Di Paksa Menikahi Teman Baikku

Di Paksa Menikahi Teman Baikku
Kisah Larissa 1


__ADS_3

Di tengah kebahagian yang sedang di hadapi banyak orang kini, berbeda dengan seseorang wanita yang sedang terpuruk saat ini.


Tepatnya di sebuah apartemen seorang wanita kini sedang duduk termenung di dalam kamarnya, setia memandang kosong ke depan sejak kepulangannya dari rumah sakit tadi hingga kini.


Sesekali dia melirik pada kaca besar yang sering dia gunakan untuk melihat penampilannya sebelum pergi keluar apartemen.


Namun kini kaca itu dia pergunakan untuk melihat keadaan wajahnya yang tak berbentuk kini.


Setiap sudut wajahnya tak pernah luput dari noda merah bercampur biru keunguan bertanda dia tak baik-baik saja saat ini.


Ingatannya kembali teringat dimana dia di aniaya oleh istri dari orang yang sudah menghidupinya bertahun tahun belakangan ini, sumber uangnya kalau bisa di katakan seperti itu.


Berawal dari dirinya yang di j*** sang Ayah kandung hingga berakhir dengan dia yang di buta kan dengan kesenangan penghasil uang itu dan membuatnya terjerumus semakin dalam dan dalam lagi ke dunia penuh dosa itu.


Dia akui memang dia salah dalam hal itu, tapi dunia ini terlalu kejam untuknya untuk menolak hal itu.


Terlanjur, satu kata yang sudah sebagai tujuan hidupnya di saat orang tersayangnya sendirilah yang membawa dia dalam dunia dosa ini.


Sekelebat ingatan di masa lalunya tiba-tiba saja membayang dalam penglihatan kosongnya. Mengingat kembali dimana titik pusat yang membawanya pada akhir dirinya yang seperti sekarang ini.


Terlahir dari keluarga yang di katagori kan sangat tak berpunya , Ayah seorang pemabuk sementara sang ibu telah berpulang kepada yang kuasa semenjak dirinya berusia lima belas tahun.


Tak berselang lama sang Ayah pun menikah kembali dengan seorang wanita penghibur tempat sang Ayah selalu menghabiskan waktunya di sana.


Tak di sangka pernikahan kedua sang Ayah menjadi malah petaka bagi dirinya.


Bagaimana tidak, jika di pernikahan kedua sang Ayah yang baru menginjak beberapa minggu, sang ibu sambungnya sudah memberikan ide pada sang Ayah untuk menjualnya di salah satu pengunjung klub yang istri Ayahnya itu pernah bekerja.


Dengan beralasan Ayahnya membutuhkan uang yang cukup banyak karena tersandung hutang, membuat sang anak menjadi korban keserakahannya.


"Larissa sayang kau mau membantu Ayah? Ayah butuh bantuan darimu sayang." Ucap sang Ayah untuk pertama kalinya kalimat sayang dan lembut yang dia dengar dari mulut sang ayah padanya.


Mendengar itu seketika Larissa kecil langsung memeluk sang Ayah yang sedang duduk di sampingnya itu.


"Apapun bantuannya Larissa mau Ayah, Larissa akan melakukan apapun untuk membantu Ayah." Ucapnya sambil Menghapus sebening air yang memaksa keluar di sudut mata kananya sakin bahagia dirinya.


"Kamu serius, tapi ini sangat berat?" Tanya sang Ayah memastikan kesanggupan Larissa.


"Itu tak berat, kau terlalu mengkhawatirkan dirinya. Dia sudah besar waktunya untuk membantumu." Suara sang Ibu sambung menginterupsi ucapan sang Ayah dengan cerewetnya.


"Apa kau bisa diam tidak, dia anakku. Biarkan aku yang menanganinya." Bentak sang Ayah membuat istrinya langsung melengos pergi.


"Kau mau membantu Ayah sayang? Ulang Sang Ayah lagi.


"Yah Larissa mau Ayah, asal Ayah janji mau bersikap lembut lah selalu seperti ini padaku Ayah. Maka aku akan selalu membantu Ayah." Ucapnya dengan binar bahagianya.

__ADS_1


"Ayah janji sayang." Ucap Sang Ayah sambil mengecup kening putrinya untuk pertama kali seingat dirinya.


"Terima kasih Ayah, Larissa sayang Ayah." Larissa kecil berkata sambil memeluk sang Ayah erat seakan dia akan di tinggalkan sang Ayah selamanya.


"Baiklah Ayo ke kamar, Tante Lala sudah menunggumu." Mengangguk mengiyakan perintah sang Ayah, Larissa langsung masuk ke kamar Ayahnya.


"Tante." Panggil Larissa saat baru masuk ke dalam kamar dimana Ibu sambung yang sering dia panggil Tante Lala itu sedang menyiapkan beberapa pakaian di atas tempat tidur.


"Duduk di situ." Ucap Tante Lala sambil menunjuk Meja riasnya.


Larissa langsung mendudukkan dirinya di depan meja rias itu sambil melihat peralatan entah apa itu yang begitu banyak di atas meja, dia tak tahu.


"Tante, sebenarnya apa yang akan aku lakukan untuk membantu Ayah?" Tanya Larissa yang penasaran karena sejak tadi sang Ayah tak menjelaskan apapun untuk dirinya.


"Apa Ayahmu itu tak memberitahu kamu?" Tanya Balik Tante Lala sambil tetap melihat baju-bajunya tanpa menatap pada Larissa.


"Tidak, Ayah hanya menyuruhku menemui Tante."


"Huuum, Sudahlah nanti juga kamu tahu."


Setelah berucap itu Tante Lala langsung menuju Larissa, membantu merias wajah gadis lugu itu dengan sesekali memarahinya karena sering sekali bertanya ini dan itu.


"Sudah selesai. Sekarang kamu kenakan baju itu." Ucapnya Sambil menunjuk sebuah gaun kekurangan bahan, namun nampak cantik di lihat.


"Tapi apa itu tak terlalu terbuka tante, Aku takut masuk angin." Ucap Larissa bergidik ngeri melihat baju kurang bahan itu.


"Hey, mau kemana?" Tanya Tante Lala saat Larissa hendak membawa keluar baju itu.


"Mau memakainya di kamarku, tante yang menyuruhku memakainya bukan?" Tanya Larissa dengan menundukkan kepalanya takut.


"Aku tak menyuruhmu memakainya di luar kamar ini, cepat buka pakaianmu dan pakai gaun itu di hadapanku sekarang juga." Ucap Tante Lala tak mau di bantah.


"Tapi..." Tanya Larissa.


"Kau Malu?... Tak usah malu, punyamu sama dengan punyaku. Jadi apa yang membuatmu Malu.


Tak mau membantah Lagi Larissa langsung membuka seluruh pakaiannya.


"Ckckck, itu dalaman mu jelek sekali astaga. Bisa-bisa Tuan Bagaskara akan... Lupakan." Ucap Tante Lala berhenti sambil beranjak mengambil dalaman baru miliknya.


"Tante aku bisa sendiri." Ucap Larissa saat Tante lala melepas penutup kacamatanya.


"Sudah ku bilang milik kita sama, kau masih saja malu. Besok besok kau akan terbiasa." Ucap Tante Lala melanjutkan tindakannya.


"Lumayan juga punya kamu Sa, sempurna." Ucap Tante Lala setelah melihat kedua aset Larissa membuat sang empunya langsung memerah malu di buatnya..

__ADS_1


"Itu ganti jua segitiga nya." Larissa langsung menuruti tanpa bantahan lagi.


"Humm, manis sekali." Ucap Tante Lala ketika Larissa sudah mengenakan gaun yang dia gunakan.


"Apa tak masalah Tante berpakaian seperti ini." Tanya Larissa saat dia melihat sebagian dada kecilnya yang hampir terekspos sempurna.


"Tentu, Setelah ini kau juga akan membukanya." Ucap Tante Lala sambil menahan senyumnya.


"Ayo orangnya sudah datang." Ucap Tante Lala saat mendengar suara mobil yang memasuki halaman rumah kecil mereka.


Keduanya pun keluar bersamaan dengan Sang Ayah yang hendak mengetuk pintu kamar.


Larissa langsung di bawah menemui seorang pria dewasa yang mungkin seumuran dengan sang Ayah, namun penampilan pria itu membuat dirinya terlihat jauh lebih mudah dari sang Ayah.


"Ini Tuan Bagaskara sayang, dia yang akan melunasi semua hutang Ayah kamu." Ucap Tante Lala setelah mereka duduk berdampingan dengan Tuan Bagaskara.


Mendengar itu Larissa langsung beranjak dan mengambil tangan Tuan Bagaskara untuk di ciumnya.


"Terima kasih banyak Om, Om sudah membantu Ayah." Ucapnya penuh binar bahagia.


"Duduk di sini sayang." Ucap Tuan Bagaskara sambil menepuk kursi sebelahnya.


Larissa langsung menengok ke arah sang Ayah meminta persetujuannya, setelah mendapatkan anggukan kecil kepala sang Ayah Larissa langsung menduduki dirinya di sebelah pria dewasa itu.


Setelah berbincang sebentar, Larisa langsung di bawa pergi pria itu tanpa ada penjelasan apapun dari sang Ayah.


Tuan Bagaskara membawanya ke sebuah tempat yang di sebut pria itu sebagai apartemen..


"Apartemen ini untukmu, apa kau suka?" Tanya Tuan Bagaskara ketika dirinya dan Larissa sudah tiba di dalam apartemen itu.


"Sungguh Om, untukku?" Tanya Larissa tak percaya karena ini baru pertama kalinya dia melihat tempat semewah ini.


"Yah, untukmu."


"Kalau memang ini untukku, kenapa Om tak mengajak Ayah sekalian." Ucap Larissa polos.


"Dia bukan Ayah yang baik untukmu Larissa." Ucap Tuan Bagaskara membuat Larissa yang sedang melihat-lihat isi apartemen itu jadi beralih menatapnya.


"Maksud Om apa?" Tanya Larissa.


"Ayahmu sudah menjual mu pada Om." Ucap Tuan Bagaskara bagaikan sambaran petir bagi Larissa.


To Be Continued➡️


...Komennya jangan lupa yah, makin banyak komentar kalian makin semangat pula Author nulisnya.☺️...

__ADS_1


...Like,Gift, Fav & Vote jika berkenan😁...


...Sehat sehat yah kalian semua🤗...


__ADS_2