
"Om." Panggil Gadis Lirih.
"Abang nggak bisa ikut ke rumah kamu dek, Abang ada urusan habis ini." Ucap Bima saat sudah menguasai keterkejutannya dengan permintaan Melodi setelah mendengar panggilan lirih gadis di sebelahnya.
"Iss, pokonya Bang Bima harus ikut. Aku nggak mau tahu.." Ucap Melodi tak mau di bantah.
"Ayo By kita duluan, nanti Bang Bima sama Gadis nyusul kok." Lanjut Melodi berkata sambil menarik tangan Rizki ke arah mobil Mereka, sebelum dia mendengar penolakan lagi dari sang Abang.
Rizki hanya mengikuti mau sang istri saja, berjalan meninggalkan sang kakak ipar yang mematung tak bisa berkutik dengan sikap Melodi.
Sementara sejak tadi tak jauh dari mereka ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dengan tangan mengepal nya, menatap tak suka sebelum akhirnya melangkah masuk ke arah rumah sakit.
"Tunggu saja pembalasanku atas apa yang kalian perbuat terhadapku." Gumam Orang itu sebelum melangkah pergi.
***
Di lain tempat saat ini Anzas dan Sarah sedang berkunjung ke apartemen Anzas yang sudah lama tak dia tempati karena lebih nyaman di apartemen Sang calon istri.
"Za, aku takut." Ucap Sarah saat mereka sedang melangkah ke arah unit apartemen Anzas yang tak pernah sama sekali Sarah kunjungi atas larangan pria itu dulu.
Dulu saat masih berhubungan baik dengan Melodi, tak pernah sekalipun Anzas mengajak atau mengijinkan Sarah untuk berkunjung ke unit apartemennya itu, sebab waktu itu dia hanya menganggap Sarah sebagai p****s ha*r*t nya saja. Dan lagi dia tak ingin jika sampai Melodi tahu akan kedekatannya dengan wanita itu.
"Kenapa harus takut, seminggu lalu kamu udah ketemu Mami Papi bukan." Ucap Anzas sambil merangkul bahu Sarah menyakinkan..
Sarah sedikit merasa khawatir, sebab terakhir kali bertemu Mami nya Anzas. Dia seperti tak di inginkan oleh wanita paru baya itu, bahkan calon ibu mertuanya itu sempat terkejut karena dialah calon menantunya bukan Melodi yang beliau tahu sebagai calon menantu sebelumnya.
"Tapi." Sarah berkata dan langsung di potong cepat Anzas dengan cara di cium bibirnya hingga membuat wanita itu sedikit terkejut namun akhirnya dia pun ikut terbuai dengan sikap lembut calon suaminya itu sampai tak perduli jika mereka sedang di tempat umum saat ini.
"Kalian." Ucap seseorang langsung menghentikan aksi dua sejoli yang tak tahu tempat itu.
__ADS_1
"Mami." Panggil Anzas santai seolah yang tadi di lakukan nya bukanlah hal memalukan meski terpergok oleh sang Mami.
Sementara hal berbeda kini yang di rasakan Sarah sekarang. Wanita itu terlihat sangat malu saat ini, hingga terlihat jelas kegugupan di wajahnya. Ingin sekali dia menghilang saja jika itu memang memungkinkan.
"Masuk." Ucap Mami Anzas kemudian beliau kembali masuk ke dalam Apartemen putranya itu hingga melupakan niat awalnya yang ingin keluar sebentar ke minimarket bawah.
"Za bagaimana ini, aku malu. Kamu sih main nyosor aja." Lirih Sarah saat Melihat calon Ibu mertuanya itu melangkah masuk.
"Hehehe, nggak usah malu. Kamu kan ntar juga jadi istri aku." Ucap Anzas tanpa dosanya, walau di benaknya sedikit terkekeh dengan ucapan Sarah.
"Dasar nggak punya malu." Omel Sarah sambil memukul pelan lengan Anzas kesal, namun pria itu hanya tertawa saja menanggapi perlakuannya itu.
"Kalian mau sampai kapan di situ." Teriak Mami Anzas dari dalam langsung menghentikan aksi keduanya.
"Santai saja, serahkan semuanya sama aku sayang." Anzas berkata sambil menggenggam tangan Sarah menyakinkan dirinya, kemudian berakhir dengan sebuah kecupan yang dia tinggalkan di punggung tangan Sarah sebelum akhirnya mereka melangkah masuk.
Di dalam apartemen kini Mami dan Papi Anzas sudah duduk dengan santai di sofa ruang tamu menunggu keduanya.
"I-iy-iya Om." Jawab Sarah gugup menatap sekilas Papi Anzas kemudian dia langsung menundukkan pandangannya.
"Ayo sayang." Anzas merangkul pinggang Sarah dan membawanya duduk di hadapan Mami dan Papinya.
"Kalian tahu apa kesalahan kalian." Ucap Mami Anzas seketika membuat kedua orang yang baru duduk itu menatap ke arah sang Mami.
"Nggak ada." Ucap Anzas dengan santainya, sementara Sarah hanya bisa menundukkan kepalanya takut. Dia tahu maksud kesalahan yang di Maksud Maminya Anzas itu adalah hal tadi yang di lihat Wanita itu.
"Dasar anak nakal kamu, bisa-bisanya bilang nggak tahu dengan entengnya. Sementara Mami kelimpungan urus pernikahan kalian, kalian malah enak-enakan bilang nggak tahu." Ucap Mami menggebu-gebu sakin kesalnya.
Maminya Anzas begitu kesal dengan Calon pengantin di hadapannya ini, bagaimana tidak jika besok adalah hari pernikahan mereka sementara sekarang baru mereka menunjukan batang hidung mereka di hadapan beliau. Sungguh pengantin ter cuek pikir beliau.
__ADS_1
"Sudahlah Mi, lagian calon mantu kita kan masih berduka akan kehilangan calon cucu kita." Ucap Papi Anzas menenangkan istrinya.
"Mami tahu itu, tapi setidaknya ini anak kamu ini dia berkunjung ke sini ke. Nanyain udah sampai mana persiapan pernikahannya atau apa gitu. Mami sampai berpikir jika mereka tak serius dengan pernikahan mereka ini. Bisa-bisanya besok mau menikah baru menunjukan muka mereka di hadapan Mami." Omel Mami hingga membuat suaminya tak bisa berkata lagi, karena yang di katakan sang istri memang benar adanya.
"Maaf Mi, Anzas kan dari awal udah bilang kan sama Mami biar urus semuanya sampai selesaikan."
"Yah Mami tahu, tapi setidaknya kamu ajak main calon mantu Mami tiap hari kesini kek. Ini malah kamu kurung dia di apartemennya terus sampai lupa kalau besok kalian mau nikah." Cibir sang Mami.
"Mami baru pernah lihat calon pengantin teramat cuek seperti kalian berdua ini." Lanjut Mami lagi dan Anzas langsung melangkah mendekati beliau.
"Aku perlu meyakinkan istriku, Mami ngerti kan." Bisik Anzas setelah dia membawa tubuh sang Mami dalam dekapannya.
"Yah Mami tahu, tapi Mami kan juga pengen kenal Menantu mami juga. Tapi malah kamu kurung dia terus." Ucap Mami sambil merenggangkan pelukan Anzas.
"Sayang, maafkan anak Mami yah kalau dia sering menyakiti kamu." Ucap Mami sambil beranjak dan duduk di sebelah Sarah.
Wanita paru bayah yang masih terlihat begitu cantik itu merasa bersalah pada calon mantunya itu atas perlakuan Anzas padanya.
Putranya itu sudah menceritakan semua tentang Sarah pada mereka hingga cucu mereka yang telah tiada pun tak luput dari ceritanya.
"Sarah sudah memaafkan Anzas Tante, itu sebabnya Sarah mau menikah dengannya." Ucap Sarah sambil menunduk.
"Terima kasih sayang." Ucap Mami Anzas dan langsung membawa Sarah dalam pelukannya sementara Sarah hanya menganggukkan kepalanya saja sambil membalas pelukan wanita itu.
"Apa sudah ada lagi cucu Mami di dalam sini?" Ucap Mami setelah mengurai pelukannya terhadap Sarah sambil mengelus perut sang calon mantu.
...Komennya jangan lupa yah, makin banyak komentar kalian makin semangat pula Author nulisnya.☺️...
...**Like,Gift, Fav & Vote sebagai tanda kalian menghargai karya tak seberapa Author ini....
__ADS_1
...Jangan bosan-bosan yah sama karya receh ini. Salam sayang buat yang sudah setia sama cerita Author.😁**...
...Sehat sehat yah kalian semua🤗...