
Selepas meninggalkan Melodi karena tak sanggup melihat gadis yang begitu dia cintai terduduk lemas menangisi suaminya.
Gerald pun memutuskan untuk duduk sebentar di lorong yang bersebelahan dengan lorong Melodi dan yang lainnya.
"Lo harus sembuh Ki, Melodi begitu rapuh saat ini. Dia sungguh menyayangimu. Dia begitu terlihat lemah tanpa kamu Ki." Lirih Gerald sambil menghapus air matanya sakin sedihnya melihat kedua orang yang penting dalam hidupnya dalam keadaan terpuruk seperti saat ini.
Tanpa pikir panjang, Gerald langsung menuju ruangan dimana tempat pendaftaran penerimaan donor bagi Rizki.
Dia memutuskan untuk mendonorkan jantungnya untuk sahabatnya itu demi Melodi, dia tak mau wanita yang dia cintai itu akan kehilangan kebahagiaannya jika Rizki tak segera di tolong sesegera mungkin.
Namun sesampainya di tempat itu dia bertemu dengan sosok yang dia kenali baru saja keluar dari ruangan tersebut. Ruangan yang ingin dia kunjungi itu.
"Raja." Panggil Gerald membuat Raja yang sedang di dorong Sang Mama dengan kursi rodanya jadi beralih menatap ke arah Gerald, orang yang memanggil namanya itu.
"Hay, Gerald kan?" Tanya Raja dengan senyum Tampannya.
"Iya, Lo sakit?" Tanya Gerald saat melihat Raja sahabat Melodi itu yang terduduk di kursi roda dengan wajah pucat nya, namun masih bisa tersenyum saat menyambut sapaannya.
"Nak Gerald, duduk dulu yuk." Ucap Mama Ami, mamanya Raja mengajak Gerald duduk di kursi depan ruangan tersebut.
"Baik tante, Raja sebenarnya kenapa?" Tanya Gerald penasaran dengan kondisi pria di hadapannya itu. Karena terakhir ketemu Raja masih baik-baik saja sebelumnya.
"Aku nggak papa, hanya kecelakaan kecil waktu naik gunung sebulan lalu." Ucap Raja dengan senyumnya yang tak pernah lepas dari wajahnya.
"Permisi." Ucap seorang suster menginterupsi obrolan mereka.
"Iya, apa sudah bisa di mulai?" Tanya Raja pada suster itu.
"Iya Tuan, pasien sudah tidak bisa menunggu lagi. Keadaannya sudah tak memungkinkan. Apa anda sudah siap?" Jelas Sang Suster.
"Sudah Sus." Ucap Yakin Raja membuat sang Mama menggelengkan kepalanya tak percaya dengan keputusan sang Anak.
"Raja, apa kamu yakin nak?" Tanya Mama Ami untuk kesekian kalinya pada sang putra satu-satunya itu.
__ADS_1
"Yakin Mah, Rizki lebih membutuhkan ini di banding aku. Dan lagi aku nggak bisa lihat orang yang aku sayangi kehilangan orang yang di cintai nya Ma, aku nggak bisa melihat Melodi se rapuh tadi." Ucap Raja
Tadi dia dan sang Mama saat sampai di rumah sakit untuk pemeriksaan rutinnya, tak sengaja melihat Melodi yang nampak rapuh di dekapan Gerald, bahkan cukup lama mereka melihat semuanya. Mulai dari Rizki datang hingga sampai Dokter mengatakan jika Rizki perlu donor jantung secepatnya.
Raja pun langsung berinisiatif memutuskan untuk mendonorkan jantungnya untuk suami dari Cinta pertamanya itu.
Pria itu memutuskan itu, bukan tanpa alasan.
Kecelakaannya sebulan lalu mengakibatkan kedua kakinya nampak makin-hari makin tak berfungsi. Hingga sampai Dokter mengatakan jika dia harus segera melakukan operasi mengamputasi kedua kakinya agar tak menyerang bagian organ tubuh lainnya, namun karena dia tak mau akan hal itu mengakibatkan kakinya itu makin hari makin fatal.
"Lo mau jadi pendonor Rizki Ja? Apa lo yakin?" Tanya Gerald yang terkejut mendengar penuturan Raja untuk Mamanya itu. Dia bahkan melihat pantulan dirinya di diri Raja, mereka sama-sama mencintai orang yang sama. Namun tak bisa apa-apa karena wanita yang mereka cintai sudah di miliki oleh orang yang juga mencintainya tulus dan di cintai balik begitu besarnya oleh Melodi sendiri.
"Hehehe, nggak perlu serius gitu mukanya Ger. Ini bentuk pengorbanan cintaku untuk Melodi. Kamu tahu mencintai tanpa bisa memiliki itu sangat sulit Ger, setidaknya jika jantungku ada bersama Rizki maka aku akan terus bersama juga dengan Melodi. Percuma juga aku hidup jika aku tak merasakan kebahagiaan. Dan lagi kondisiku sudah tak memungkinkan untuk aku bertahan lebih lama lagi. Itu sebabnya aku nggak mau menyianyiakan organ ku jika memang ada yang lebih membutuhkan." Tutur Raja dengan mengulas senyumnya.
Sungguh, Gerald begitu salut akan rasa cintanya Pria itu pada Melodi. Dia jadi merasa cintanya untuk Melodi tak ada apa-apanya di banding pria ini.
"Hanya satu permintaanku Ger, aku titip Mamaku. Beliau seorang diri, aku juga tak mau menyusahkan beliau dengan ketidak berdayaanku saat ini yang nanti ujung-ujungnya akan meninggalkan beliau juga." Ucap Raja sambil mengusap wajah sang Mama yang nampak menunduk dalam tangisannya.
"Mama mau aku bahagia kan?" Tanya Raja dan Mamanya langsung menganggukkan kepalanya.
"Kebahagiaanku ketika melihat Melodi tersenyum lagi Ma, Mama tahu kan bagaimana aku mencintai Melodi bukan. Hanya dengan cara seperti ini aku bisa dekat dengannya Ma." Lirih Raja.
Mama Ami langsung memeluk sang Putra dengan eratnya. Mencoba menerima keputusan putra satu-satunya itu.
"Baiklah nak, jika itu membuatmu bahagia. Mama ikhlas sayang." Ucap Mama Ami.
"Semoga dengan ini kamu nggak sakit lagi nak, Mama sakit jika melihatmu sakit nak." Batin Mama Ami mengingat sebulan terakhir ini sang anak yang nampak tak bergairah hidup saat mendapatkan kenyataan jika kedua kakinya hampir tak berfungsi lagi hari-demi hari.
Usai mereka berbincang, Raja pun di bawah oleh Suster tersebut. Sementara Gerald dia menemani Mama Raja sesuai dengan permintaan Raja bahwa mereka tak boleh memberitahu Melodi dulu sampai benar-benar operasi yang di lakukan selesai.
***
"Tidak, tidak mungkin." Ucap Melodi sambil menggelengkan kepalanya menatap wajah pucat sang pendonor.
__ADS_1
"Nggak mungkin kamu Ja, apa yang kamu lakukan." Ucap Melodi lagi saat melihat brankar Raja sahabatnya itu berlalu di hadapannya.
Dia tak menyangka orang yang mendonorkan jantung untuk suaminya itu adalah Raja Sahabatnya.
"Dok, pasien pendonor mengalami kejang." Ucap Suster yang di dengar nyata oleh Melodi.
Dengan segera Melodi langsung berlari mengikuti brankar Raja yang mulai hilang di balik pintu.
"Sayang." Panggil Mama Raja menghentikan langkah Melodi.
"Mama." Ucap Melodi langsung beralih memeluk Mama sahabatnya itu.
"Kenapa Raja melakukan ini Mah, kenapa Mama nggak mencegah dia Mah." Tangis Melodi.
Sungguh kejadian hari ini sangat menguras emosinya. Hingga tak tahu sudah berapa banyak air mata yang dia keluarkan seharian ini.
"Mama nggak bisa melawan apa yang membuat anak Mama bahagia sayang." Bacalah surat itu nak, kamu pasti tahu jawabannya.
Dengan perlahan Melodi pun membuka surat yang sedari tadi ada di tangannya itu.
DEAR ...Melodi.
Sayang.
Boleh nggak aku memanggilmu sayang Mel?Toh saat kamu membaca ini pun aku telah tiada. Jangan marah yah✌️☺️. Melodi, maaf yah aku telah menghianati persahabatan kita. Pasalnya sahabatmu ini sudah lancang jatuh cinta padamu, aku jatuh cinta padamu Mel. Kamu mau tahu sejak kapan? mau aja yah jawab gitu pokonya😁. Aku jatuh cinta saat kita baru pertama bertemu Mel, saat hari pertama ospek sekolah menengah atas kita. Jangan tertawa yah, karena ini benar adanya. Tapi saat kita bertemu kembali setelah sekian lama berpisah karena kamu yang memutuskan kuliah di lain kota, kamu tahu ternyata rasa itu masih sama namun sayang aku terlambat mengutarakannya karena kamu kini sudah dimiliki yang lain. Aku ingin bercerita banyak lagi Mel, tapi kayanya nggak mungkin. Dokter sudah harus memulai operasinya. Intinya biarkan aku mencintaimu dengan caraku, aku ingin selalu ada dekat denganmu. Biarkan jantungku, separuh ku ada bersama orang yang kau cintai. Maka dengan begitu aku merasa kau juga mencintaiku. Maaf sedikit memaksa😁. I Love u Melodi.
^^^RAJA^^^
Usai membaca surat dari Raja itu, Melodi mendapat kabar jika sahabatnya itu sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
"Maafkan aku dan terima kasih sudah mencintaiku setulus ini Ja." Lirih Melodi sambil mencium surat yang dia baca tadi dengan air mata tulus untuk sang sahabat.
(Tentang Raja ada di Bab 40 Sahabat Melodi buat yang udah lupa)
__ADS_1