Di Paksa Menikahi Teman Baikku

Di Paksa Menikahi Teman Baikku
Positif


__ADS_3

"Hamil, aku hamil sayang." Ucap Sarah dengan mengusap perut ratanya saat mendengar penuturan dokter yang kesekian kali. Padahal dokter itu sudah pamit pulang.


Sungguh Mereka tak bisa menggambarkan bagaimana perasaan mereka sekarang sakin bahagianya mendengar kabar yang sudah sangat di tunggu-tunggu beberapa bulan ini.


Setelah menikah setiap bulannya Sarah selalu memakai alat pengecek kehamilan sakin tak sabarnya dia menginginkan bayi yang hadir dalam perutnya. Namun selama tiga bulan terakhir selama pengecekan dia selalu kecewa dengan hasil negatif yang dia terima, dan akhirnya dia memutuskan untuk tak lagi mengecek satu bulan terakhir ini karena takut jika akan kecewa lagi dengan hal yang sama.


"Semoga saja dokter itu benar sayang, apa kau mau mencobanya lagi. Setelah itu baru kita ke dokter kandungan." Saran Anzas, mengingat alat penyediaan yang dia beli cukup banyak karena Sarah yang memintanya menyetok itu setelah mereka menikah.


Sarah mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dengan penuturan suaminya itu.


Sekilas Anzas mencium bibir Sarah, baru setelahnya pria itu dia mengangkat tubuh sang istri menuju kamar mandi untuk melakukan yang mereka inginkan.


"Kenapa masih di sini sayang." Tanya Sarah menatap Anzas yang nampak tak beranjak dari tempatnya setelah menurunkan dirinya.


"Aku mau melihat kamu melakukannya, ayo cepatlah aku udah nggak sabar tau dengan hasilnya." Anzas mengatakan itu dengan langsung menarik turun celana yang di pakai Sarah membuat wanita itu kaget seketika dengan perlakuan suaminya itu.


"Apa kamu akan melihat proses aku mengeluarkan itu juga." Ucap Sarah tak habis pikir dengan tingkah sang suami.


Biasanya Anzas tak pernah mengikutinya mengecek, dia akan menunggu hasilnya saja ketika dia memberitahu. Dan sekarang apa?.


"Humm, lakukanlah. Sayang, semakin kamu bicara. Semakin lama pula kita lama mengetahuinya. Aku udah nggak sabar sayang, ih." Gemes Anzas sambil mengangkat pelan Sarah di tempat yang semestinya. Dia bahkan dengan sigap mengambil wadah penampung untuk cairan yang akan mereke uji itu.


Sarah hanya bengong melihat tingkah sang suami, sampai sampai wajahnya terlihat sangat memerah dengan tingkah pria itu.


"Aku malu sayang, biar aku saja yang melakukannya." Ucap Sarah namun tak di indahkan Anzas.


pria itu tetap saja menaruh tangannya di tempat yang semestinya.


"Nah beres kan." Ucap Anzas setelah mendapatkan yang dia nanti.


"Kamu ini sayang aku setiap saat melihatnya bahkan merasakannya, kenapa masih malu saja." Lanjut Anzas lagi sambil mengusap kepala Sarah yang sedang bebersih.

__ADS_1


"Tapi kan nggak harus saat kaya tadi juga kali, itu memalukan tahu." Protes Sarah sambil memakai kembali bawahannya yang tadi di lepas Anzas.


"Hehehe, supaya seimbang sayang. Kamu juga sering kan lihat aku pas lagi kaya gitu, aku nggak malu." Kekeh Anzas mendengar sungutan Sarah.


"Kan aku nggak minta lihat, kamu sendiri saja yang seenaknya masuk dan melakukannya saat aku sedang mandi." Kesal Sarah, kenapa dalam keadaan genting malah Anzas membuatnya malu.


"Sudahlah jangan bahas itu lagi, sekarang ini bagaimana selanjutnya.." Tanya Anzas yang tak tahu mau di apakan cairan di gelas kecil yang dia tahan itu.


"Biar aku saja." Sarah pun langsung membuka alat tes kehamilan itu dan menaruh kan tiga alat sekaligus untuk meyakinkan mereka.


Setelah meletakan itu Sarah langsung berbalik memeluk Anzas..


"Kamu saja yang nanti lihatnya, aku takut nggak sesuai lagi lagi." Pinta Sarah takut jika dia melihat hasil yang sama lagi.


"Yakin sayang, dokter nggak mungkin salah." Ucap Anzas sambil mengusap rambut Sarah namun matanya masih tertuju pada alat yang mulai bekerja itu.


"Semoga." Kata Sarah dan memeluk erat Anzas dengan perasaan cukup degdegan dengan yang akan dia ketahui nanti.


Hingga beberapa saat Anzas tiba tiba mengembangkan senyumnya, saat melihat tanda yang selalu Sarah inginkan.


Tanpa kata Sarah langsung menangis tersedu. Wanita itu tak henti-hentinya mengusap perutnya dengan tangis yang ikut sejalan.


"Kenapa menangis, kamu nggak senang." Tanya Anzas bingung dengan sikap Sarah yang sama dengan waktu dia mendapatkan hasil negatif sebelum-sebelumnya.


"Mana ada, ini yang aku nantikan. Ah terimakasih sayang sudah hadir di perut Momy." Ucap Sarah dengan tersenyum sambil mengusap perutnya namun air matanya tak mau berhenti dan Anzas yang sama bahagianya dengan sang Istri langsung berjongkok dan mencium perut Sarah.


"Baik baik yah di sana, terima kasih sayang." Ucap Anzas dan beralih memeluk sang istri...


"Sayang, aku mau cium perutku juga." Ucap Sarah seketika membuat Anzas melepas pelukannya.


"Aku pengen juga nyium nya kaya kamu tadi sayang." Lanjut Sarah lagi ketika Anzas menatapnya bingung.

__ADS_1


"Caranya gimana, jangan aneh-aneh." Kata Anzas membuat Sarah cemberut.


"Tapi aku pengen yang." Ucap Sarah membuat Anzas memijit keningnya pusing.


Anzas langsung berinisiatif membuka bajunya dan meminta Sarah untuk mencium perutnya.


"Cium perutku saja yang, soalnya kalau kamu minta cium perut kamu sendiri itu mustahil. Jadi perut aku saja yang mewakilkan."


"Nggak bisa gitu, aku mau perut aku sendiri." Kekeh Sarah tak mau di bantah.


"Oh astaga, apa ini." Tanpa pikir panjang Anzas langsung mencium perut Sarah kemudian dia beralih mencium bibir wanita itu.


"Nah begini lebih baik." Ucap Sarah dan membuat Anzas melotot menatapnya.


"Mukanya biasa saja sayang, yuk ke rumah sakit." Ucap Sarah dan dia langsung beranjak untuk bersiap-siap.


"Se simpel itu." Batin Anzas melihat Sarah tak habis pikir.


Setelah itu mereka pun memutuskan pergi mengecek lagi ke dokter untuk lebih memastikan sesuai saran dokter yang memeriksa Sarah tadi, sekaligus memeriksa keadaan Sarah, mengingat dia yang pernah keguguran sebelumnya.


****


"Sayang, kamu senang." Tanya Anzas saat kini mereka sudah kembali ke rumah mereka setelah tadi habis dari dokter kandungan.


"Tentu sayang, hah aku bisa istirahat akhirnya. Terima kasih ya sayang, baru hadir udah bisa mengurangi tugas Momy." Ucap Sarah sedikit menahan tawanya melirik Anzas yang cemberut.


Pasalnya Dokter mengatakan jika mereka harus mengurangi aktifitas ranjang mereka demi sang bayi, sebab kandungan Sarah yang cukup rentang. Apalagi Anzas tak pernah meliburkan satu malam pun untuk Sarah tak bertugas.


Sudah menjadi kebiasaannya, setelah mereka menikah dan hal itu sungguh membuatnya stres sekali mendengar saran Dokter tadi.


"Yang, kalau aku nggak bisa gimana." Rengek Anzas.

__ADS_1


"Harus di bisa bisain yang." Ucap Sarah dengan puasnya, akhirnya dia punya alasan juga untuk mengistirahatkan dirinya dari pria aktif di sebelahnya itu.


"Ah kamu belum apa-apa udah ajak musuhan Dady nak." Ucap Anzas sambil menatap perut Sarah sambil membayangkan nasibnya ke depan.


__ADS_2