Di Paksa Menikahi Teman Baikku

Di Paksa Menikahi Teman Baikku
Kejutan Untuk Larissa


__ADS_3

Saat sedang asik dengan menyaksikan dua orang beda usia itu yang sedang asik membuat dosa, tiba-tiba saja Bima mendapatkan panggilan di telfonnya oleh orang yang memang dia sedang tunggu sejak tadi karena sudah muak dengan pemandangan di hadapannya ini.


"Bagaimana?" Tanya Bima to the poin sakin tak sabarnya menuju menu utama dari permainan hari ini.


"Beliau sudah bersama saya di depan apartemen anda Bos." Ucap sang orang suruhan di seberang sana setelah mendengar pertanyaannya.


"Masuk, akan ku kirim kodenya." Ucap Bima sambil memutuskan panggilan mereka.


"Permainan sesungguhnya akan di mulai Rissa." Gumam Bima setelah itu dia keluar diam-diam dari kamar itu saat keduanya tak melihat ke arahnya karena sedang asik dengan permainan mereka, yang entah mereka yang memang tak punya malu atau memang melakukan itu karena takut dengan ancaman darinya. Tapi sepertinya tidak, mereka memang tak punya malu karena terbukti menikmati permainan itu sampai tak menyadari Bima yang melangkah keluar.


Bima pun langsung berjalan menuju dapur untuk membebaskan orang yang dia undang bisa menyelesaikan semuanya semau orang itu nantinya.


Tak berselang lama, Bima mendengar sayup-sayup langkah kaki menuju kamar dua pasangan perzinaan itu.


"Kejutan sesungguhnya untukmu Rissa, selamat menikmati." Ucap Bima dari ruang makan, di mana dia bisa melihat perempuan seumuran Maminya yang nampak anggun dan berkelas namun terlihat jelas amarah di wajahnya yang masih begitu terlihat cantik itu masuk sempurna di kamar dimana sang suami sedang menggarap habis Larissa partner ranjangnya kala di luar rumahnya itu.


Setelah itu terdengarlah teriakan keras dari wanita itu sebagai tanda keterkejutannya melihat nyata sang suami sedang asiknya menikmati tubuh wanita muda yang mungkin saja seumuran dengan anaknya sendiri. Menjijikan mungkin satu kata yang ada di benak wanita itu untuk suaminya saat ini.


"Papiiiii!!!!!!!!!! Teriak keras dan lantang Istri Tuan Bagaskara dengan amarahnya.


Bima pun langsung melangkah maju menuju pintu itu hanya untuk sekedar menikmati pemandangan yang begitu seru di dalam sana tanpa mau terlibat.


"Brengsek, bajingan kamu Pi." Ucap Bu Bagaskara sambil memukul membabi buta suaminya dengan amarah yang mungkin saja tak sanggup iya kontrol sakin kecewa dirinya terhadap sang suami.


Siapapun yang mungkin berada di posisi istri Tuan Bagaskara tentu pasti akan melakukan hal yang sama. Bagaimana tidak, jika orang yang begitu mereka cintai, percayai berbuat hina di belakangnya selama ini dan kini bisa melihat langsung secara nyata di depan wajahnya sendiri. Sudah pasti marah, kecewa, mungkin kedua kalimat itu yang akan mereka rasakan.

__ADS_1


Sementara itu Larissa kini terlihat sibuk menutupi Tubuhnya dengan selimut dengan raut ketakutan terlihat jelas di wajahnya.


"Ampun Mi, maafkan Papi." Hanya itu yang bisa di ucap oleh Tuan Bagaskara dengan pasrah menerima amukan sang istri yang dengan berderai air mata memukul dirinya.


Setelah puas dengan suaminya itu Bu Bagaskara pun langsung beralih menatap nyalang Larissa yang sedang tertunduk takut.


Dengan cepat wanita yang terkenal lembut di masyarakat itu pun menghapus air matanya dan bergerak cepat menuju Larissa dan menarik paksa selimut yang menutup tubuhnya.


"Tak perlu kau tutupi tubuh kotor mu itu wanita sialan." Teriak Bu Bagaskara keras sambil menarik dan menjambak rambut Larissa.


"Maafkan saya bu." Ucap Lirih Larissa yang kesakitan di perlakukan seperti itu.


"Maaf katamu haaaah, wanita murahan. Apa kau tak bisa bermain dengan pria se usiamu. Kenapa harus suamiku haah. Dia bahkan lebih cocok kau anggap ayahmu sialan." Ucap Bu Bagaskara bertepatan dengan terlepasnya selimut yang menutupi tubuh polos Larissa.


"Mami." Lirih Tuan Bagaskara tak tega melihat Larissa di perlakukan seperti itu oleh sang istri, setelah terlebih dahulu dirinya memakai celana pendeknya.


"Bu bu bu bukan seperti itu Mi....." Ucap terbata Tuan Bagaskara karena mendapat tatapan seperti itu dari sang istri.


"Lalu seperti apa, apa seperti ini?" Kata Bu Bagaskara sambil menarik rambut dan menampar keras pipi kiri kanan Larissa berulang kali, membuat sang suami diam tak berkutik lagi.


"Ampun Bu, maafkan saya Ahhhh. Ahhh Maafkan saya Bu." Ucap Larissa penuh permohonan dengan menahan sakit yang dia rasa. Mencoba melepas tangan istri tuan bagaskara pun dia tak bertenaga, karena wanita itu kini sedang menduduki tubuhnya.


Kini hanya teriakan sakit Larissa yang menggema memenuhi ruangan kamar itu, yang bisa membengkak kan telinga siapa saja yang mendengarnya.


Sungguh jika tak memikirkan dan melihat perbuatan Larissa sebelumnya, mungkin saja Bima yang mendengar itu akan murka dan menghabisi orang yang telah membuat hal itu pada Larissa. Namun kini yang dia rasakan adalah kepuasan, kepuasan melihat wanita menjijikan itu mendapat apa yang dia perbuat sebelumnya.

__ADS_1


Setelah itu barulah Bima melangkah kakinya keluar dari apartemen itu, dalam keadaan puas yang terlihat jelas dari wajahnya. Meninggalkan Larissa, lebih tepatnya menyerahkan Larissa di tangan istri Tuan Bagaskara pria yang sudah memakai jasa tubuhnya berulang kali itu.


"Terima kasih Ade." Batin Bima sambil mengingat Melodi adiknya.


Mungkin jika Melodi tak mengatakan untuk mencari tahu tentang Larissa, Bima pasti akan terus di bodohi oleh wanita itu mungkin.


Terbukti jika dia bahkan menerima saja saat wanita itu tak suci lagi, dengan alasan pernah berbuat salah waktu sekolah dulu. Bima pun memakluminya, karena dia pun bukan orang yang suci. Dan dia tak akan menghardik masa lalu orang lain..


Saat melangkah keluar gedung apartemen, Bima langsung dia sambut gelapnya malam yang itu tandanya dia kini harus cepat mengendarai mobilnya menuju rumah sang adik karena dia tak mau melewati makan malam bersama keluarga besarnya.


Sepanjang perjalanan Bima tak surut menerbitkan senyumnya mengingat kejadian tadi. Walau tak dia pungkiri jika ada sedikit rasa iba untuk wanita itu, dan dia berharap Larissa dapat mengambil pelajaran dari kejadian hari ini.


Larissa wanita yang baik selama hampir dua bulan ini dia dekat dengannya, tak ada kekurangan yang dia dapat dari Larissa saat bersama. Bahkan dia tak pungkiri wanita itu dengan lihainya bisa membuat dirinya begitu cepat merasakan cinta dengan sikap baik Larissa pada dirinya.


Tapi siapa sangka, Larissa sendiri pula yang juga merenggut dan menghapus kembali rasa itu dari hatinya.


"Ah, apa aku memang tak berhak mendapatkan ketulusan dari gadis manapun." Batin Bima sambil menatap lurus ke depan, mengingat kisa percintaannya yang selalu berakhir dengan penghianatan.


Kini dia bagaikan pria yang tak percaya lagi dengan yang namanya hubungan, mungkin dia akan sulit untuk mempercayai wanita lagi mulai detik ini.


Sendiri, mungkin ini yang akan dia pilih untuk kedepannya.


Tapi entahlah, Permainan Tuhan siapa bisa tebak. Kita bisa merencanakan, memutuskan sesuka kita. Tapi jangan lupa Peran Tuhan tak bisa di ganggu gugat.


...Komennya jangan lupa yah, Author butuh pendapat kalian tentang Bab ini buat Up selanjutnya....

__ADS_1


...Like,Gift, vote & fav sebagai bonus buat Author tetap Semangat😁...


__ADS_2