
Setelah kepergian Rizki, Melodi jadi memikirkan perkataan suaminya tadi. Dia bahkan sampai lupa dengan hubungannya dengan Anzas saat ini, karena sakin asiknya dengan hubungan pernikahannya dan Rizki.
Melodi dan Anzas saat ini lagi jarang berkomunikasi, karena Anzas sendiri sedang sibuk membantu Papinya mengurus proyek sang Papi. Itu sebabnya, Anzas hanya sesekali saja memberi kabar pada Melodi, itu pun di malam hari ketika Melodi sudah tertidur. Sehingga Melodi hampir lupa, karena kini hari-harinya selalu dihadapkan dengan sang suami saja.
Tak mau memikirkan terlalu banyak tentang permasalahan pelik yang sedang menimpa pernikahannya sekarang, Melodi lebih memilih menelfon sang Ibu mertua untuk sekedar meluangkan waktu kosongnya dengan mendekatkan dirinya dengan Ibu dari Rizki itu.
Di tempat lain tepatnya di Cafe milik Rizki, kini sedang mengalami ketegangan karena saling melempar argumen antara dua orang berlainan jenis.
Tadi baru saja Rizki memasuki ruangan tempatnya di cafe miliknya itu, Pria itu langsung disuguhkan dengan pemandangan Larisa yang sedang mondar-mandir tak jelas bahkan gadis itu terlihat sangat kacau saat ini.
"Duduk dulu Sa." Ucap Rizki mengagetkan Larisa yang belum sadar jika sejak tadi Rizki sudah memperhatikan dirinya.
"Kamu datang Ki, sayang maafkan aku." Ucap Larisa sambil menghampiri Rizki yang juga sedang berjalan ke arahnya.
"Duduk dulu." Ucap Rizki dan berlalu mendahului Larisa saat mereka tepat berhadapan.
Dengan cepat Larisa langsung mengambil tempat bersebelahan dengan Rizki.
"Sayang." Ucap larisa terpotong.
"Sekarang jelaskan yang mau kamu jelaskan Sa." Ucap Larisa.
"Ki, aku tahu aku salah. Maaf jika kamu melihat itu, tapi aku janji itu untuk terakhir kalinya. Tolong pikirkan lagi kebersamaan kita yang bukan sebentar." Ucap Larisa sambil menatap mengiba pada Rizki.
"Sejak kapan?" Tanya Rizki, namun tak kunjung dapat di jawab Larisa.
__ADS_1
"Baiklah, tapi maaf itu sudah menjadi keputusan terakhirku melihat atau tanpa melihat hal itu." Ucap Rizki.
"Maksud kamu apa Ki, jadi tujuanmu datang memang untuk mengakhiri hubungan kita. Tapi kenapa? Alasannya apa?" Tanya Larisa.
"Apa aku perlu jawab itu Sa, kau sendiri saja tak mau menjawab pertanyaan aku tadi soal sejak kapan kamu berhubungan dengan orang itu. Lalu untuk apa kau tanyakan alasanku." Ucap Rizki tak mau kalah.
"Hubunganku dengan orang itu hanya kesalahan Ki, maafkan aku. Aku janji nggak bakal ulangi lagi. Tapi aku mohon Ki, beri aku kesempatan hubungan kita bukan sebentar ki tolong pikirkan lagi." Ucap Larisa disertai tangisannya hingga membuat ucapannya menjadi terbata di akhir kalimatnya.
Rizki yang melihat Larisa menangis seperti itu, dia jadi tak enak dan kasihan sendiri. Dia merasa kasihan pada gadis itu, tapi mau bagaimana lagi. Dirinya tak ada perasaan sedikitpun pada Larisa, apalagi kini dia telah menikah dengan wanita pemilik hatinya kini. Walaupun seandainya dia belum menikah pun, kesalahan Larisa mungkin dia maafkan. Namun untuk kembali pada gadis itu juga tak mungkin, menurutnya.
"Sa, aku minta maaf. Tapi kita tak bisa melanjutkan hubungan ini, kau bisa kembali fokus pada pasanganmu itu. Dan aku akan fokus dengan kehidupanku sendiri." Ucap Rizki berharap Larisa bisa menerima keputusannya.
"Aku nggak mau Ki, aku sayang sama kamu dan kamu tahu itu kan." Ucap Larisa sambil mengambil tangan Rizki untuk di genggamnya.
"Aku sudah menikah Sa, maaf." Ucap Rizki bagaikan hantaman balasan bagi Larisa atas apa yang sudah dia perbuat terhadap Rizki. hingga dengan spontan dirinya sendiri melepas tangan Rizki yang dia genggam.
"Kamu bohong kan Ki, ini cuman alasan kamu saja kan untuk membalas aku." Ucap Larisa tak percaya di selingi gelengan kepalanya tak terima dengan ucapan Rizki.
"Aku serius Sa, dan aku mohon jangan temui aku lagi. Aku tak mau istriku akan salah paham nantinya." Ucap Rizki dengan wajah seriusnya.
"Nggak kamu bohong ki, kamu bohong." Ucap Larisa histeris membuat Rizki panik sendiri.
Dengan cepat Rizki langsung membawa Larisa dalam pelukannya, berharap Larisa dapat tenang dan tak membuat keributan lebih besar lagi.
"Kamu becanda kan, kamu hanya bohong kan Ki." Ucap Larisa dengan tangisannya di pelukan Rizki.
__ADS_1
"Kamu tenang dulu Sa. Bagaimana aku bisa jelaskan kalau kamu begini." Rizki jadi menyesal sendiri sudah mengatakan itu pada Larisa hingga membuat gadis itu se histeris ini sekarang. Dia tak menyangka jika tanggapan yang di berikan Larisa seperti ini, apalagi jika nanti Larisa tahu istrinya itu adalah Melodi sahabatnya sediri. Bagaimana nanti, dia tak mau membayangkan itu sekarang. Dia jadi mengingat mimpi yang Melodi alami kembali, dan berharap itu berakhir di mimpi saja. Cukup mimpi, jangan dinyatakan.
"Kamu bohong kan, ayo katakan kamu bohong Ki." Ucap Larisa yang mencoba tenang sekarang.
Merasa Larisa sudah sedikit tenang, Rizki langsung melepas Larisa dari pelukannya.
"Sa, kamu dengar yah. Kamu itu wanita baik, cantik apalagi. Aku yakin kamu akan mendapatkan lebih dari aku. Mungkin kita memang tak di izinkan bersama, buktinya di hari aku ingin jujur padamu tentang pernikahanku malah tuhan juga menunjukan pada aku tentang hal privasi kamu. Apa kamu tidak berpikir, jika tuhan sudah mengatur itu semua." Ucap Rizki dengan perlahan mencoba agar Larisa dapat memahami perkataannya.
"Tapi.." Ucap Larisa.
"Mengertilah Sa." Potong Rizki.
Larisa yang sudah merasa bersalah dengan kesalahannya pun akhirnya menganggukkan kepalanya, dan mau tak mau dia harus menerima kenyataan ini. Kenyataan dimana dia dan Rizki sama-sama memiliki hubungan lai yang sudah membuat hubungan mereka tak bisa lagi di pertahankan.
"Terima kasih." Ucap Rizki yang sudah bisa merasa lega, akhirnya Larisa mau mengerti juga.
"Yah." Balas Larisa menanggapi ucapan terima kasih Rizki walau dengan tak bersemangat sedikitpun.
"Boleh berikan aku peluk untuk yang terakhir kali Ki?" Ucap Larisa yang mau tak mau harus menerima keputusan Rizki.
Dengan perasaan Lega Rizki langsung membawa tubuh Larisa untuk terakhir kalinya. Dia pun diam-diam meminta maaf pada gadis itu, karena telah mempermainkan perasaan Larisa meskipun dia sudah pernah mau mencoba untuk membuka hatinya pada Larisa. Tapi tetap saja, dia salah sudah membawa Larisa masuk ke dalam hidupnya hanya demi mau membuat Melodi merasa cemburu atau tidak. Dan itu adalah kesalahan terbesarnya.
"Kau gadis baik Sa, aku doakan kau akan bahagian dengan pilihanmu." Ucap Rizki sambil mengelus sayang punggung wanita yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Ki Pap-i..." Ucap Papi Darma terpotong ketik beliau baru saja membuka pintu ruangan Rizki yang memang sudah terbuka sedikit. Papinya Melodi begitu terkejut ketika melihat menantunya itu sedang memeluk gadis lain Yang jelas-jelas bukan putrinya Melodi.
__ADS_1