
"Sayang nanti marahnya habis ini saja yah, sekarang senyum dulu. Malu dilihat orang kamu cemberut gitu." Bisik Anzas pelan pada Sarah. Karena sejak tadi istrinya itu terlihat terus mendiaminya dan tak memasang senyum sedikitpun.
Kini mereka berdua sudah berada di pelaminan, karena acara resepsi mereka kini telah berlangsung sekarang.
"Aku capek Za, kamu sih nggak kenal waktu main nyosor aja." Ucap kesal Sarah jujur setelah sekian lama dia mendiami Anzas.
Bagaimana dirinya tak kesal, jika Anzas terus saja mengajaknya bergulat tampa lihat waktu.
Untung sang Mami mertua mengetuk pintu kamar mereka untuk mengingatkan dirinya agar di dandani jika tidak. Dia bisa pastika jika acara malam ini dia akan absen karena ulah Anzas.
Bahkan Sarah tak ada waktu sedikitpun untuk istirahat, karena setelah itu dia langsung bergegas mandi dan lanjut di make Up untuk acara malam ini.
Beruntung tadi dia sempat tertidur pas saat dirinya di make up, jika tidak sudah di pastikan dia akan benar-benar minta untuk absen malam ini karena kelelahan.
"Hehehe, maaf sayang. Habisnya kan aku puasanya udah hampir dua bulan kan, makanya tadi aku khilaf. Jangan marah yah, janji deh setelah ini kamu bisa tidur puas dan aku nggak akan ganggu kamu." Ucap Anzas mencoba merayu Sarah, walau dia sendiri tak tahu nanti dia bisa tepati janjinya itu atau tidak. Sebab dia merasa belum puas tadi karena terhenti oleh suara pengingat sang Mami.
"Tanpa kamu bilang, itu sudah pasti akan terjadi. Biar perlu kita pisah kamarnya malam ini, takut kamu khilaf lagi." Ucap Sarah. Setelah itu dia pun mengembangkan senyum terbaiknya saat sudah waktunya bersalaman.
"Nggak, aku janji nggak akan khilaf lagi. Tapi jangan pisah kamar yah yah, yah sayang." Ucap Anzas dan sarah tak menjawabnya.
"Jangan bicara lagi, tuh ada yang mendekat." Kata Sarah karena banyak yang sudah antri untuk bersalaman dengan mereka.
***
"Mel, sudah yah aku kenyang. Nggak sanggup lanjut lagi." Ucap Gerald tak sanggup menghabiskan makanannya, sebab tadi dia sudah terlanjur makan di rumah sebelum kesini.
"Yah padahal tinggal dikit lagi tuh Ger, ya sudah sini biar aku lanjutkan makannya." Ucap Melodi langsung mengambil piring di tangan Gerald membuat Rizki langsung merebut piring itu darinya.
"Aku ambil yang baru saja sayang, ngapain makan bekas Gerald sih. Kasihan tahu bayi kita dapat makanan yang bekas." Protes Rizki tak terima istrinya makan bekas pria lain, walau pun itu sahabat dekat mereka sendiri.
__ADS_1
"Gini aja kok seneng banget yah." Batin Gerald entah kenapa sangat senang di kehamilan Melodi ini, dia begitu di buat dekat dengan wanita penguasa hatinya namun berstatus istri sahabatnya sendiri itu.
"Tapi aku pengen By makan yang punyanya Gerald, boleh yah." Ucap Melodi memelas.
"Nggak boleh." Tegas Rizki tak mau di bantah.
"Ya sudah, Ger tolong ambilkan makanan yang baru untukku dong." Ucap Melodi tak habis akal. Jika dia tak di izinkan memakan makanan Gerald setidaknya pria itu mengambil makanan untuknya.
"Sayang, kamu apa-apaan sih. Kan kamu bisa minta aku buat ambilkan untuk kamu, kenapa mesti Gerald sih." Kesal Rizki benar-benar tak bisa di tahan kekesalannya kini.
"Aku maunya Gerald yang ambil By." Ucap Melodi dengan mata mulai berkaca-kaca, sedih karena Rizki terus saja melarangnya. Padahal dia hanya ngin makan di ambil Gerald saja, Rizki tak mau.
"Sayang, kenapa mesti Gerald sih. Itu maksud aku, kan aku bisa mengambilnya untukmu. Aku suamimu sayang, bukan Gerald." Ucap Rizki tak bergeming, melihat Mata berkaca-kaca Melodi, tapi dia sedikit melembutkan ucapannya agar istrinya itu tak terlalu sedih.
"Aku nggak tahu By, aku hanya ingin makan di ambil Gerald By." Sahut Melodi lirih tanpa terasa air matanya pun menetes.
"Jangan nangis lagi yah, Gerald udah pergi ambil tuh. Maaf sudah buat kamu sedih." Ucap Rizki sambil berdiri dan memeluk kepala Melodi yang sedang duduk dan mengusapnya.
Sementara Saga dan Bella hanya menonton saja, mereka tak mau ikut campur urusan ngidamnya Melodi. Karena takut di bentak wanita hamil itu lagi seperti tadi.
Melodi yang keinginannya sudah dituruti Rizki pun hanya mengangguk dan menghentikan tangisnya.
"Sayang lain kali jagan minta yang aneh-aneh lagi yah. Kalau mau minta ya pada Dedy saja yah, jagan ke orang lain.." Bisik Rizki saat menunduk dan mencium perut Melodi.
Dia tahu keinginan Melodi pasti semua karena bawaan ngidamnya, jadi meski kesal mau tak mau dia akhirnya mengijinkan untuk menuruti keinginan istrinya itu.
Namun jauh di lubuk hati terdalamnya, dia ada rasa cemburu terhadap Gerald karena pria itu selalu saja ada dalam lis ngidamnya Melodi.
Mulai dari mengelus perut sampai makan pun selalu Gerald yang Melodi mau..
__ADS_1
"Kenapa kamu senyum Sag, ada yang lucu.?" Tanya Bella pada Saga yang sedang menatap kedatangan Gerald dengan membawa makanan untuk Melodi.
"Nggak kok." Jawab Saga sambil tersenyum pada Bella kemudian kembali menatap ke arah Gerald lagi.
"Lo terlalu berlebihan menyayangi ibunya Ger, itu sebabnya bayi diperutnya Melodi juga ikut merasakan cintamu terhadap ibunya itu." Batin Saga sambil menatap Gerald, bersamaan dengan pria itu juga menatapnya dengan senyum kecil namun bisa di lihat Saga.
"Setidaknya hatiku bisa sedikit terhibur dengan keinginan ngidamnya Melodi ini." Batin Gerald menatap Saga dengan senyum kecilnya.
Setelah menunggu beberapa saat untuk Melodi menghabiskan makannya, mereka langsung beranjak untuk bersalaman pada pengantin.
Namun saat hendak melangkah mereka tak sengaja bertemu tatap dengan Larissa yang baru saja datang dengan seorang pria yang mungkin seumuran Bima kakaknya Melodi.
Tak ada yang saling sapa, Larissa langsung melewati mereka begitu saja dengan wajah datar.
"Udah ada yang baru aja tuh." Celetuk Saga.
"Tahu kan." Timpal Gerald.
"Kalian ini, nggak usah urusin hidup orang." Nasehat Melodi, walau dia sedikit terkejut juga dengan Larissa.
Baru juga ingin melangkah, mereka kembali di buat berhenti saat mendengar keributan di belakang mereka. Tepatnya di tempat keberadaan Larissa kini.
Mereka sedikit terkejut saat melihat Larissa sedang menghardik seseorang sambil meremas tengkuk seorang wanita yang juga sekampus dengan mereka, tepatnya teman kelas Anzas.
"Kau tak ada hak mengomentari hidupku, aku seperti apa bukan urusanmu." Ucap Larissa tegas dengan tatapan tajamnya tepat di depan wajah wanita itu dan kemudian menghempaskan kasar wajahnya.
Setelah itu Larissa langsung mengajak pria yang bersamanya untuk pergi ke podium pengantin untuk bersalaman. Dan mungkin saja setelah ini mereka akan langsung pergi karena Larissa kini sedang menjadi topik pembicaraan teman-teman kampus mereka yang hadir.
To Be Continued⬇️
__ADS_1