
"Aku tak pernah menyesal menikahi Melodi Pi. Papi tahu aku sangat bersyukur atas pernikahan ini. Aku sangat bersyukur akan ke salah pahaman yang terjadi dan mengakibatkan berujung pada pernikahan ini. Aku bersyukur bahkan berterima kasih atas keputusan sepihak Papi untuk terjadinya pernikahan ini. Aku bersyukur Pi, aku sangat bersyukur untuk itu. Papi tahu menantu Papi ini adalah pria pengecut pi, sangat pengecut." Ucap Rizki dengan nada penuh serius dan terkandung kejujuran dari setiap kalimat yang dia lontarkan.
Papi Darma tak bersuara sedikitpun menanggapi ucapan menantunya itu. Beliau seakan memberi waktu untuk sang menantu berbicara.
"Papi tahu, menantu Papi ini sangat pengecut pi. Pengecut karena tak bisa mengungkapkan ketertarikan aku pada putri Papi." Ucap Rizki kemudian berhenti sejenak.
"Aku takut akan penolakan Pi. Aku takut Melodi menolak aku Pi. Aku tak mau jika aku memberitahukan perasaanku padanya Melodi tak mau dekat lagi denganku. Aku terlalu pengecut Pi dan membiarkan rasaku ku tersembunyi dengan berkedok teman. Hingga dimana kesalahpahaman yang terjadi seakan aku mendapatkan keberuntungan atau apapun itu. Aku bersyukur bahkan sangat bersyukur untuk malam dan pagi itu. Hari dimana semua impianku jadi kenyataan." Lanjut Rizki lagi.
Jelas Rizki sambil mengingat kejadian malam hingga pagi itu. Mulai dari dirinya yang entah mengapa sangat merindukan gadis itu, hingga malam itu dia meminta untuk menginap di apartemen gadis yang telah mencuri hatinya sejak pertama mereka berkenalan.
Yah Rizki jatuh cinta dengan melodi saat Pertama kali bertemu. Mungkin banyak yang berkata cinta pada pandangan pertama itu Omong kosong itu bukan cinta tapi hanya sebuah rasa kagum semata dan akan hilang dengan sendirinya.
Tapi tidak dengan Rizki, Dia begitu mengagumi sosok Melodi. Dia Juga tak tahu mengapa, dan susah untuk di jelaskan. Hatinya telah dicuri sejak pertama dia bertemu Melodi, Apalagi sejak saat itu mereka terus bertemu maka tambah besar pula rasa yang Rizki rasakan.
🌼🌼🌼
"Mel, hari ini kita balik saja ke Apartemenku yah." Ucap Rizki ketika mereka baru saja pulang mengantarkan orang tua Melodi.
"Boleh, kapan? sekarang atau nanti?" Tanya Melodi.
"Sekarang saja, biar sekalian nanti istirahat di apartemen. kebetulan juga kan kita kelas sore." Ucap Rizki.
Melodi pun mengangguk dan kemudian mereka berdua membereskan semua barang mereka. Setelahnya mereka membawa turun semua barang berisi dua koper satu milik Rizki dan satunya milik Melodi.
Rizki pun melakukan check out sementara Melodi menunggunya di kursi tunggu di lobi hotel itu.
Setelah semua selesai Rizki pun mengambil mobil dan menjemput Melodi di lobi hotel itu dan memasukan barang mereka di bagasi. Setelahnya mereka pun meninggalkan hotel menuju apartemen Rizki.
"Mel.." Panggil Rizki ketika Melodi sedang membereskan pakaian di lemari milik Rizki.
"Hmm."
"Mau beli lemari baru? Lemari itu kayanya nggak cukup. Terlalu kecil untuk kita berdua." Tanya Rizki.
"Boleh" Jawab Melodi.
"Sekarang aja yuk, sekalian beli perabotan dapur. Dapur aku nggak ada barang, makanya sering numpang makan di apart nya kamu." Ucap Rizki yang membuat Melodi semangat, pasalnya Soal belanja dan memilih barang adalah hobinya Melodi.
"Ayo berangkat aja kalau gitu Mumpung masih jam 9 ini." Ucap Melodi dan bergegas berdiri dari pekerjaan menyusun pakaiannya.
Kedua pasangan baru itu pun pergi ke salah satu mall terdekat dan menuju ke tokoh perabotan rumah tangga yang pernah Melodi kunjungi dengan sang tante waktu awal dirinya menempati Apartemennya itu.
"Ki yang ini bagus nggak?" Tanya Melodi ketika dia melihat lemari putih panjang dengan delapan pintu kaca dorongnya itu.
"Bagus, tapi jangan warna putih deh Mel hitam aja yah." Ucap Rizki memberi tawaran.
"Putih aja ki, kan kamar kamu udah warna hitam. Masa perabotan juga hitam semua. Oh iya warna kamar kamu boleh yah ganti warna putih aja?" Ucap Melodi membuat Rizki melotot kaget dengan kalimat terakhir Melodi.
__ADS_1
"Please Ki, mau yah?." Ucap Melodi lagi.
"Ya udah, terserah kamu aja." Ucap Rizki pasrah. "Untung sayang." Batin Rizki.
Rizki pun mengambil nomor Meja beserta corak warna pilihan mereka, setelahnya mereka pergi melihat perabotan yang lainnya.
"Ki meja rias boleh? Punya kamu kan hanya ada meja dan nggak ada kacanya." Ucap Melodi lagi kebetulan saat dia melihat Meja rias didepannya saat ini.
"Iya boleh, pilih aja yang kamu mau." Ucap Rizki dan Melodi dengan senang hati melihat pilihan meja di sana.
"Itu bagus." Ucap Rizki ketika Melodi sedang melihat dan mencoba duduk di kursi meja rias saat ini.
"Bagus sih, cuman aku nggak suka model kursi bulat kaya gini. Maunya yang panjang dan agak lebar sedikit." Ucap Melodi kemudian berdiri dan melihat lihat yang lainnya lagi.
"Ki kalau ini gimana?" Tanya Melodi menunjuk meja di depan mereka.
"Bagus." Ucap Rizki.
"Kalau gitu yang ini aja deh." Ucap Melodi dan kemudian Rizki mengambil nomor serinya.
"Warna putih ya Ki." Ucap Melodi dan Rizki pun mengangguk mengerti.
"Kita kemana lagi?" Tanya Rizki.
"Ke perabot dapur aja Ki" Ucap Melodi dan kemudian menarik lengan Rizki untuk mengikutinya.
...Batin Rizki sambil tersenyum menatap Tangannya yang sedang di gandeng Melodi....
Setelah berjalan sedikit menuju bagian perabotan dapur dan sekarang tibalah mereka di sana.
"Kamu punya ini nggak Ki?"
"Yang ini punya nggak?"
"Kalau yang ini?"
"Aku mau yang ini Ki boleh?"
"Boleh beli piring nggak Ki?"
"Yang ini udah punya belum?"
"Ki yang ini bagus nggak?"
"Kamu mau yang warna apa ki?"
"Oia ini juga boleh yah Ki?"
__ADS_1
Semua pertanyaan yang di lontarkan Melodi Dalam memilih barang pun Rizki ladeni dengan sabar, dia bahakan bahagia dan tak merasa capek sedikitpun dengan hanya melihat senyum yang terpancar dari Melodi saat ini.
Barang yang di pilih Melodi pun semuanya disetujui oleh Rizki.
Kini tibalah saatnya Rizki membayar, dan Rizki pun memilih pilihan mengantarkan barang berhubung barang yang mereka beli cukup banyak.
"Mau kemana lagi?" Tanya Rizki ketika mereka keluar dari tokoh perabotan itu.
"Ke supermarket yuk, buat ngisi kulkas kamu tadi aku lihat kosong semua." Ucap Melodi dan langsung Rizki menganggukkan kepalanya.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju supermarket, namun tiba-tiba saja ponsel Melodi berdering.
"Siapa?" Tanya Rizki.
"Anzas." Ucap Melodi saat melihat id name si penelpon dan kemudian langsung mengangkatnya.
"Halo Be." Ucap Melodi.
"Kelas jam berapa sayang? Makan siang bareng yuk." Ucap Anzas karena sekarang sudah waktunya makan siang.
"Kelas jam empat be, emm sekarang yah makannya?" Ucap Melodi sambil menatap Rizki.
"Iya sayang, aku jemput yah." Ucap Anzas.
"Nggak usah Be kita ketemu di tempat makan aja. Mau makan dimana?" Ucap Melodi.
"Ya udah, di resto biasa dekat kampus ya sayang aku berangkat sekarang." Ucap Anzas.
"Iya Be sempai ketemu, aku tutup yah telfonnya." Ucap Melodi dan kemudian mereka pun sama-sama memutuskan sambungan telfonnya.
Rizki yang sejak tadi mendengar percakapan mereka hanya diam dan menyembunyikan kekesalannya dengan mengotak atik ponsel di tangannya.
"Ki." Panggil Melodi setelah menutup telfonnya.
"hmm" Jawab Rizki.
"Nanti pulang kampus aja yah kita ke supermarket, Anzas minta di temenin makan soalnya. Nggak papa kan Ki " Ucap Melodi tak enak hati
"Iya terserah lo aja Mel." Ucap Rizki.
"Habis ini lo mau ke mana?" Tanya Melodi sebelum pamit.
"Ke apartemen dulu, soalnya kan barang-barang kita kan mau di antar sebentar lagi." Ucap Rizki mencoba biasa saja.
"Nanti biar pulang kampus baru aku beresin Ki. Kalau gitu aku pamit yah." Ucap Melodi kemudian meninggalkan Rizki setelah mendapat anggukan dari pria itu.
"Mel apa kamu nggak nerima pernikahan ini sedikitpun kah." Ucap Rizki sambil menatap kepergian Melodi.
__ADS_1