Di Paksa Menikahi Teman Baikku

Di Paksa Menikahi Teman Baikku
Maafkan Aku


__ADS_3

Usai berbicara dengan Gerald, Rizki langsung beranjak pergi meninggalkan Gerald yang juga tak menatapnya melainkan lebih memilih menatap ombak laut yang seperti menggambarkan isi hatinya saat ini.


Rizki berjalan dengan Rahang mengerasnya menuju ke arah luar Vila tepatnya parkiran mobilnya yang dia tujuh.


Saat ini dia sedang tak ingin menemui Melodi dengan keadaan kacau seperti ini, itu sebabnya dia lebih memilih untuk menenangkan pikirannya sejenak di parkiran kini.


"Sial." Ucap Rizki kesal sambil menendang ban mobilnya. Dia lupa jika tak membawa kunci mobilnya saat ini. Alhasil, Rizki lebih memilih untuk berjalan keluar pekarangan Villa menuju dan berjalan-jalan sebentar di luar area Villa itu.


Saat melihat warung kecil yang tak jauh dari tempanya saat ini, Rizki langsung memutuskan untuk melangkah ke warung itu.


"Buk, kopinya satu yah. Boleh antar kan ke sana." Ucap Rizki menunjuk pantai yang sedang di penuhin anak-anak kecil.


"Boleh Mas." Ucap Ibu itu, dan Rizki pun langsung beranjak ke salah satu akar pohon yang berhadapan langsung dengan pantai.


Tak berselang lama, kopi pesanannya pun sampai beserta gorengan yang tak dia pesan.


"Makasih yah Buk, tapi aku nggak pesan gorengan." Ucap Rizki.


"Hehehe, itu sepaket dengan kopinya. Biar lengkap, kopi tanpa gorengan nggak asik Mas." Kata Ibu itu dengan tersenyum malu menatap Rizki.


"Baiklah, terima kasih." Ucap Rizki namun Ibu itu tak beranjak sedikitpun dari hadapannya.


"Ada lagi Buk?" Tanya Rizki.


"Eh eh, nggak ada ko. Ibu permisi yah." Ucap Sang ibu salah tingkah, sebab kepergok menatap takjub Rizki.


"Ada ada saja." Batin Rizki setelah itu di langsung menyesap kopi buatan Ibu itu, yang tenyata sangat pas di lidahnya.


Du tiga sesapan, Rizki langsung menaruh kopinya. Menatap Laut dengan pandangan kosong karena pikirannya kembali tertuju pada obrolannya dengan Gerald tadi.


"Ki." Panggil Gerald.


"Lo suka sama Melodi?" Tanpa menjawab sapaan Gerald dan menghadap Pria itu, Rizki langsung mengucapkan kalimat yang mampu membungkam dan menghentikan langkah kaki Gerald seketika dan Rizki bisa merasakan itu.


"Kamu tahu?" Tanya Gerald setelah cukup lama terdiam.


"Jadi benar kamu menyukai istriku? Sejak kapan?" Tanya Rizki masih tak melihat ke arah Gerald.


Rizki merasa langkah Gerald semakin mendekatinya, bahkan pria itu mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Rizki.

__ADS_1


"Aku tak tahu, hanya saja dari awal aku sudah mengaguminya." Jawab Gerald.


"Tapi dia sekarang sudah menjadi istriku, apa perasaanmu masih sama?"


"Maafkan aku." Jawab Gerald Membuat Rizki mengepalkan kedua tangannya dan langsung beranjak pergi. Dia takut pembicaraan mereka akan berakhir tak baik nanti.


"Kenapa Ger, kenapa harus lo sih. Kenapa juga harus Melodi yang lo suka." Ucap Rizki lirih setelah sekilas mengingat percakapannya dengan Gerald tadi.


"Halo." Ucap Rizki saat mengangkat panggilan yang sejak tadi dia hiraukan.


"Kamu di mana By, kok keluar nggak ngajak aku." Terdengar suara serak Melodi dari seberang sana, yang dia pastikan istrinya saat ini sedang menangis sekarang.


"Maaf sayang, Abang balik sekarang. Tadi hanya cari angin doang, kan kamu tidur." Kata Rizki sambil beranjak membawa Gorengan dan Kopinya kembali ke warung.


"Cepetan, nggak pake lama."


"Iya sayang." Ucap Rizki dan dia langsung mematikan panggilan mereka.


Setelah membayar kopinya, Rizki langsung bergegas balik ke Vila. Dia takut jika istrinya itu tak akan berhenti menangis jika dia lama sampainya.


Saat sampai Vila, Rizki berpapasan dengan Gerald yang juga hendak kembali ke kamarnya..


Tanpa menyapa Rizki langsung bergegas melangkah, tak menghiraukan Gerald yang menyapanya.


"Kamu pesan makan?" Lanjut Rizki.


"Yah, aku lapar sekali tadi. Mau memintamu memesan makan. Eh malah kamu nya nggak ada By. Ya sudah aku minta Gerald saja buat pesankan, tadinya mau hubungin mahesa tapi nggak ada nomornya.


Mendengar itu Rizki seketika di landa khawatir, hingga dia dengan mantapnya mendekati Melodi dan mengatakan hal membuat Melodi berhenti mengunyah makanannya.


"Kita balik setelah kamu makan Sayang." Ucap Rizki.


"Bukannya nanti malam baliknya By, ko mendadak?" Tanya Melodi, sebab mereka sudah sepakat jika akan balik jam tujuh malam nanti biar kendaraan di jalan tak begitu ramai.


"Nggak, aku ada kerjaan nggak bisa di tunda." Ucap Rizki membuat Melodi hanya manggut-manggut.


"Baiklah, kalau gitu bilang yang lain aja sekalian."


"Nggak usah, mungkin mereka masih mau berlibur. Biar kita balik sendiri saja." Ucap Riski dan dia langsung membereskan barang-barang mereka.

__ADS_1


"Oh oke." Kata Melodi sambil kembali fokus pada makanannya..


"Kamu tunggu di sini, aku bawa turun barang kita dulu jangan kemana-mana." Ucap Rizki saat dia hendak keluar kamar.


"Siap pak Bos." Ucap Melodi sambil tangan kananya dia letakan di keningnya.


Melihat itu seketika mood Rizki yang tadinya buruk kini hangat kembali.


Saat baru membuka pintu Rizki di kaget kan dengan sosok Gerald yang sudah berdiri di depan pintu kamar mereka.


"Mau apa lo." Tanya Rizki tak suka, mood yang sudah membaik kini kembali buruk saat melihat Gerald.


"Siapa Dady." Tanya Melodi dari dalam.


"Nggak ada, hanya orang kerja." Ucap Rizki dan dia langsung menutup pintu kamar mereka.


"Kita harus bicara Ki." Ucap Gerald, dia tak enak dengan keadaan seperti ini.


"Bicara apa lagi, bukanya tadi sudah. Aku nggak punya waktu." Ucap Rizki dan langsung melangkah pergi.


"Maafkan aku Ki, aku tak bisa mencegah perasaan ini." Ucap Gerald sambil menendang dinding di sampingnya.


Sungguh dia juga ingin sekali menghilangkan perasaan ini, tapi entah kenapa perasaannya semakin menjadi ketika dia ingin melupakannya.


Dia benci dengan perasaannya sendiri, yang tak bisa dia kontrol padahal dia tahu perasaannya ini sudah tak pantas ada lagi saat ini. Namun dia bisa apa, haruskah dia menjauh dari kedua sahabatnya ini biar dia bisa melupakan tentang perasaannya.


"Kenapa, kenapa kau terus tumbuh tanpa seijin ku." Gerald tak henti-hentinya meninju dadanya sendiri.


Dia benci dengan perasaannya, perasaan yang kini akan menghancurkan persahabatannya dengan Rizki.


"Lo gila." Ucap Seseorang membuat Gerald menatapnya.


Melihat orang itu Gerald langsung mengusap air matanya dan lekas beranjak dari sana.


"Hey, aku sedang bicara denganmu." Ucap Orang itu lagi sambil berjalan mengikuti langkah Gerald.


"Berhenti mengikuti ku Kanaya, aku ingin sendiri." Ucap Gerald saat mendengar langkah kaki yang terus mengikutinya.


"Kau punya masalah apa dengan Rizki?" Tanya Kanaya karena tadi dia yang baru saja keluar kamar dan tak sengaja mendengar sekilas pembicaraan Gerald dan Rizki.

__ADS_1


"Bukan urusan lo." Gerald langsung melangkah lebar meninggalkan Kanaya.


"Dia bisa menangis juga rupanya." Ucap Kanaya sambil melihat kepergian Gerald.


__ADS_2