Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
kado pahit


__ADS_3

Maira menatap secarik kertas yang sudah bercoretkan tanda


tangannya itu. Benar benar menggores hati sampai berkeping keping. Sesakit


ini  kah mencintai seseorang tuhan.


Diletakannya Kembali kertas perceraian itu di atas meja.


Maira berjalan meninggalkan Sasha yang sedang menelfon. Sekarang apa? Dirinya


harus pergi sejauh mungkin. Kahadirannya sudah tidak di butuhkan.


Ulang tahun 23 ini adalah sebuah kado pahit. Sangat


menyakitkan. Maira berjalan keluar dari tempat diadakannya acara ulang tahun Sasha.


Kaki mungil itu berlari menjauh. Sejauh mungkin yang bisa


membawa gadis itu melupakan kejadian ini. Ringisan isak tangis menemani Langkah


mungil Maira. Menyeka kuat air matanya yang terus keluar.


Perih sakit melebur menjadi satu. Kobaran api itu menyisahkan


abu yang berharap ada angin kencang dan melenyapkan Bersama hembusan angin.


Sayang sekali itu hanya gambaran dari tak mampunya Maira menata perasaannya


yang sudah terlanjur sakit itu. Hanya karena selembar kertas sialan.


Maira sesugukan di ujung jalan.  Dirinya tak mengerti kenapa  bisa sesakit ini. Mana jiwa yang selalu ia


nampakan kalau dirinya baik baik saja. Kenapa sekarang raganya tak merespon


untuk berpura pura tegar dan tak peduli. Kemana keberanian bersandiwaranya sekarang.

__ADS_1


“Aku kemana sekarang.” Maira menangis layaknya anak kecil


yang kehilangan  arah.


Tak mungkin Kembali ke breskot. Dirinya sudah bukan istri


tuan Garra. Sesuai perjanjian selepas bercerai Maira tak akan membawa apapun.


Sekarang Maira bagaimana mau menjalani hidup dirinya saja


sudah akan luntang lantung di jalanan.  Tiba tiba dirinya merasakan mual luar biasa.


Maira sudah berlari sangat jauh. Dirinya baru ingat kalau


seharian ini sangat sibuk membuat gaun. Sampai sampai dia belum makan apapun.


“Sebaiknya kau tidak lahir di rahimku.” Maira berkata dengan


suara lirih. Tangannya mengelus lembut perut yang mulai membulat itu.


Hanya ponsel yang ada di dalam tas miliknya. “Aku harus balik ke rumah simbok


dulu.” Maira bergumam.


Jalanan yang hanya di terangi lampu dari sorot mobil atau


penerangan jalan membuat Maira sedikit menikmati udara yang dingin itu. menatap


cahaya langit malam yang luar biasa indah.


Cukup jauh Maira berjalan sekarang dirinya berada diantara


taman kota dengan beberapa tempat makan. Jangan tanya apakah Maira lapar atau


tidak. Dirinya bahkan tak bisa membedakan burger dan handpone yang berada di

__ADS_1


dalam mulutnya.


Maira menatap layarkaca yang retak karena gigitan itu.


dirinya tak punya apapun sekarang. Dia ingin pulang ke rumah simbok. Maira


berjalan kesalah satu pelanggan yang terlihat menikmati makanan sate. Dirinya


menginginkan itu.


Sudah tak tahan hanya menatapnya dengan air liur menetes.


Maira memberanikan diri. Menyapa dengan lirikan mata dan bibir terlipat


sempurna.  Laki laki menatap Maira


sejenak, melihat sorot matanya menatap sate kini laki laki itu paham apa yang


Maira inginkan.


Maira menolak di berikan secara Cuma Cuma. Sebagai


pertukaran Maira menjual handpone. Harga yang Maira berikan tak terlalu mahal.


Asal cukup saja Maira sampai kerumah simbok. Setelah mendapatkan uang dan


berterimakasih Maira segera pergi. Setidaknya dirinya pergi dengan membawa uang


yang cukup.


Dari kejauhan seseorang dengan setelah jaz rapi menghapiri Maira. Tentu saja Maira merasa takut. Langkah kaki nya berjalan mundur sebelum berlari dengan kuat.


"Maira." Panggil seseorang. Suara yang sangat familiar menyapa gendang telinga Maira membuat langkah mungil nya berhenti. Laki laki yang bertubuh tegap itu merentangkan tanganya menyambut hangat untuk Maira memeluknya.


Senyuman terukir indah di wajah gadis itu, berlari masuk ke dalam pelukan. "Aku sangat merindukan mu." Maira berkata dengan lelehan air mata, sekarang gadis itu tahu kemana dia harus bersandar.

__ADS_1


__ADS_2