
"Jadi kamu juga mencintai aku Mel." Ucap Rizki setelah sekian lama terdiam. Dia begitu berbinar mendengar penuturan Melodi tadi, hingga tak ada kalimat yang bisa dia lontarkan. Selain kalimat tanya yang akan meyakinkannya atas kebenaran ucapan Melodi padanya tadi.
"Yah tapi itu dulu, tidak lagi sekarang jadi...." Jawab Melodi sengaja menjedah sedikit kalimatnya demi melihat ekspresi Rizki.
"Jadi kamu.." Ucap Rizki cepat setelah Melodi berhenti bicara namun kembali Melodi melanjutkan kata katanya yang terjeda itu saat melihat ekspresi sedih Rizki, dan seketika itu membuat Rizki di landa bahagia yang yang tak terkira.
"Maukah kamu mengembalikan rasaku yang sempat hilang Ki?" Tanya Melodi dan membuat Rizki mengangguk cepat, sungguh ini adalah keajaiban yang Tuhan berikan padanya. Cintanya berbalas, hanya saja dia yang membuat cinta itu menghilang karena diamnya. Dan kini dia di beri kesempatan kembali oleh orang itu langsung.
"Aku akan mengembalikannya lebih dari sebelumnya, maukah kau bekerjasama denganku Mel. Membantuku menanamkan kembali rasa itu, dengan tetap berada di sisiku?" Ucap Rizki dan Melodi menganggukkan kepalanya tanda bersedia, bersedia mengembalikan rasa yang sempat singgah di hatinya.
Walaupun sejujurnya dia sudah merasakan sedikit kembalinya rasa itu, walau tak sebesar dulu. Karena dia akui betapa besarnya pengaruh Anzas masih menghalangi dia menerima Rizki kembali.
Jangan salahkan dirinya, karena permainan Tuhan siapa yang tahu. Tuhan berhak memberikan dan menghilangkan sebuah rasa pada hambanya bukan.
"Terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu." Ucap Rizki sambil mencium kening Melodi dan setelah itu membawa tubuh Melodi dalam dekapan hangatnya.
Melodi hanya tersenyum mendengar itu, dia bahagia setidaknya kini dia tahu. Pernikahan terpaksa ini tak terlalu sia-sia, karena dia tahu suaminya mencintai dirinya. Dan sekarang dia hanya perlu mempertahankan rasa cinta suaminya terhadapnya, dan dia kini hanya perlu menumbuhkan kembali rasa yang sama untuk suaminya.
"Ki.." Panggil Melodi membuat Rizki tersadar sejak tadi tak ada panggilan Mas untuk dirinya.
"Ya Sayang?." Namun begitu Rizki tak mau ambil pusing, setidaknya istrinya itu sudah sepenuhnya menerima dirinya kini.
"Boleh tidak aku tak lagi memanggilmu Mas?" Tanya Melodi membuat Rizki lagi-lagi bingung.
"Kenapa?" Ucap Rizki mencoba mengerti mau Melodi.
"Aku nggak suka sebutan itu, terkesan tua soalnya. Nggak cocok buat kita yang masih di bangku kuliah. Seakan kita memaksakan tua dengan panggilan itu." Ucap Melodi memberitahukan keberatannya yang sebelumnya dia pendam sendiri.
__ADS_1
Ucapan Melodi membuat Rizki terkekeh geli, berarti selama ini Melodi tak suka dengan panggilan Mas dan dia mencoba menerimanya karena keadaan saja. Pikir Rizki.
"Kenapa ketawa Ki, aku serius. Apa kamu nyaman dengan panggilan itu. Aku saja geli tahu." Ucap Melodi sambil Memukul dada Rizki pelan.
"Sakit sayang." Ucap Rizki berpura pura.
"Lebay, aku serius ini." Ucap Melodi setelahnya.
"Ya udah jadi kamu maunya panggil apa, terserah saja. Tapi yang bagus yah." Terima Rizki dengan senang hati, apa yang nyaman bagi Melodi tentu dia akan mengikutinya.
"Hubby boleh?" Ucap Melodi sedikit malu namun dia ingin sekali memanggil Rizki dengan sebutan suamiku, agar dia ingat selalu jika kini dia memiliki suami yang begitu mencintainya. Sekilas dia juga ingin menegaskan pada dirinya sendiri jika yang harus di cintai nya kini hanya suaminya bukan yang lain.
"Dengan senang hati sayang." Terima Rizki.
"Jangan bergerak sayang." Ucap Rizki lagi ketika Melodi melakukan gerakan yang membangunkan hasratnya.
"Karena kalau tidak, kita akan mengulang malam pengantin kita yang ke dua siang ini." Ucap Rizki dengan sedikit nada berbeda.
"Kenapa tidak." Respon Melodi seolah menantang suaminya.
"Baiklah kamu yang minta sayang, jadi jangan salahkan aku." Ucap Rizki dan langsung menjalankan aksinya, membawa Melodi pada kenikmatan yang dia ciptakan untuk mereka berdua.
"Aku bersumpah akan membuatmu mencintaiku kembali sayang, hingga kau tak ingin aku tinggalkan barang sejenak." Batin Rizki dalam aktifitas panasnya, melambungkan Melodi pada kenikmatan yang akan wanita itu rindukan setiap saat.
***
Di lain Tempat kini Anzas sedang memandangi wajahnya yang luka akibat pukulan Rizki di cermin kamar Sarah.
__ADS_1
Sarah sendiri pun tak menanyakan soal keadaan wajah Anzas yang luka, jika Anzas bercerita untuknya. Maka dia akan mendengarkan, jika tidak pun dia tak mau menanyakan. Toh juga, Anzas tak pernah menghargai perhatiannya dan malah akan berakhir dengan pertengkaran.
Setelah kepulangan Melodi, Anzas langsung bergegas pergi menuju Apartemen Sarah. Dia butuh wanita itu sekarang, saat tadi dia gagal untuk membuat Melodi melayaninya dan mengakibatkan pertengkaran antara keduanya.
"Hari ini kau payah Sar, nggak seperti biasanya." Ucap Anzas sambil melihat wajahnya di kaca milik Sarah, setelah baru saja mereka melakukan hubungan dosa.
"Itu karena kau gila, bisa-bisanya kau melakukannya se kasar tadi. Aku lagi hamil Za, kalau kamu lupa." Ucap Sarah tak terima di bilang payah oleh Anzas.
"Cih, makanya itu. Dari pada kehamilan mu itu membuat kamu tak nyaman dan menghambat aktifitas nikmat kita, kenapa tidak kau singkirkan saja janin itu. Toh juga aku nggak bisa menerimanya, jadi percuma saja kau mempertahankan itu." Ucap Anzas, namun tak di ambil pusing Sarah. Dia sudah sering menerima ucapan itu dari Anzas saat pria itu sudah tahu kehamilannya.
"Kau dengar tidak Sarah." Ucap Anzas lagi saat tak mendengar respon Sarah atas ucapannya.
"Yah aku dengar." Sahut Sarah cuek.
"Lalu?" Tanya Anzas menunggu respon Sarah atas sarannya.
"Aku lebih memilih kau meninggalkan aku Za, dari pada aku harus menggugurkan buah cinta kita."
"Buah cinta? Aku tak melakukannya dengan cinta. Mungkin kau, tidak denganku." Ucap Anzas dan Sarah hanya menghembuskan nafasnya saja. Sudah tak sanggup berdebat lagi. Tubuhnya terlalu lelah jika harus menambah perdebatan lagi.
"Terserah kau saja, aku hanya tak ingin menambah dosaku lagi dengan membunuhnya. Jika kau tak terima, maka kau bisa meninggalkan aku. Aku tak masalah untuk itu." Ucap Sarah, dia sudah pasrah jika Anzas nantinya akan meninggalkan dirinya. Dia cukup tahu diri, jika ayah dari anaknya itu tak pernah mencintainya.
"Cih, apa kau yakin?" Tanya Anzas seolah mengejek wanita hamil di belakangnya itu. Dia tak yakin Sarah berkata jujur, buktinya Sarah selalu menerimanya saat dia membutuhkan tubuh wanita itu.
"Tak perlu kata yakin itu, cukup aku mengingat kau yang tak pernah mencintaiku. Maka semua yang membuatku ragu, akan aku yakinkan." Ucap Sarah membuat Anzas tak suka dengan itu.
Sarah sudah pasrah dengan semuanya, dia tak mau lagi membuat luka di hatinya bertambah dengan meminta Anzas menerima janinnya. Yang jelas jelas pria itu tak menginginkannya. Lebih baik begini, toh juga dia tak pernah mendatangi Anzas. Pria itu yang sering menemuinya jika dia membutuhkan tubuhnya. Jadi untuk apa dia memusingkan hal itu.
__ADS_1
"Hah terserah kau saja." Ucap Anzas kesal, dia tak terima Sarah terkesan cuek dengannya sekarang.