
Anzas yang marah kerena mendengar penuturan Rizki padanya langsung dengan kesal menendang pintu apartemen di hadapannya setelah usai memutuskan sambungan telfonnya sepihak.
"Mel, kamu harus menjelaskan semuanya padaku." Ucap Anzas dengan amarahnya, tidak terima jika Melodi sudah menyerahkan diri untuk suaminya itu. Sebab yang dia tahu Melodi belum memberikan hak itu karena dia belum mencintai suaminya.
"Tidak, tidak mungkin Melodi berpaling secepat itu dariku. tidak mungkin. Pasti Bajingan itu sudah menipuku, Melodi tidak seperti itu. Dia sangat mencintaiku, aku tahu itu. Yah tidak mungkin." Anzas terus berucap saat mengingat kembali perkataan Melodi padanya waktu itu.
Setelah itu dia beranjak pergi dari depan apartemen Melodi dan Rizki dengan emosinya yang memuncak. Hanya satu tempat yang bisa dia datangi saat ini, yaitu tempat sarah tujuannya. Karena sejak kejadian pertengkarannya dengan Sarah, dia tak mendatangi tempat itu lagi.
Saat sudah sampai, tepatnya berada di depan pintu apartemen Sarah. Pria itu sejenak menarik dan menghembuskan nafasnya sejenak barulah dia memutuskan menekan password apartemen itu.
Dengan pelan Anzas langsung masuk menuju kamar Sarah, dan Melihat wanita hamil itu masih tertidur nyenyak meski matahari sudah meninggi sejak tadi.
Tanpa basa basi pria itu langsung saja naik ke ranjang yang sedang Sarah tempati sekarang. Tapi seperti biasa dia tak lupa menanggalkan pakaiannya terlebih dahulu, karena dia tahu pasti wanita di balik selimut itu seperti biasa hanya menggunakan dalaman saja saat tidur. Dan dia sangat hapal akan hal itu.
Sarah yang sedang tidur dengan nyenyak langsung terbagun karena terkejut saat merasakan sentuhan hangat di tubuhnya.. Sentuhan yang selalu dia rasakan selama setahun belakangan ini.
"Lepasin." Ucap Sarah saat terbangun dan mengenali bau seseorang yang iya kenal sedang memeluknya dari belakang. Dia tahu itu Anzas, karena tak ada yang bisa masuk ke apartemennya kecuali pria itu.
"Aku bilang lepasin apa kamu tuli." Ucap Sarah lagi dengan nada meninggi karena Anzas tak menghiraukan perkataannya.
"Kenapa? kau selalu menyukainya bukan. Menyukai semua sentuhan ku. Dan maaf untuk kemarin, aku benar-benar tak ada niat membentak mu. Hanya saja, aku belum bisa menerimanya. Aku tahu kau merindukanku sayang, itu sebabnya aku kesini." Ucap Anzas dan memulai aksinya, tak peduli dengan penolakan Sarah padanya. Tangan nakalnya pun sudah bergerak dengan lincahnya di tubuh mulus Sarah, tubuh yang setahun ini menghangatkannya tanpa imbalan apapun darinya.
Sarah yang tak bisa menolak sentuhan
itupun akhirnya terbuai dengan permainan Anzas terhadapnya. Hingga hampir tiga jam lamanya barulah Anzas melepas tubuhnya yang sudah kelelahan.
"Dia sudah memberikannya untuk suaminya itu Sar." Ucapan Anzas terngiang-ngiang di telinga Sarah, bahakan Anzas tak menghiraukan dirinya yang berulang kali menyebut nama Melodi di setiap Anzas menyentuhnya. Sakit memang, namun entah kenapa dia tak bisa menolak sentuhan Anzas padanya.
__ADS_1
Bodoh, sudah pasti. Tapi dia harus apa, Anzas sudah terlalu jauh menguasai seluruh hidupnya.
Kini Sarah hanya bisa diam dengan kesedihannya di dalam pelukan Anzas, tak mau bersuara sedikitpun. Meskipun sejak tadi Anzas terus saja berbicara mengenai Melodi kepadanya. Sudah biasa, kata itu yang sering menguatkan dirinya sendiri. Bagaimana tidak, meskipun pria itu selalu menyanjung Melodi sedemikian rupa. Tetap saja, dia adalah rumah tempat pulangnya pria itu.
Sedangkan di lain tempat tepatnya di apartemen Melodi dan Rizki. Kedua pasangan itu masih betah di tempat tidur, dengan satu masih terlelap sedangkan satunya lagi sudah terjaga sejak tadi.
Rizki sedang sibuk dengan laptop di pangkuannya, sesekali melirik sekilas menatap Melodi yang masih setia tidur walau jam sudah mau menunjukan siang hari.
"Mas." Melodi memanggil Rizki ketika dirinya baru membuka matanya.
"Yah, kau sudah bangun sayang." Ucap Rizki mengalihkan pandangannya pada Melodi yang memanggilnya.
"Jam berapa Mas?" Tanya Melodi tanpa menjawab pertanyaan Rizki, yang jelas jelas tak perlu di tanyakan.
"Sebelas." Jawaban Rizki membuat istrinya itu langsung terkejut.
"Kenapa?"
"Kenapa nggak bangunin aku Mas."
"Yah nggak papa, kamu butuh istirahat lebih. kan bentar lagi jam dua kita ada kelas. Aku nggak mau kamu kecapean nanti." Ucap Rizki dan Melodi hanya tersenyum menanggapinya, ah dia bahkan sampai lupa jika mereka ada kelas siang ini.
"Ayo sarapan dulu, maksudnya sekalian makan siang. Mas udah pesankan dari tadi." Ucap Rizki lagi sambil terkekeh sendiri.
Kemudian mereka makan tanpa mandi terlebih dahulu, karena sama-sama merasakan lapar yang sama.
"Yang." Panggil Rizki di tengah sesi makan mereka..
__ADS_1
"Kenapa Mas?" Tanya Melodi dan setelah itu dia kembali memasukan makanan di mulutnya.
"Pendapat kamu tentang aktifitas kita semalam gimana?" Tanya Rizki membuat Melodi yang sedang makan jadi terbatuk batuk dan tersedak makanan yang dia makan.
"Pelan-pelan sayang, minum dulu." Ucap Rizki sambil memberikan air putih pada Melodi dan langsung di terimanya.
"Kamu sih Mas, pertanyaannya aneh-aneh saja." Protes Melodi saat dia selesai meminum Air yang di berikan Rizki padanya..
"Apanya yang aneh? Orang cuman nanya doang." Ucap Rizki tanpa dosa membuat Melodi ingin sekali menggetok kepala pria itu dengan sendok yang ada di tangannya saja.
"Untung suami, kalau masih jadi sahabat. Habis kamu ki aku ulek ulek, biar halus kaya cabe giling sekalian." Batin Melodi sambil menatap jengkel ke arah Rizki.
"Tau ah, kenyang aku dengar pertanyaan konyol kamu Mas." Ucap Melodi dan langsung beranjak dengan langkah pelan ke kamar mandi.
Rizki yang melihat langkah pelan dan aneh Melodi, jadi meringis melihatnya. Merasa bersalah karena ulahnya. Tapi dia salut dengan Melodi, karena istrinya itu tak mengeluh apapun tentang hal itu padanya.
"Kamu nggak papa sayang." Tanya Rizki pada akhirnya, merasa bersalah sudah pasti.
"Menurut kamu gimana." Ucap Melodi berbalik sekilas menjawab pertanyaan suaminya namun dengan pertanyaan balik.
Mendengar itu, Rizki hanya menggaruk kepalanya saja, padahal tak ada gatal sedikitpun di sana.
"Maaf." Ucap Rizki, padahal tak ada niatan menyakiti sang istri sedikitpun.
"Nggak papa Mas, serius banget itu muka." Ucap Melodi sedikit terkekeh geli, melihat raut wajah bersalah Rizki padanya.
"Kalau gitu, pulang kampus boleh lagi yah. Atau sekarang saja kalau gitu, mumpung udah sama-sama ke isi lagi tenaganya nih?" Ucap Rizki dan langsung membuat Melodi menggelengkan kepalanya, kemudian dia langsung bergegas masuk kamar mandi. Jika tidak sudah di pastikan dia tidak bisa menolak permintaan suaminya itu.
__ADS_1
"Gemes." Ucap Rizki saat melihat tingkah Melodi.