Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
persoalan baju


__ADS_3

Maira kebingungan dengan sikap Gaara barusan. Apakah dirinya melakukan kesalahan?


Seperti nya tidak. Pikir Maira.


Gaara berlalu menaiki anak tangga. Maira kebingungan, mengikuti langkah laki laki yang baru saja meninggalkan nya melangkah menuju kamar.


Maira tertinggal beberapa langkah, dirinya berupaya mengejar Gaara.


Pintu kamar terbuka, Maira yakin kalau ia bisa masuk bersamaan dengan pintu yang Garra buka.


Dan bukkkkkk ..... ...... .....


Pintu kamar tertutup lebih cepat dari gerakan Maira. Wajahnya menempel pada daun pintu. Dan sudut bibir Maira mengeluarkan darah segar yang terasa seperti logam.


"Auh." Maira meringis memegang sudut bibirnya.


Pintu kembali terbuka terlihat wajah dan tatapan mata dingin sedang memandang Maira.


"Kau sengaja." Gaara berjalan mendekati Maira.


Tatapan Maira masih terlihat kesal. Ia memegangi bibir nya yang terluka dan mengeluarkan darah itu.


"Aku masih tahu berterima kasih. Karena pundak mu yang sudah ku pakai tidur." Gaara berkata.


Menatap bingung, serta menahan rasa sakit. Maira merasakan logam asin.

__ADS_1


Jari tangan Garra menyentuh bibir gadis itu gerakan nya benar benar membuat nyaman. Maira kaget menatap pergelangan tangan Garra yang menyentuh salah satu area sensitif wanita.


Satu tangan Gara mulai memegang tengkuk Maira. Gadis itu menatap kebingungan. Dirinya di buat merinding lagi.


Sementara Maira masih mematung dengan pikiran liarnya.


"Adegan nya seperti di film yang aku tonton bersama Reina tadi." Maira membatin, tatapan matanya tak berkedip sama sekali menatap wajah Gara sedekat itu.


Hampir tak ada cela diantara mereka. Sorot mata menginginkan sesuatu, sebelum laki laki itu teringat sesuatu bersamaan dengan pupil matanya yang membesar.


Gaara menarik diri. Berjalan kearah ruangan baju. Dirinya membuka jas yang membalut tubuh kekarnya.


Terlihat otot otot perutnya yang mencuci mata, Maira terjagat sambil menundukkan pandangan nya.


Wajah Maira merona tak karuan. Sekilas ia tersenyum. Namun, senyuman itu hilang saat suara Gaara terdengar


"Em ada yang bisa aku bantu." Entah apa yang Maira katakan dirinya seperti merutuki ucapannya barusan.


sejenak mereka saling diam, sebelum Gaara menyuruhnya.


"Buang baju itu." menunjuk dengan mulut nya ke arah baju yang ia letakkan di lantai.


Maira mengambilnya kemudian ia melihat sekeliling. Bingung mencari tempat baju kotor ada di mana, yang terlihat hanya tong sampah.


Ini baju kotornya di mana sih?

__ADS_1


Menajamkan penglihatan nya ke setiap sudut ruangan. Menyusuri ruang yang ada di dalam kamar.


Orang kaya emang beda. Di rumah simbok kamar udah sama lemari dan benda benda lain. Lah ini dari kamar mandi beda, ruang ganti beda, balkon minum teh beda, pemandangan balkon ke taman juga beda.


Masih memeluk baju yang baru di pakai Garra. Maira memeluknya di dada selama hampir ia mencari tempat baju kotor Garra.


Maira berhenti sejenak. Ia sedikit merasa kesal karena tempat baju kotor di kamar Garra yang luas ini sama sekali tak ada.


Padahal masih wangi gini. Kalo aku ya kali di cuci paling pake besok lagi nih baju, kalo aku yah.


Mengendus-endus baju Garra. Dan menikmati aroma mint pudar.


"Apa yang kau lakukan.? Suara itu mengagetkan Maira.


*A*staga! kenapa dia bisa bangun lagi.


Terdengar suara air yang mengisi gelas kosong.


"Tuan bisa meminta ku untuk hal itu" Mendekat dengan sedikit kaku.


"Kenapa baju nya masih di peluk. Buang gih." melirik tempat sampah di dekat pintu kamar mandi.


What ! di buang kan sayang.


"Aku gak pakai barang 2 kali." berjalan kembali ke ranjang dan membaringkan tubuhnya kembali.

__ADS_1


Wah, wah wah the real orang kaya.


Tanpa sadar Maira bertepuk tangan sambil menggelengkan kepalanya dan menatap takjub ke arah Garra.


__ADS_2