
"Sayang ayo kita makan yuk, kasihan bayi kamu di ajak tahan lapar gitu nak?" Ucap Mami Eka melihat sang putri yang sedang di bujuk menantunya karena tak mau memulai makannya.
"Mel sayang, ayo benar kata Mami. Kasihan bayi kita." Sambung Rizki.
"Tunggu dulu Mi, By. Abang lagi di perjalanan sebentar lagi pasti sampai." Ucap Melodi mengingat dua puluh menit yang lalu dia sudah menelpon sang Abang.
"Ya udah kalau gitu telfon lagi, siapa tahu Abang kamu nggak bisa datang lagi." Ucap Mami Eka.
"Nggak Abang pasti datang kok, Abang udah janji tadi. Tapi ponsel Bang Bima udah nggak bisa di hubungi lagi, tadi Melodi coba. Kan Melodi jadi khawatir sekarang Mi." Ucap Melodi yang entah mengapa dia begitu mengkhawatirkan sang Abang kini.
"Jangan mikir aneh-aneh sayang, mungkin saja baterai ponselnya Satria mati kan." Ucap Sang Mami yang berpikir jika putrinya kini sedang di landa kecemasan karena pengaruh hormon kehamilannya saja tanpa berpikir buruk soal keadaan putranya kini.
Karena Mami Eka tahu, putranya itu orang yang bisa menjaga dirinya sendiri. Jadi tak mungkin sesuatu terjadi padanya. Dirinya percaya itu.
"Itu pasti Bang Bima." Ucap Melodi tanpa menjawab perkataan sang Mami karena mendengar deru mobil di luar gerbang rumahnya.
"Syukurlah. Kalau gitu Mami tinggal ke belakang yah, mau bantuin Ibu kamu tata meja makannya." Ucap Sang Mami dan langsung di angguki Melodi.
Melodi pun langsung berdiri dari duduknya di kursi teras rumahnya itu untuk menyambut sang Abang.
Namun seketika senyumnya redup setelah melihat mobil siapa yang memasuki halaman rumahnya.
"Kalian sudah datang, ayo masuk." Ucap Rizki menyapa kedua sahabat mereka Saga dan Bima.
"Kenap tuh muka?" Tanya Gerald saat melihat wajah cemberut Melodi.
"Nggak seneng kita datang kali." Timpal Saga.
"Jangan nuduh istriku sembarangan. Aku kepret baru tahu loh." Ucap Rizki sengaja menghibur sang istri.
"Dih, kalian pada kenapa sih, Sag yuk pulang. Sepertinya kita tidak diterima baik di sini." Ucap Gerald sedikit bingung dengan tingkah kedua suami istri itu.
Melodi yang sadar dengan tingkahnya karena ucapan Gerald pun langsung merasa bersalah.
"Maafkan aku, aku nggak ada maksud kok jutek-in kalian, hanya saja entah kenapa mood aku kurang baik sekarang." Ucap Melodi jujur sekaligus tak enak hati dengan kedua sahabatnya yang sudah meluangkan waktu untuk berkunjung kerumahnya atas permintaannya pula.
"Sayang, kenapa mood kamu nggak bagus. Udah yah, jangan mikir yang macem-macem kasihan bayi kita nanti moodnya juga ikutan nggak bagus yang." Ucap Rizki sambil mengusap perut Melodi.
Sontak saja ucapannya itu langsung menarik perhatian Saga dan Gerald tentunya.
"Bayi?" Ucap Keduanya kompak setelah terlebih dahulu saling tatap.
Mendengar ucapan kompak kedua sahabatnya Melodi seketika saja di buat tersenyum, sungguh apa memang mood orang hamil seperti itu. Detik ini sedih, detik berikutnya bisa bahagia kembali. Sama halnya dengan Melodi kini.
"Iya Sag, Ger. Kalian berdua sebentar lagi bakalan jadi Om Om tahu. Ponakan kalian nih ada di perutku ini, mau coba pegang." Ucap Melodi langsung membuat ketiga pria di hadapan dan sampingnya itu kompak langsung menanggapinya.
"Om?" Ucap Saga terkejut, tak suka dengan panggilan om yang di sematkan Melodi untuknya.
__ADS_1
"Aku masih mudah yah, malah di Katai Om Om." Ucap Gerald sedang kan Rizki juga berkata kompak dengan yang lainnya namun beda topik tentunya.
"Enak Aja kamu yang nyuruh mereka main pegang perut kamu aja, nggak boleh." Ucap Rizki.
Mendengan ocehan bersamaan mereka Melodi dengan lemas kembali mendudukkan dirinya di Kursi sebelumnya. Namun tak betul-betul terduduk matanya langsung menangkap melihat mobil sang abang baru memasuki halaman rumahnya.
"Abang." Seru Melodi girang.
Dari dalam Mobil Bima di buat tersenyum saat mendengar teriakan heboh sang adik. Dirinya pun langsung bergegas turun setelah lebih dulu sudah memarkirkan baik mobil miliknya.
Dengan senyum mengembang Melodi langsung melangkah menghampiri sang Abang.
"Hati-hati sayang jalannya." Peringat Rizki saat melihat antusias sang istri saat menghampiri kakak iparnya itu.
"Iya dek, hati-hati." Timpal Bima.
"Bang, mobilnya kenapa?" Tanya Melodi ketika melihat mobil sang Abang bonyok di bagian bodi samping belakangnya yang terlihat jelas dari arah samping Melodi berdiri.
Seketika itu juga Rizki dan kawan-kawan pun ikut melihat ke arah tunjuk Melodi.
"Ah itu tadi ada kecelakaan kecil, tapi nggak masalah kok." Ucap Bima sambil merangkul pinggang Melodi dan membawanya masuk.
"Pantas Melodi cemas sejak tadi, tapi Abang nggak papa kan?" Tanya Melodi sambil melepas rangkulan sang Abang dan beralih melihat tubuh sang Abang, takut taku jika ada yang lecet pikirnya.
"Nggak sayang, Abang nggak papa ko. Itu cuman ke senggol biasa aja itu Mobil. Ayok, Abang lapar nih." Ucap Bima mencoba mengalihkan perhatian Melodi.
Bima yang melihat itu, dia hanya tersenyum. Bahagia melihat sikap perhatian Rizki terhadap adiknya itu. Dan dia berharap mereka akan seperti itu selamanya.
"Hey kalian, apa nggak lapar? Ngapain berdiri di situ doang?" Ucap Bima saat melihat Saga dan Gerald hanya diam mematung melihat tingkah mereka.
"Eh Bang Bima, ini mau masuk." Ucap Saga.
"Panggil Satria, jangan ikut-ikutan Melodi dan Rizki. Bima nama Bokap, aku nggak suka di sama-sama ini. Terkecuali tuh anak dua." Ucap Bima dan melangkah masuk meninggalkan mereka.
"Dih masa pakai pengecualian gitu, apa salahnya coba sama ratain aja panggilannya." sungut Gerald.
"Udah nggak usah protes, nama nama dia juga. Ngapain lo yang sewot." Ucap Saga dan melangkah masuk meninggalkan Gerald.
"Tunggu napa." Teriak Gerald dan langsung melangkah masuk menyusul semuanya.
"Satria, kata ade kamu. Kamu kecelakaan yah." Ucap Papi Darma saat Bima Bergabung duduk di meja makan dengan semuanya.
"Iya Pi, cuman nggak parah. Lecet mobil doang." Ucap Bima santai, karena memang itu adanya.
"Syukurlah." Ucap syukur sang Papi.
"Selamat malam semuanya." Ucap sopan Saga dan Gerald kemudian mereka menyalami semua orang tua di sana.
__ADS_1
"Duduk nak." Ucap Kakek Burhan masih mengingat jelas teman cucunya itu.
"Iya kek." Ucap Saga dan Gerald dan langsung mengambil tempat di sebelah Melodi dan Rizki.
"Ok, karena semuanya sudah berkumpul. Maka marilah kita makan, tapi sebelum itu kita doakan dulu kesehatan keselamatan untuk Ibu Hamil kita dan calon anaknya yaitu cucu kakek." Ucap Kakek Burhan.
Setelah itu mereka pun memanjatkan doa masing-masing yang mereka tujukan khusus untuk Melodi dan Bayi di perutnya, Barulah mereka memulai makan bersama itu.
****
"Sayang, kenapa?" Tanya Rizki ketika melihat Melodi yang tak nyaman dengan tidurnya di dalam pelukan dirinya kini.
Saat ini, Melodi dan Rizki sudah di kamarnya setelah sebelumnya tadi makan bersama, namun mereka lebih dulu masuk kamar meninggalkan semuanya yang masih bercengkrama di luar karena memang Melodi yang meminta sendiri dengan Alasan dirinya yang sudah sangat mengantuk.
"By." Panggil Melodi tanpa menjawab pertanyaan Rizki.
"Apa sayang?" Tanya Rizki sambil menatap Melodi yang sedang mendongak menatap dirinya.
"Em, itu anu.." Ucap Melodi ragu-ragu.
"Apa sayang, ngomong yang jelas yang?"
"Itu, aku aku pengen yang." Ucap Melodi dengan waja memerahnya.
"Pengen apa?".
"Pengen anu itu." Ucap Melodi tak berani mengutarakan maunya.
"Gemes aku yang, aku makan juga nih kamu kalau nggak ngomong ngomong." Gemas Rizki melihat tingkah aneh sang istri.
"Ah itu, boleh yang." Ucap Melodi sambil mengembangkan senyum hingga menampakkan deretan gigi cantiknya.
Rizki yang mendengan ucapan Melodi pun seketika tersenyum jahil, karena kini dia paham maksud sang istri.
"Mulai nakal yah kamu." Ucap Rizki menggigit kecil hidung Melodi sakin gemesnya
...Komennya jangan lupa yah, Author butuh pendapat kalian tentang Bab ini buat Up selanjutnya....
...Like,Gift, vote & fav sebagai bonus buat Author tetap Semangat😁...
Yuk mampir juga di cerita baru Author, tentang Kisah Bima yang Author pisah.
Judul : SATRIA (Satria Bima Kusuma). Author tunggu di sana yah, semoga berkenan☺️🤗
Baru sebab yang Author up, Besok lagi.
__ADS_1