
Maira menatap secarik kertas yang sudah bercoretkan tanda
tangannya itu. Benar benar menggores hati sampai berkeping keping. Sesakit
ini kah mencintai seseorang tuhan.
Diletakannya Kembali kertas perceraian itu di atas meja.
Maira berjalan meninggalkan Sasha yang sedang menelfon. Sekarang apa? Dirinya
harus pergi sejauh mungkin. Kahadirannya sudah tidak di butuhkan.
Ulang tahun 23 ini adalah sebuah kado pahit. Sangat
menyakitkan. Maira berjalan keluar dari tempat diadakannya acara ulang tahun Sasha.
Kaki mungil itu berlari menjauh. Sejauh mungkin yang bisa
membawa gadis itu melupakan kejadian ini. Ringisan isak tangis menemani Langkah
mungil Maira. Menyeka kuat air matanya yang terus keluar.
Perih sakit melebur menjadi satu. Kobaran api itu menyisahkan
abu yang berharap ada angin kencang dan melenyapkan Bersama hembusan angin.
Sayang sekali itu hanya gambaran dari tak mampunya Maira menata perasaannya
yang sudah terlanjur sakit itu. Hanya karena selembar kertas sialan.
Maira sesugukan di ujung jalan. Dirinya tak mengerti kenapa bisa sesakit ini. Mana jiwa yang selalu ia
nampakan kalau dirinya baik baik saja. Kenapa sekarang raganya tak merespon
untuk berpura pura tegar dan tak peduli. Kemana keberanian bersandiwaranya sekarang.
__ADS_1
“Aku kemana sekarang.” Maira menangis layaknya anak kecil
yang kehilangan arah.
Tak mungkin Kembali ke breskot. Dirinya sudah bukan istri
tuan Garra. Sesuai perjanjian selepas bercerai Maira tak akan membawa apapun.
Sekarang Maira bagaimana mau menjalani hidup dirinya saja
sudah akan luntang lantung di jalanan. Tiba tiba dirinya merasakan mual luar biasa.
Maira sudah berlari sangat jauh. Dirinya baru ingat kalau
seharian ini sangat sibuk membuat gaun. Sampai sampai dia belum makan apapun.
“Sebaiknya kau tidak lahir di rahimku.” Maira berkata dengan
suara lirih. Tangannya mengelus lembut perut yang mulai membulat itu.
Hanya ponsel yang ada di dalam tas miliknya. “Aku harus balik ke rumah simbok
dulu.” Maira bergumam.
Jalanan yang hanya di terangi lampu dari sorot mobil atau
penerangan jalan membuat Maira sedikit menikmati udara yang dingin itu. menatap
cahaya langit malam yang luar biasa indah.
Cukup jauh Maira berjalan sekarang dirinya berada diantara
taman kota dengan beberapa tempat makan. Jangan tanya apakah Maira lapar atau
tidak. Dirinya bahkan tak bisa membedakan burger dan handpone yang berada di
__ADS_1
dalam mulutnya.
Maira menatap layarkaca yang retak karena gigitan itu.
dirinya tak punya apapun sekarang. Dia ingin pulang ke rumah simbok. Maira
berjalan kesalah satu pelanggan yang terlihat menikmati makanan sate. Dirinya
menginginkan itu.
Sudah tak tahan hanya menatapnya dengan air liur menetes.
Maira memberanikan diri. Menyapa dengan lirikan mata dan bibir terlipat
sempurna. Laki laki menatap Maira
sejenak, melihat sorot matanya menatap sate kini laki laki itu paham apa yang
Maira inginkan.
Maira menolak di berikan secara Cuma Cuma. Sebagai
pertukaran Maira menjual handpone. Harga yang Maira berikan tak terlalu mahal.
Asal cukup saja Maira sampai kerumah simbok. Setelah mendapatkan uang dan
berterimakasih Maira segera pergi. Setidaknya dirinya pergi dengan membawa uang
yang cukup.
Dari kejauhan seseorang dengan setelah jaz rapi menghapiri Maira. Tentu saja Maira merasa takut. Langkah kaki nya berjalan mundur sebelum berlari dengan kuat.
"Maira." Panggil seseorang. Suara yang sangat familiar menyapa gendang telinga Maira membuat langkah mungil nya berhenti. Laki laki yang bertubuh tegap itu merentangkan tanganya menyambut hangat untuk Maira memeluknya.
Senyuman terukir indah di wajah gadis itu, berlari masuk ke dalam pelukan. "Aku sangat merindukan mu." Maira berkata dengan lelehan air mata, sekarang gadis itu tahu kemana dia harus bersandar.
__ADS_1