
"Bella." Sapa Rizki ketika mereka sudah tepat di depan Saga dan Bella.
"Eh Kak Iki." Ucap Bella sambil berdiri dan tersenyum kearah Rizki.
"Duduk dulu kalian." Saga yang tak di sapa langsung meminta agar semuanya untuk duduk.
"Kalian ada hubungan?" Tanya Melodi yang sudah penasaran melihat kebersamaan mereka.
"Lagi berusaha." Jawab Saga tersenyum sambil melirik Bella.
"wiiisss, tinggal aku aja nih yang jomblo yah kalau kalian resmi." Kali ini Gerald yang bersuara saat semuanya sudah duduk.
"Makanya jangan terjebak sama cinta istri orang lain." Ucap Saga keceplosan, membuat Gerald langsung menatapnya tajam.
Sedikit banyak Saga tahu akan orang yang di cintai sahabatnya, hanya saja dia diam sebab tak mau ikut campur akan urusan pribadi pria itu.
"Lo suka sama istri orang Ger?" Tanya Rizki dan Melodi bersamaan membuat yang di tanya kelimpungan untuk menjawabnya.
Saga yang melihat itu jadi tak tega, karena mulutnya Gerald jadi perhatian kini.
"Hehehe, becanda aku." Ucap Saga berharap Rizki dan Melodi percaya.
"Bercanda kamu nggak lucu tahu." Sambil berkata Melodi juga melempar satu stik kentang yang dia ambil dari atas meja.
"Iya tahu tu anak." Kata Gerald bisa lega sekarang.
"Kak Iki, katanya kak Juna aku sementara waktu yang bakalan urus urusan cafe di sini. Itu sebabnya aku datang ke sini kak." Ucap Bella setelah lama diam.
"Benar Bel, sampai Juna balik dari luar kota baru kamu bisa kembali. Nggak apa kan?" Tanya Rizki karena Juna kini sedang, dia tugaskan untuk mengecek cabang Cafenya yang lain di Luar kota yang saat ini sedang bermasalah. Sebab orang yang dia tugaskan di sana tak terlalu dia percayai.
Semua Cafenya dia percayakan untuk Juna dan Adiknya Bella, sebab hanya merekalah yang bisa Rizki percayai sejak awal perintisan cafe pertamanya. Dan Juna tak pernah mengecewakan dirinya sejauh ini.
Sementara itu urusan di cafe tempat Bella tangani kini dia serahkan tanggung jawabnya untuk orang kepercayaan wanita itu di sana.
"Tentu tak apa-apa kak, ini sudah tanggung jawab ku sebagai karyawan kakak." Ucap Bella tak lepas memandang Rizki dan tentu Melodi menyadari akan hal itu.
"Jangan membahas pekerjaan sekarang, ini bukan waktunya. Lalu bagaimana Bella hubungan kamu dengan Saga, dia laki-laki baik loh." Ucap Melodi sengaja, karena dia tak suka ada yang memandangi Rizki penuh minat seperti Bella memandangi Rizki sekarang.
Dia sebagai wanita tahu, mana pandangan biasa dan mana pandangan tak biasa dari seorang wanita terhadap pria, itu sebabnya dia mengalihkan perbincangan mereka.
"Hehehe, selama yang aku kenal Saga pria baik. Hanya saja saat ini kami hanya berteman saja. Bukan begitu Sag." Bella sedikit tak suka saat Melodi memotong perbincangannya dengan Rizki.
"Tapi aku harap, kita bisa lebih dari teman Bel. Ucap Saga, karena memang dia terkenal dengan jiwa modus terhadap wanita yang dia dekati.
"Kamu bisa saja Sag." Ucap Bella.
__ADS_1
"Sejak kapan kalian dekatnya? kok aku nggak tahu?" Kali ini Gerald yang bersuara.
"Semenjak pulang pas waktu itu kita berkunjung di cafe Rizki yang di tahan Bella, ingat kan." Jawab Saga jujur.
"Ouuu, kau memang selalu cepat urusan wanita." Timpal Melodi.
"Tentu." Ucap Saga dan langsung membuat semuanya tertawa. Karena Memang Saga yang mereka kenal selalu tak pernah di tolak cewe namun dia tak pernah serius dalam hubungan hubungannya, itu sebabnya dia tak pernah membawa pasangannya saat waktu kebersamaan mereka.
Setelah itu mereka langsung beranjak pergi tanpa makan, karena memang niat awal mereka hanya untuk mengantar Melodi membeli pakaian kondangannya besok.
Sepanjang berbelanja, Melodi selalu menjaga Rizki dari tatapan liar Bella terhadap suaminya itu.
"By, kenapa Bella terus curi-curi tatap padamu." Ucap Melodi pada akhirnya saat dia mengajak Rizki ke pakaian pria agar menjauhi Bella yang sedang melihat-lihat baju untuknya.
"Itu perasaan kamu saja sayang, dia gadis yang baik tak mungkin macam-macam. Aku sudah menganggapnya adikku sendiri, kamu jang berpikir yang aneh-aneh." Kata Rizki menjelaskan.
Rizki tahu Melodi akhir-akhir ini sangat sensitif jika berkaitan dengan dirinya. Dia tahu, semua itu pasti akibat hormon kehamilan istrinya. Itu sebabnya dia tak mempermasalahkan akan hal itu. Tapi justru senang akan hal itu.
"Semoga hanya perasaanku saja By, tapi janji kamu harus jaga jarak dengannya. Jangan terlalu dekat, untuk jaga-jaga saja atas kemungkinan tak baiknya." Ucap Melodi dengan seriusnya.
"Istriku ini takut banget sih aku di ambil orang." Kata Rizki hendak mencium Melodi namun langsung di halangi Melodi dengan Cara menjauhkan wajah Rizki dengan telapak tangannya.
"Ini bukan di rumah By, main nyosor aja." Kesal Melodi karena Rizki selalu saja tak tahu tempat.
"Lebay, minggir aku mau lihat tuh jas di belakang kamu By." Ucap Melodi sambil menggeser Jari Rizki dari hadapan bibirnya, saat matanya melihat jas yang nampak serasi dengan Baju yang tadi dia pilih untuknya.
"Ini Bagus, cocok sama gaun kamu tadi sayang." Kata Rizki saat melihat Melodi memegang Jas yang nampak serasi dengan pilihan dress Melodi.
"Yah, kamu benar By. Kita ambil yang ini saja."
***
Di tempat lain tepatnya di sebuah Villa yang akan di adakan pernikahan Anzas dan Sarah.
"Sayang, coba satu-satu yah bajunya. Maaf jika banyak pilihan, salahkan Anzas karena telat bawa kamu ke Mami jadi kamu harus capek sekarang. Padahal Besok udah hari H nya." Ucap Mami Anzas saat baru masuk ke kamar yang akan di peruntukan untuk tempat berganti pakaian Sarah besok.
"Nggak apa Mi, Sarah akan coba semuanya." Ucap Sarah dengan senyumnya. Dia senang karena kini Maminya Anzas begitu baik terhadapnya dan dia teramat senang karena bisa punya seorang Mami lagi sekarang.
"Baiklah, sini Mami bantu." Kata Mami Eka sambil mengambil gaun pertama untuk di coba menantunya.
"Iya Mi."
Hingga selesai, ada dua baju yang Sarah inginkan untuk dia pakai. Membuat Mami senang karena memang kedua baju itu atas pilihannya sendiri. Sementara baju yang pernah beliau antar untuk Sarah waktu itu, yang tak sempat wanita itu kenakan dan ternyata baju itu tak di pilihnya karena memang juga tak muat di tubuhnya.
"Baiklah, Mami tinggal yah. Ada yang harus Mami urus lagi soalnya." Ucap Mami Anzas ketika mereka usai dengan pemilihan baju.
__ADS_1
Tak berselang lama setelah Mami keluar dari kamar ganti Sarah, pintu kamar itu kembali terbuka.
"Mami balik lagi." Ucap Sarah yang Sedang melepas baju terakhir yang dia coba tadi saat mengira jika calon mertuanya itu kembali lagi.
Sampai sebuah tangan kekar merangkul pinggang polosnya baru membuat dia tersentak kaget.
"Za, kamu ngapain kesini." Ucap Sarah yang memang tahu betul siapa pemilik tangan besar itu.
"Yah ketemu calon istri lah, Mami lama amat tadi di sini. Aku tunggu di luar sejak tadi tahu." Ucap Anzas sambil mencium punggung terbuka Sarah.
"Za, jangan seperti ini kalau ketahuan Mami gimana." Ucap Sarah mulai merasa aneh, sebab Anzas kini telah membuka penutup atas aset berharganya bahkan tangan pria itu mulai bekerja sekarang.
"Biar saja Sar, aku mohon. Aku menginginkannya." Ucap Anzas jujur karena hampir sebulan setengah dia tak menyentuh wanita itu.
"Besok saja Za, setelah kita resmi kamu bisa melakukan sepuas mu." Ucap Sarah sambil menahan pergerakan tangan Anzas.
"Sebentar saja, aku janji." Kata Anzas sambil memulai aksinya, namun tiba-tiba ada seseorang dari arah belakang yang mencubit telinganya dengan keras.
"Oh astaga, aku lupa menutup pintunya." Batin Anzas saat tahu tangan siapa yang menjewer kupingnya itu.
"Apa menunggu besok terlalu lama bagimu anak nakal, untung Mami yang masuk kalau orang lain bagaimana." Hardik Mami Anzas tak habis pikir dengan putranya itu.
Mendengar itu Sarah dengan cepat mengambil Selimut untuk menutupi tubuh atasnya yang sempat di polos kan Anzas, dengan perasaan malu yang teramat besar kini. Karena lagi dan lagi Mami Anzas memergoki kelakuan mesum keduanya.
"Untung saja ponsel Mami tertinggal, kalau tidak kamu pasti akan membuat calon mantu Mami terlihat lelah besok hari." Lanjut Mami lagi.
"Sakit Mi." Adu Anzas karena Maminya itu tak main-main menjewer kupingnya.
"Kamu ikut Mami." Ucap Mami Anzas sambil menarik telinga Anzas untuk mengikuti langkahnya keluar kamar. Namun Sebelum keluar Mami Anzas sempatkan untuk berkata pada Sarah.
"Tutup pintunya Sarah, jangan sampai pria ini berkunjung lagi ke sini." Perintah Mami sebelum benar-benar membawa Anzas pergi.
Setelah Kepergian Anzas juga Maminya, Sarah langsung bergegas untuk menutup pintunya.
"Kau selalu saja membuatku malu terhadap Mami." Gerutu Sarah dengan mengusap kasar wajahnya sakin merasa Malunya.
"Oh Memalukan sekali." Lanjutnya lagi mengingat kejadian tadi.
...Komennya jangan lupa yah, makin banyak komentar kalian makin semangat pula Author nulisnya.☺️...
...**Like,Gift, Fav & Vote sebagai tanda kalian menghargai karya tak seberapa Author ini....
...Jangan bosan-bosan yah sama karya receh ini. Salam sayang buat yang sudah setia sama cerita Author.😁**...
...Sehat sehat yah kalian semua🤗...
__ADS_1