Di Paksa Menikahi Teman Baikku

Di Paksa Menikahi Teman Baikku
Kisah Larissa 2


__ADS_3

"Ayahmu sudah menjual mu pada Om." Ucap Tuan Bagaskara bagaikan sambaran petir bagi Larissa.


"Tidak, Om pasti bohong." Ucap Larissa sambil menahan air matanya agar tak jatuh, karena tak sanggup mendengar ucapan Tuan Bagaskara.


"Om tak bohong padamu, lihat ini." Ucap Tuan Bagaskara mengeluarkan sebuah berkas dimana terdapat penjelasan tentang jual beli terhadap dirinya dengan tanda tangan lengkap sang Ayah yang ter bubuhi di sana.


Melihat dan membaca itu membuat Larissa seketika pecah dengan tangisannya, dia tak menyangka Ayahnya bisa setega itu padanya.


"Om boleh antar aku pulang sebentar, aku janji tak akan kabur darimu setelah melihat angka yang begitu besar sudah kau bayar untuk Ayah." Mohon Larissa pada Tuan Bagaskara berharap dia di izinkan untuk bertemu sang Ayah agar dia bisa berbicara berdua dengan Ayahnya itu.


Dia Akan ikhlas jika memang dengan ini dia bisa melunasi semua hutang sang Ayah, asalkan Ayahnya itu mau memberikan perhatian lebih untuknya.


Tuan Bagaskara yang mendengar permintaan bocah kecil itu hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu mereka bergegas ke rumah sang Ayah.


Namun naas, sesampainya di sana dia tak menemukan Sang Ayah. Karena sejak kepergiannya tadi sang Ayah juga pergi meninggalkan rumah mereka, yang ternyata sudah di jual sang Ayah juga.


Kini Hanya tangis yang bisa dia lakukan dengan diam, hingga Tuan Bagaskara menyadarkan dirinya jika dia tak perlu memikirkan Ayahnya lagi.


"Anggaplah aku sebagai Ayahmu sendiri Larissa, jangan bersedih lagi. Pria sepertinya tak perlu kau tangisi." Ucap Tuan Bagaskara ketika meraka telah kembali ke apartemen.


"Om?" Panggil Larissa saat dia sudah berhenti dari menangisi Ayahnya, oh tidak tepatnya menangisi jalan hidupnya sendiri.


"Yah?" Sahut Tuan Bagaskara sambil menduduki dirinya di sebelah Larissa.


"Apa tujuan Om membeli aku dari Ayah?" Tanya Larissa penasaran.


Diam sebentar seperti sedang berpikir, Tuan Bagaskara akhirnya bersuara memberi alasannya membeli Larissa.


"Aku m*****i mu untuk memuaskan na***** tapi aku tak tahu jika kau masih berumur lima belas tahun. Tapi bodi mu bagus, tak sesuai usiamu setelah bertemu tadi, jadi aku melanjutkan pembeliannya." Ucap Tuan Bagaskara jujur tak ada yang dia tutup-tutupi.


"Aku malas jika harus me****a wanita terus, dan lebih memilih m*m*e*i seseorang biar selalu ada di saat aku butuh." Lanjut Tuan Bagaskara lagi membuat Larissa menelan saliva nya berulang kali.

__ADS_1


Dia bukan anak kecil yang bodoh soal begituan, sebab di sekolahnya pun banyak temannya yang me****l t***h mereka hanya sekedar untuk mendapatkan ponsel keluaran terbaru. Itu sebabnya di tahu arah pembicaraan Tuan Bagaskara.


"Tapi Om, aku tak punya pengalaman soal begituan." Ucap Larissa sambil menunduk berharap Tuan Bagaskara tak akan menyentuhnya, karena dia benar-benar takut sekarang setelah mendengar penuturan pria seumuran Ayahnya itu.


"Aku akan mengajarimu." Ucap Tuan Bagaskara dan langsung mempraktekkannya saat itu juga hingga berakhir dengan tangisan gadis kecil yang sudah tak gadis lagi itu.


"Sudah jangan Menangis terus, kamu akan terbiasa." Ucap Tuan Bagaskara sambil membawa tubuh polos Larissa dalam dekapannya.


"Apa aku masih bisa melanjutkan sekolah Om?" Tanya Larissa dengan sesegukkan, dia hanya takut jika selama hidupnya dia hanya akan bertugas seperti yang mereka lakukan barusan saja.


"Tentu, aku akan membiayai semua kebutuhanmu sampai kuliah nanti." Ucapnya membuat gadis itu lega, setidaknya dia masih di biarkan sekolah dan menjalani hidupnya seperti biasa walau tak sama lagi seperti dulu.


Tahun berganti tahun Larissa terus melayani Tuan Bagaskara, hingga sampai dimana pria itu meminta dirinya membatunya untuk me*****i seseorang demi untuk kerja sama Tuan Bagaskara berjalan lancar kata pria itu.


"Om, aku nggak mau. Om tega sama aku, aku nggak mau di sentuh selain Om." Ucap Larissa menolak saat Tuan Bagaskara memintanya untuk melayani partner bisnisnya.


"Aku sedang jatuh sekarang Larissa dan dia satu-satunya harapanku. Aku mohon mengertilah." Ucap Jujur Tuan Bagaskara karena memang sejak berakhirnya masa jabatannya, Tuan Bagaskara melanjutkan bisnisnya yang sempat dia tinggalkan dulu.


"Baiklah sekali ini saja Om, aku tak mau ada orang ketiga atau ke empat lagi." Ucap Larissa pasrah dan langsung di setujui Tuan Bagaskara dengan bahagianya.


Namun sayang, itu bukan akhir dari bantuannya untuk Tuan Bagaskara. Sebab pria itu selalu saja membuatnya me****** setiap klien bisnisnya yang baru dia bangun itu jika dia mendapati permintaan serupa.


Hingga lama kelamaan Larissa pun terbiasa akan hal itu. Beruntung dia sempat menanamkan sebuah alat pencegah kehamilan atas permintaan Tuan Bagaskara kala itu, membuatnya hingga kini tak pernah mengandung.


"Aku membencimu Ayah." Ucap Larissa dengan tangisannya setelah ingatan tentang masa lalunya berakhir.


Sungguh dia sangat membenci pria yang dia sebut Ayah itu, karena beliaulah dirinya berakhir seperti ini.


"Kenapa kau tak pernah adil untukku Tuhan, aku sudah menuruti permintaan Ayah. Tapi kenapa setelah itu kau selalu menyulitkan jalan hidupku." Dengan tangisannya Larissa pun merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"Aku mencintai Rizki dan kau mengambilnya, dan aku mencoba mengikhlaskannya dan kau menggantinya dengan Satria tapi kau pun malah mengambilnya dariku lagi. Apa mau mu Tuhan." Larissa terus saja meracau sambil menangis menyalahkan takdir Tuhan untuknya.

__ADS_1


Larissa kini merasakan kembali pada titik terendah untuk kedua kalinya dalam hidupnya.


Berharap secercah harapan ada setelah mengenal Satria yang mau menerima kekurangannya yang tak gadis lagi, malah kini berakhir juga dengan sebuah tamparan keras dirinya di permalukan habis-habisan. Hingga untuk kembali ke kampus pun dia tak sanggup.


Saat sedang asik-asiknya tenggelam dalam keterpurukan, tiba-tiba saja ponsel miliknya berdering membuat atensinya beralih pada ponsel yang sejak tadi tergeletak tak jauh darinya.


"Halo." Ucap Larissa setelah mengangkat panggilan itu.


"Kau menangis? ada apa?" Tanya orang di seberang sana.


"Tidak tadi aku bermimpi buruk saja." Ucap Larissa beralasan.


"Baiklah, aku ada mengirim gaun untukmu. Besok malam aku akan menjemputmu, kita akan ke pesta pernikahan anak dari Temanku." Ucap orang itu lagi.


"Yah, akan aku kenakan." Ucap Larissa setelahnya panggilan pun berakhir.


Larissa langsung bangkit dari berbaring, kemudian dia segera kembali menatap penampilan di cermin.


"Kau sungguh menyedihkan Larissa." Ucap Larissa pada dirinya sendiri hingga membuat tangisannya yang sudah redah kembali pecah lagi.


"Tak ada tempat lagi untukmu, kau sampah larissa benar kata Satria. Kau sampah tak berguna." Ucap Larissa saat mengingat kembali betapa Rendah dirinya saat dia merendahkan diri pada Satria waktu itu, juga penghinaan seisi kampus akan vidio dirinya dan Tuan Bagaskara membuatnya paham seberapa rendah dirinya kini.


Sungguh siapa saja yang melihat keadaannya saat ini akan merasa sedih melihatnya, wanita yang biasanya selalu menutupi kisah hidupnya dengan keangkuhan yang dia perlihatkan kini tak terlihat lagi.


To Be Continued➡️


...Komennya jangan lupa yah, makin banyak komentar kalian makin semangat pula Author nulisnya.☺️...


...Like,Gift, Fav & Vote jika berkenan😁...


...Sehat sehat yah kalian semua🤗...

__ADS_1


__ADS_2