Di Paksa Menikahi Teman Baikku

Di Paksa Menikahi Teman Baikku
Sesal Rizki


__ADS_3

Kini Melodi hanya pasrah saat Rizki dengan kasar menikmati bibirnya, gadis itu berpikir mungkin saja Rizki sedang marah terhadapnya hingga dia membiarkan saja suaminya melakukan itu pada dirinya cukup lama sampai saat ada sebuah suara dari depan pintu yang tadi tak sempat di tutup Melodi pun menghentikan aktifitas Rizki.


"Maaf Bos." Ucap Juna spontan dan langsung menunduk saat dirinya melihat aktifitas dalam ruangan itu.


Tadinya Juna sedang bersama Rizki, sekedar mendengarkan curhat sang atasan tentang masalah Rumah tangganya itu. Namun ada sedikit masalah yang harus dia urus di pantry, makanya dia meninggalkan Rizki sejenak.


Dengan cepat Rizki langsung memeluk Melodi demi menghalang pandangan Juna terhadap tubuh Melodi yang sedikit terekspos di bagian depan karena ulah tangan nakalnya tadi.


"Tunggu sebentar di luar Jun, dan tolong tutup kembali pintunya." Ucap Rizki dingin.


"Baik Bos, saya permisi." Ucap Juna dan langsung menutup pintu ruangan itu cepat, karena sakin malunya saat melihat sisi lain Rizki tadi.


Setelah kepergian Juna, Rizki langsung melepas Melodi dari pelukannya, namun kini tak ada kata maaf seperti biasanya yang sering Rizki ucap jika dia tak sengaja berbuat nekat atau khilaf pada Melodi.


"Kenapa kesini, Mel?" Ucap Rizki sambil duduk kembali di tempatnya semula, dan sengaja tak melihat ke arah Melodi. Sebenarnya dia sangat menyesal melakukan itu pada gadis itu, tapi mau bagaimana lagi. Biarlah itu menjadi teguran kecil untuk Melodi, karena sudah berani tak jujur pada dirinya. Menurutnya Melodi terlalu tidak memikirkan perasaannya, apa salahnya mengatakan pada dia jika ingin bertemu dengan Anzas. Setidaknya dia tidak perlu mencari tahu seperti itu, dan membuat dia tak bisa mengontrol dirinya sendiri.


Setelah memperbaiki pakaiannya yang sedikit berantakan karena ulah Rizki, dan kini Melodi pun menatap Rizki.


"Apa aku punya salah padamu Mas, aku minta maaf?" Ucap Melodi, sedikit lama tinggal bersama Rizki. Gadis itu sedikit tahu sikap Rizki sekarang, dan dia tahu suaminya itu sedang marah padanya. Itu sebabnya dia membiarkan suaminya melampiaskan kemarahannya tadi pada dirinya.


"Dan aku kesini, karena ini sudah terlalu larut untuk kamu belum pulang Mas. Dan lagi ponsel kamu juga tak bisa di hubungi." Ucap Melodi mencoba biasa saja, agar Rizki tak terlalu merasa bersalah karena telah berbuat kasar ke padanya.


"Ada kerjaan sebentar, makanya aku belum pulang." Ucap Rizki berbohong tanpa mau melihat ke arah Melodi.


"Kerjaan apa Mas, merusak tubuhmu dengan menghabiskan begitu banyak barang ini." Ucap Melodi setelah itu dia langsung beranjak mengambil tong sampah dan langsung memasukan semua puntung rokok sekaligus bungkusan yang masih utuh belum tersentuh Rizki. Melodi tak takut sedikitpun jika Rizki kembali marah padanya kerena melakukan ini.


"Kamu baru pulang dari apartemennya Mel, hebat yah pergi sampai malam begini." Ucap Rizki membuat Melodi menghentikan aktifitasnya. Sejenak Melodi menutup matanya. Akhirnya gadis itu tahu tenyata Rizki mengetahuinya, itu sebabnya suaminya itu bersikap kasar terhadapnya tadi.

__ADS_1


"Maaf, tak memberitahumu Mas." Ucap Melodi merasa bersalah karena sudah tak jujur pada Rizki tadi, dan dia kini menyesalinya.


"Hmm" Rizki hanya menghembuskan nafasnya saja menanggapi kata maaf Melodi.


"Aku bersama Anzas, menunggumu di apartemen. Tapi kamu nggak datang-datang Mas." Ucap Melodi dan langsung di tanggapi dengan emosi oleh Rizki tanpa memahami lebih dulu perkataan Melodi.


"Oh, bahkan kamu berani membawanya ke tempat kita Mel." Geram Rizki namun seketika dia terdiam setelah otaknya menangkap sesuatu yang ganjal dengan ucapan Melodi tadi.


"Anzas datang ke apartemen, itu berarti.." Batin Rizki yang sudah sadar arah dari perkataan Melodi itu.


Belum sempat Melodi berbicara Rizki sudah kembali mengeluarkan suaranya lagi.


"Dia sudah tahu? Apa kamu memberitahunya?" Tanya Rizki kini dengan nada suara yang sudah mulai kembali lembut sambil menatap Melodi yang tepat berdiri di samping meja kerjanya itu.


Melodi hanya menganggukkan kepalanya saja, dan kini Rizki baru menyadari satu hal. Di tatapnya lagi wajah istrinya itu yang sedang menunduk. Dan dia kesal dengan dirinya sendiri karena ketidak pekanya atas mata bengkaknya Melodi saat ini.


"Sial!!! Kenapa aku nggak nyadar. Mata itu." Batin Rizki ketika dia baru sadar saat melihat mata bengkak Melodi.


"Maaf, maafkan aku." Ucap Rizki dan mendapatkan gelengan kepala dari Melodi.


"Nggak, kamu nggak salah Mas. Aku yang salah nggak jujur sama kamu." Ucap Melodi sambil mendongak mencoba menatap Rizki.


"Apa ini sakit?" Tanya Rizki sambil mengusap bibir Melodi yang bengkak dan sedikit berdarah karena ulahnya tadi, dan Melodi hanya menggelengkan kepalanya saja tanda dia baik-baik saja.


"Maaf." Hanya itu yang bisa Rizki ucapkan sekarang, setelah itu dia langsung membawa Melodi duduk dan menelfon Juna.


Tak berselang lama dari panggilannya tadi kini, pintu ruangannya pun sudah di ketuk dari luar.

__ADS_1


"Masuk Jun." Ucap Rizki.


"Permisi, Ini Bos." Ucap Juna sambil meletakan Baskom kecil berisi air hangat dan satu serbet sesuai permintaan Rizki di telfon tadi.


"Terima kasih Jun." Ucap Rizki.


"Oh iya Jun, apa cafenya sudah di tutup." Ucap Rizki sambil mencelupkan serbet ke baskom. Setelah sebelumnya dia melihat jam di dinding yang sudah menunjukan pukul dua belas malam.


"Sudah Bos." Jawab Juna sambil memperhatikan aktifitas Rizki saat mengompres bibir Melodi.


"Kalau sakit bilang sayang, jangan diam saja." Rizki berkata setelah pelan-pelan mengompres bibir Melodi dan gadis itu hanya mengangguk pasrah saja.


Setelah selesai mengompres bibir Melodi, Rizki pun memutuskan untuk kembali pulang. Agar karyawannya juga tak tertahan karena keberadaannya di sana.


"Jun, tolong kamu handel dulu semuanya. Besok aku sama Melodi mau ke rumah Ibu untuk beberapa hari soalnya." Ucap Rizki sebelum dia memasuki Mobil.


"Baik Bos."


Setelah itu Rizki pun melajukan mobilnya meninggalkan parkiran Cafe.


Selama perjalanan, Rizki sengaja tak berbicara sedikitpun karena merasa bersalah pada gadis itu. Begitu pula dengan Melodi, keduanya hanya diam dengan pemikiran masing-masing sampai kini mereka telah tiba di apartemen.


"Besok Anzas kesini lagi Mas." Ucap Melodi ketika keduanya baru memasuki kamar.


"Apa tanggapannya setelah tahu hubungan kita?" Tanya Rizki.


"Aku bingung menjelaskannya Mas, yang jelas Anzas nggak mau hubunganku dengannya berakhir." Ucap Melodi hati-hati dia tak mau jika nanti salah bicara dan membuat Rizki kembali salah paham terhadapnya lagi.

__ADS_1


"Apa Dia memarahi kamu?" Tanya Rizki karena melihat dari mata Melodi, dan bisa di pastikan gadis itu sudah menangis terlalu lama hingga matanya yang begitu bengkak kini.


"Anzas bukan tipe pemarah Mas dan dia.." Ucap Melodi terhenti saat dia sadar akan kata-katanya. Ah, lagi-lagi dia menyakiti Rizki. Walaupun tak ada niatan sedikitpun menyindir Pria itu, karena memang Anzas bukan pemarah selama bersamanya.


__ADS_2