
Setelah usai makan tadi Melodi dan Rizki langsung bergegas menuju toko kue yang direkomendasikan Melodi.
"Mas, mau yang mana? atau Ibu sama ayah juga kakek sukanya kue apa?" Tanya Melodi ketika mereka sedang melihat-lihat kue kering hingga kue yang basah.
"Aku nggak tahu, semuanya mereka makan soalnya. Yang kamu rekomendasi aja sayang." Ucap Rizki karena memang dia tak terlalu memperhatikan hal sedetail itu dari kedua orang tuanya. Yang dia tahu Ibunya selalu menyediakan banyak jenis kue, jadi menurutnya kue apapun pasti di sukai mereka.
"Ya udah, ini sama ini yah ini juga dan ini. Enak soalnya aku suka." Ucap Melodi memilih kue kesukaannya, dan pasti gadis itu yakin mertuanya pasti suka juga. Semoga.
"Iya sayang." Ucap Rizki.
Setelah usai membeli kue, tiba-tiba Melodi mengingat tentang satu hal. Lalu dirinya langsung memberitahukan Pada Rizki yang sedang mengemudi.
"Mas, kita ke tokoh bunga yuk. Aku mau beli bunga sama bibit-bibit buah di sana, siapa tahu Ibu nanti suka." Jelas Melodi sambil membayangkan bunga yang akan di belinya.
"Tapi Mas, Ibu suka bunga tidak?" Melodi bertanya lagi hanya untuk memastikan saja, karena dia memang belum begitu dekat dengan ibu Rizki.
"Suka sayang, entar kamu lihat aja di rumah. Ibu punya taman bunga di belakang rumah, bahkan dia sendiri yang merawatnya." Ucap Rizki.
"Oh yah, asik dong. Jadi nggak sabar pulang." Ucap Melodi membuat hati Rizki menghangat.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, kini mereka telah tiba di tokoh bunga yang Melodi sarankan. Dia pernah melihat di sosial media tentang tokoh ini, jadi gadis itu memutuskan untuk ke tokoh ini saja.
Sesampainya di dalam tokoh, Melodi begitu antusias. Bahkan gadis itu sampai bingung sendiri, karena banyak sekali bunga yang menarik perhatiannya.
"Pak, bisa di antar ke kota lain nggak bunganya?" Tanya Melodi, karena dia berpikir akan membeli banyak bunga yang sudah mencuri perhatiannya.
"Bisa Kak, tinggal kita bicarakan saja." Ucap penjaga tokoh.
"Mas, beli banyak nggak papa. Biar di sana aku ada aktifitas buat bantuin ibu nanam bunga, aku takut di sana nanti canggung kalau nggak ngapa-ngapain." Ucap Melodi membuat Rizki paham, ah istrinya itu ternyata masih belum terbiasa ternyata.
"Boleh sayang, dan kenapa mesti canggung. Ibu nggak bakal makan kamu, waktu di rumah sakit gimana ibu baik kan?" Tanya Rizki sambil mengacak rambut Melodi.
"Baik sih, baik banget. Tapi untuk menjaga-jaga aja." Ucap Melodi dan Rizki hanya tersenyum saja menanggapi istrinya itu .
__ADS_1
Kini mereka pun kembali ke apartemen setelah usai dengan oleh-oleh untuk pulang besok.
"Sayang, ponsel kamu bunyi terus itu." Ucap Rizki pada Melodi yang berada di dalam kamar mandi, pria itu tak mau lagi menyentuh ponsel Melodi karena takut istrinya akan marah seperti waktu itu.
"Siapa yang telfon Mas." Tanya Melodi ketika dirinya baru saja keluar kamar mandi, setelah pulang tadi Melodi memutuskan untuk membersihkan dirinya karena aktifitasnya seharian membuat dia tak nyaman.
"Nggak tahu aku nggak lihat, kan kamu larang aku buat pegang ponsel kamu. Kamu lupa?" Ucapan Rizki membuat Melodi merasa disindir pria itu, tapi biar begitu dia tak mau terlalu ambil pusing soal hal itu. Namun kenyataan yang di ucap Rizki berbeda, karena sebenarnya pria itu sudah melihat siapa penelpon itu dan lebih memilih menghiraukan saja ponsel Melodi.
Tanpa menjawab ucapan Rizki, gadis itu langsung berjalan menuju ponselnya yang tergeletak di atas meja samping ranjang bagiannya. Setelah melihat ponselnya Melodi langsung bergegas untuk berganti pakaian, namun kali ini dia lebih memilih berpakaian di kamar saja walau dia tahu Rizki berada di sana juga.
Rizki yang melihat Melodi berganti pakaian di hadapannya pun mengernyitkan keningnya bingung, namun begitu dia lebih memilih memfokuskan dirinya pada laptop yang sedang berada di pangkuannya. Berpura-pura tak tahu tentang keadaan saja, tapi di lubuk hati terdalamnya dia merasa bahagia karena Melodi sudah mulai tak merasa malu terhadapnya lagi. Dan itu suatu kemajuan yang baik menurutnya.
"Mas, aku pergi sebentar yah. Nggak lama kok." Ucap Melodi setelah usai dengan dandanan naturalnya.
Rizki yang mendengar permintaan izin istrinya itu hanya menganggukkan kepalanya saja dan mengiyakan tanpa mau bertanya pada gadis itu kemana dia akan pergi. Karena Rizki sudah tahu jawabannya itu. Dia hanya mau melihat, apakah istrinya itu akan memberi tahu dia mau kemana atau tidak. Itu saja.
"Iya sayang." Ucap Rizki tanpa menatap Melodi.
"Maaf Mas aku nggak bilang mau ke apartemen Anzas, karena aku nggak mau mood kamu nggak baik lagi nantinya." Batin Melodi sambil melangkah keluar.
"Iya." Jawab Rizki sambil mengangkat wajahnya menatap Melodi.
Dengan wajah penuh beban Melodi berjalan keluar apartemen mereka. Gadis itu menarik nafasnya panjang sebelum akhirnya melangkah keluar gedung apartemen itu.
Sepanjang perjalanan gadis itu terus berbicara sendiri, entah apa yang dia bicarakan. Tapi sepertinya banyak sekali beban yang terlihat dari raut wajah gadis itu.
Tak langsung ke apartemen Anzas, Melodi kini tengah mampir di supermarket terdekat dengan apartemen Anzas. Dia membeli sesuatu yang di pesan Pria itu tadi ketika dirinya sedang makan dengan Rizki di restoran siang tadi.
Setelah usai membeli pesanan Anzas, gadis itu langsung menuju mobilnya yang terparkir. Kemudian langsung bergegas menuju Apartemen kekasihnya itu. Setelah sampai Parkiran apartemen itu dia langsung keluar mobil, namun lagi-lagi gadis itu menarik nafasnya panjang sebelum memutuskan untuk melangkah masuk gedung apartemen itu.
Tanpa Melodi sadari, sejak tadi ada seseorang yang mengikutinya mulai dari keluar apartemen, supermarket hingga sampai di parkiran ini.
"Sial." Ucap Orang yang mengikuti Melodi sejak tadi.
__ADS_1
"Kamu nggak jujur sama aku Mel." Ucap Rizki penuh amarah, Pria itu sampai melampiaskan amarahnya pada setir mobil yang tak tahu apa-apa itu.
Rizki memutuskan untuk mengikuti Melodi, karena masih berharap jika istrinya itu tak pergi ketempat yang dia pikirkan. Namun nyatanya apa yang dia pikirkan benar adanya.
"Baiklah." Ucap Rizki dan bergegas meninggalkan parkiran itu.
Sedangkan Melodi kini sedang berdiri tepat di depan pintu apartemen Anzas, lagi-lagi Melodi menghembuskan nafasnya setelah itu menghirupnya kembali. Setelah merasa tenang, Melodi langsung menekan bel apartemen itu. Walau sebenarnya dia tahu kode apartemen Anzas, tapi dia lebih memilih sang pemilik yang membukanya.
"Sayang, kenapa nggak masuk aja?" Ucap Anzas setelah membuka pintu dan menarik lengan Melodi untuk masuk.
"Maaf yah lama." Ucap Melodi tanpa menjawab ucapan Anzas.
"Nggak kok, mau bantuin aku nggak? Aku lagi masak sayang. Dan maaf yah, aku kira masak akan cepat selesai sebelum kamunya datang. Tapi malah nggak selesai-selesai." Ucap Anzas sambil memegang bahu Melodi dan membawanya menuju dapur mininya.
"Hehehe, siap deh. Lagian kamu kenapa nggak pesan aja si Be, pake acara masak segala " Ucap Melodi sambil tetap melangkah sesuai arahan Anzas.
"Pengen aja sayang." Ucap Anzas.
Mereka pun akhirnya memasak bersama, dan sepanjang memasak itu Melodi sedikit tak fokus kerena dirinya terus saja menatap wajah ceria Anzas.
"Haruskah aku tega nyakitin kamu Be!" Batin Melodi sambil sesekali mengusap cairan bening yang entah kenapa lolos begitu saja dari matanya.
"Sayang kenapa?" Tanya Anzas yang sadar jika Melodi sedang mengusap ujung matanya.
"Nggak Be, hanya perih kena itu bawang." Bohong Melodi.
"Ya udah kamu duduk aja sayang, biar aku yang lanjutin." Ucap Anzas dan Melodi langsung menurutinya, karena memang dirinya tak fokus untuk saat ini.
Dengan senyum yang terus terpancar dari wajah Anzas yang sesekali menatap Melodi, membuat hati gadis itu makin merasa bersalah.
"Kamu orang baik Be..." Batin Melodi menatap Anzas yang sedang sibuk dengan masakan yang seharusnya bukan tugas pria itu.
Buat semua pembaca author, aku doakan kalian sehat selalu di manapun kalian berada. Jaga kesehatan kalian, and stay safe yah.
__ADS_1