menarik tangan Kanaya, saat melihat gadis itu baru saja ingin melewati mereka bertiga dan langsung saja Gerald membawanya menjauh dari pasangan bucin itu.
Tak peduli begitu banyak lontaran kalimat penolakan yang dia dengar meluncur indah dari mulut pedas wanita yang sempat dia anggap kalem itu, namun akhirnya menunjukan sikap aslinya juga.
"Kita nggak salah lihat kan By?" Tanya Melodi dan di iyakan Rizki.
"Yah, kayanya liburan kali ini membawa berkah. Semoga saja si jomblo tahunan itu sold out selepas pulang dari sini." Ucap Rizki sambil fokusnya ke arah kedua orang itu.
__ADS_1
"Iya By, aku pun harap begitu. Betapa bahagianya nanti Kanaya kalau benar-benar Gerald serius dengannya. Dia pria yang baik, tampan tak di ragukan sama sekali. Humoris bekal utamanya, penyayang sudah pasti. Hah kurang apa lagi coba, paket komplit pokonya deh." Ucap Melodi tanpa sadar Rizki sedang menatapnya dengan marah, pria itu begitu terkejut Melodi bisa memuji Gerald dengan begitu lengkap seperti itu. Ini kali pertamanya dia mendengar kalimat pujian dari Melodi yang tak pernah dia dengar semasa mereka bersahabat dulu.
Sungguh dia tak suka jika istrinya itu memuji pria lain sekalipun itu sahabat dekat mereka sekalipun, apa lagi ini jelas-jelas Melodi memujinya di hadapan dirinya langsung.
"Iya yah, komplit dah si Gerald." Ucap Rizki dengan aura kekesalannya, membuat Melodi yang mendengar nada suara tak bersahabat Rizki langsung menoleh ke arahnya.
Dan benar saja, hal pertama yang dia lihat dari Rizki adalah wajah dingin dan marah yang mendominasi. Membuatnya seketika menelan saliva nya. Tak lupa juga dia memutar otak untuk membuat sang suami tak marah padanya.
"Dek, tolong Mami. Dady mu pasti sedang marah besar sekarang, padahal kan yang Mami ucapkan tadi semuanya kan benar. Tapi kenapa Dady wajahnya mengerikan sih." Batin Melodi sambil mengusap perutnya, mengadu pada sang bayi. Kali saja rasa ciutnya menjadi berkurang.
"Dady." Ucap Lirih Melodi, sebisa mungkin dia memanggil Rizki dengan selembut mungkin.
Rizki yang melihat muka memelas dan takut sang istri secara bersamaan menjadi luluh seketika. Dia tak tega jika harus marah pada wanita yang sedang mengandung buah hatinya itu.
Menghembuskan napasnya perlahan barulah Rizki membuka suaranya. Memberi tahu jika dia tak suka dengan cara Melodi memuji Gerald tadi.
"Mel, aku tak suka kau memuji pria lain seperti itu. Sekalipun Gerald itu sahabat kita, aku mohon jagalah perasaanku. Aku sungguh tak suka mendengarnya tadi." Ucap Rizki pelan namun tegas, sakin marahnya dia tak menyebutkan kata sayang dalam kalimatnya melainkan memanggil Melodi dengan namanya dan hal itu membuat Melodi merasa tercubit karenanya.
"Jangan ulangi lagi, aku cemburu Mel aku cemburu. Kau mengerti kan." Ucap Rizki sambil membawa Melodi dalam pelukannya.
"Yah, aku tak akan melakukannya lagi." jawab Melodi tanpa terasa air matanya pun ikut turun dengan suara isakan yang mengikut setelahnya, membuat Rizki menghembuskan nafasnya perlahan.
Hal inilah yang akan terjadi jika Melodi melakukan kesalahan dan ujung-ujungnya istrinya itu akan menjadi orang yang paling tersakiti di akhirnya. Sungguh, kehamilan Melodi selain sebagai Anungrah untuknya. Namun cobaan juga tetap ikut bersamanya, hanya sabar saja yang bisa dia lakukan untuk menghadapi istri tercintanya itu.
"Jangan menangis lagi sayang, sudah yah Dady nggak marah lagi. Kasihan dede bayinya kalau Maminya sedih seperti ini." Ucap Rizki sambil memangku kedua pipi Melodi dengan tangannya sambil mengusap air mata wanita itu.
"Benar Dady nggak marah lagi?" Tanya Melodi memastikan.
"Iya sayang, Dady nggak marah lagi."
"Jangan marah-marah lagi yah. Aku nggak suka By, Serem kalau Dady marah kaya tadi tahu." Ucap Melodi membuat Rizki tersenyum.
__ADS_1
"Iya sayang, asal Mami nggak nakal. Dady bakalan jadi pangeran yang baik setiap waktu.." Ucap Rizki dan langsung di sambung Melodi.
"Dan kalau Mami nakal pasti Dady akan menjadi Monster mengerikan seperti tadi." Ucap Melodi membuat Rizki melotot.
"Hah, untung istri." Batin Rizki.
"Becanda sayang, Suamiku ini selalu terlihat tampan dalam keadaan marah sekalipun. Hanya saja kalau nggak marah lebih tampan lagi sih." Kata Melodi dengan tersenyum cerah, bahkan tak ada lagi jejak tangisannya tadi di wajahnya cantiknya kini.
"Iya sayang, udah yuk kita ke sana biar Dady fotoin Mami." Ucap Rizki mengajak Melodi mendekati air terjun di mana semuanya sudah lebih dulu sampai di sana meninggalkan mereka berdua yang berada di posisi paling terakhir.
***
Saga sedang asik memotret Bella, sementara Gadis dan Bima sedang berkeliling melihat suasana air terjun di sana.
Sementara Rizki sedang menemani Melodi yang sedang berjalan menuju air untuk merendamkan kakinya sesuai permintaan Melodi usai berfoto ria tadi.
"Hati-hati sayang." Kata Rizki sambil memegang tangan Melodi saat wanita itu hendak duduk di atas batu.
"Dinginnya." Melodi berkata ketika dia baru saja memasukan kedua kakinya kedalam dalam air.
"Iya sayang, untung siang jadi dinginnya masih wajar."
"Iya By, Mandi boleh?" Tanya Melodi yang mulai tergiur untuk nyemplung di air jernih di hadapannya ini.
"Nggak sayang, masih siang. entar sore an dikit." Ucap Rizki dan di terima Melodi.
"Baiklah, tapi janji yah. Awas kalau bohong, seminggu puasa nggak mau tahu." Ucap Melodi mewanti-wanti, sebab semenjak hamil Rizki selalu membatasi dirinya dalam segala hal. Itu sebabnya dia suka tak percaya kalau di janji janji yang ujung-ujungnya tak di tepati dengan alasan kehamilannya.
Mendengar ucapan Melodi, Riski langsung menelan saliva nya kasar, sebab dia hanya ingin mencegah karena takut dengan keadaan sang istri yang tengah hamil kini. Kalau saja tak hamil dengan suka rela dia akan langsung mengijinkan Melodi sekarang bila perlu dia juga ikutan mandi dengannya.
Pasalnya dia berpikir jika habis makan siang mereka langsung kembali ke Villa karena tak mungkin mereka akan sampai sore di sana. Itu sebabnya dia menjanjikan sore hari untuk Melodi. Namun siapa sangka istrinya kini lebih awas kini, bahkan masi sempatkan mengancam pula bahkan ancamannya membuat Rizki lemas seketika.
__ADS_1