Di Paksa Menikahi Teman Baikku

Di Paksa Menikahi Teman Baikku
Nano Nano


__ADS_3

"Sulit juga ternyata kalau kita berhubungan dengan orang yang masa lalunya belum selesai, ya gini ni."


"Aku kurang baik apa sih sama Melodi Ger." Tanya Rizki saat dia sadar Gerald berada di belakangnya saat ini. Kini keduanya sedang berada di lantai atas taman Apartemen.


"Bukan kamu kurang baik Ki, dan kita juga nggak bisa nyalahin Melodi. Coba deh kamu di posisi dia, saat sedang sayang sayangnya eh kamu di nikahin sama orang lain yang nggak ada rasa apa-apa. Gimana?" Ucap Gerald sambil mengambil tempat berdiri di sebelah Rizki yang juga sedang berdiri dekat tembok pembatas, yang mengekspos sisi kota dari sana.


"Lo benar, mungkin aku yang masih kurang sabarnya. Atau mungkin Melodi yang belum bisa melupakan hmm...dia." Ucap Rizki dengan senyum miringnya.


"Atau juga pernikahan kita yang salah, entahlah Ger." Lanjut Rizki lagi, terlihat sekali dia yang sudah mulai lelah. Lelah karena berjuang sendiri, sedangkan Melodi masih saja terjebak dengan masa lalunya.


"Sabar Ki, lo sayang kan sama Melodi?" Tanya Gerald sambil berbalik dan bersandar pada tembok dengan kedua tangan dan satu kaki sebagai tumpuannya di tembok pagar, sambil menatap ke arah Rizki yang sedang melihat ke arah pemandangan bawah jalan Raya.


"Bukan sayang lagi Ger, udah tergila-gila aku. Aaah, dukun Melodi boleh juga." Ucap Rizki sedikit terkekeh, kemudian mengikuti gaya bersandar Gerald.


"Yah kalau gitu lo perjuangin lah Melodi, jangan diam kaya tadi pas makan. Tahu nggak kalau nggak ingat Melodi, udah tu tadi aku yang tonjok duluan si bucin penipu itu dari pada kamu. Tapi pas lo yang nonjok, ah puas banget rasanya." Ucap Gerald dan tersenyum mengejek seolah olah dia sedang menatap Anzas saat ini.


"Penipu? Maksudnya?" Ucap Rizki yang ngeh dengan kata itu.


"Yah penipu, itu sebabnya aku nggak pernah welcome sama dia." Ucap Gerald sambil berjalan duduk di kursi sebelahnya.


"Penipu apa?" Tanya Rizki mulai penasaran.


"Lo kenal Sarah model yang sekelas dengan Anzas?


"Hmm, kenapa?" Tanya Rizki.


"Aku pernah lihat mereka berdua ciuman menjijikan di depan toilet kampus. Ah mana tangannya, ah kita sebut saja dia penipu." Ucap Gerald berhenti kemudian dia lanjutkan lagi perkataannya.


"Mana tangan penipu itu melata kemana-mana di tubuh Sarah lagi, menjijikan iuwww kaya nggak ada tempat lain lagi aja buat begituan. Ih kenapa sering kali aku lihat adegan live kaya gitu, tapi ngerasain nya belum pernah." Ucap Gerald sambil mengingat waktu itu.

__ADS_1


"Kenapa lo nggak vidio in." Ucap Rizki.


"Mana sempat, itu pas kita lagi ada kelas dan aku izin ke toilet. Mungkin Tuhan nggak mau ponselku ternodai dengan hal dosa kaya itu mungkin." Ucap Gerald kemudian tertawa.


"Lalu hal sepenting ini kenapa lo nggak kasih tahu Melodi." Ucap Rizki sedikit kesal dengan sikap santai Gerald ini.


"Lo bodoh atau apa, yang aku sama Saga ngasih tahu tentang Larisa aja lo nggak percaya. Lah ini Anzas, yang benar-benar Melodi sayang banget. Bisa bisa aku di musihin, di anggap menebar fitnah tanpa bukti."


Ucap Gerald dan Membuat Rizki tak lagi berkomentar.


"Jadi lo harus tuh jaga Melodi dari penipu itu. Yah walau aku belum yakin betul sih Sarah dan Anzas ada hubungan apa, karena cuman sekali itu aku lihat mereka. Dan lo tahu lah kehidupan Anzas yang notabennya asli luar, itu biasa lah soal ciuman gitu."


"Tapi aku saran nih sama lo, untuk saat ini diamin dulu Melodi. Biar dia juga mikir tentang perasaan lo juga, jangan melulu mikirin tu penipu. Selagi itu, nanti dah aku bantuin nyari tahu soal Sarah dan penipu itu." Ucap Gerald sambil menepuk lengan Rizki.


"Thanks Ger." Hanya itu yang bisa Rizki katakan saat ini.


"Yoi. Ayolah balik. Lapar ni." Ucap Gerald dan Rizki tersenyum pelit.


"Dimana mereka?' Tanya Gerald ketika mereka baru memasuki apartemen dan melihat Saga duduk sendiri di ruang tv.


"Ke apartemen si babak belur, Istri lo itu Ki perlu di rukiah. Gemas aku lihatnya, udah punya suami juga masih ladenin tuh bucin. Lo juga tadi kurang mukulnya ki, nanggung banget. Kurang puas aku." Ucap Saga membuat Gerald hanya tertawa, namun tidak dengan Rizki. Pria itu seperti tak bersemangat setelah mendengar Melodi mengantar Anzas ke apartemen pria itu.


Sedangkan di apartemen Anzas kini Melodi sedang mengompres pipi dan bibir Anzas yang terluka.


"Awww." Ucap Anzas meringis sakit.


"Maaf sakit yah Za. Maafin Rizki yah." Ucap Melodi merasa bersalah.


"Yah nggak papa." Ucap Anzas dan Melodi pun melanjutkannya sampai selesai.

__ADS_1


Setelah selesai mengobati wajah Anzas, Melodi langsung mengajak Pria itu berbicara serius, namun menyebabkan pertengkaran besar antara keduanya. Setelah itu Melodi langsung memutuskan pulang, kerena situasi juga tak memungkinkan dia berlama-lama di apartemen Anzas saat ini.


Saat sampai di parkiran Apartemen Rizki dan dirinya. Melodi memutuskan untuk tak langsung keluar, dia lebih memilih untuk menyandarkan kepalanya sambil menutup matanya sejenak. Pusing dengan keadaan saat ini, sudah pasti.


Setelah beberapa saat ketika sudah merasa lebih baik, barulah Melodi memutuskan untuk naik ke atas. Walau dia begitu malu ketemu Rizki saat ini. Dia sadar, dia sudah membuat kecewa pria itu. Tapi mau bagaimana lagi, hatinya terlalu lemah tak tega dengan kondisi orang yang di pukul suaminya itu.


Dan Saat baru masuk, Melodi langsung di suguhkan dengan tatapan bertanya dari ketiga pria di ruang tamu mereka.


"Ah, sabar Mel. Mereka nggak tahu jadi kamu gimana." Batin Melodi kemudian dia langsung melangkah masuk kamar tanpa menyapa ketiganya. Ada terbersit rasa bersalah terhadap suaminya itu, namun begitu untuk saat ini biarlah begini dulu.


Setelah memasuki kamar, Melodi langsung menjatuhkan tubuhnya terlentang di kasur. Memandang pada langit-langit kamar, memikirkan semuanya. Semua kejadian tadi mulai dari pemukulan Rizki pada Anzas, Kecewanya Rizki terhadapnya tadi, hingga pertengkarannya dengan Anzas.


"Abang." Ucap Melodi di telfonnya, dia lebih memilih menelfon sang abang sekedar menghilangkan pikirannya dari kejadian kejadian tadi.


"Ya sayang, kenapa?" Tanya Bima dari seberang sana.


"Kapan kesini? Melodi kangen."


"Dua atau tiga hari lagi Abang ke sana."


"Jangan lama yah, udah nggak sabar nih mau ketemu kakak ipar." Ucap Melodi sambil sedikit terkekeh


"Iya iya, nanti abang usahain biar cepat ini kerjaannya."


"Oke, pokonya kalau mau datang kabarin aja bang. Biar Melodi siapin buat penyambutan calon kakak baru." Ucap Melodi membuat Bima terkekeh mendengarnya.


Sedangkan di ruang tamu kini Saga sedang menegur Rizki yang tak menyapa Melodi tadi.


"Kalian kenapa nggak saling sapa Ki, kaya anak kecil tahu. Udah tahu buat anak juga, kelakuan masih kaya bocah." Ucap Saga.

__ADS_1


"Lagi kecewa dia nggak di belah Melodi, lo ngerti dikit lah Sag hahaha." Ucap Gerald sambil tertawa membuat Rizki membungkam tawa Gerald dengan bantal sofa.


Kumat sudah, baru juga bicara serius berdua. Gerald sudah mulai lagi.


__ADS_2