
“Saya tahu, kami harus melayani dengan sepenuh hati atas
klien kamu. Tapi, kami berhak menolak klien, jika memang perlu, anda harusnya
belajar tata Krama, dan saya pikir ucapan saya sudah jelas.” beritahu Maira yang
akan pamit.
“Oh dan lagi, saya tak bisa memenuhi permintaan anda yang
terlalu sempurna hanya untuk di kerjakan oleh desainer seperti saya.” Ucap Maira meninggalkan mereka.
Erian tersenyum melihat sifat Maira, jika banyak para
desainer yang akan menahan rasa sakit maka Maira berbeda, dia akan langsung
menjatuhkan lawan nya dengan cara tak terduga.
Maira berjalan keluar dari sky night, dengan wajah kesal. Terburu-buru meninggalkan tempat itu.
Entah kemalangan yang menghampiri nya atau Dewi Fortuna sedang berbaik hati, sehingga mempertemukan Maira dan Bian kembali.
“Mai, ngapain di sini.” Tanya Bian yang saat itu tengah
menelfon dengan seseorang tak sengaja matanya menangkap sosok Maira.
Maira yang kaget dan terserak membuat ia sedikit merasa mual. Matanya berkunang-kunang, dan kepalnya sedikit terasa
pusing. Maira jatuh di dada Bian, sambil memegang kepalanya yang sedikit pusing.
“May muka kamu tuh pucat gini abis ngapain sih di dalem.”
Protes Bian memperhatikan lebih intens wajah Maira.
Maira menarik diri, memegang kepalanya yang terasa sakit. Namun lagi lagi Maira yang terlihat akan muntah membuat Bian segera menarik nya masuk ke dalam mobil, karena suara Maira menarik perhatian beberapa orang di dekat mereka yang tengah lalu lalang
“Masuk mobil.” Nada perintah yang di ikuti Maira.
Bian mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit, namun Maira
yang tahu arahnya menahan Bian agar tidak membawanya ke sana.
“Bian, kamu kan tahu aku benci rumah sakit.” Ucap Maira
memegang tangan Bian yang tengah mengemudi.
“Tapi kamu lagi sakit Maira.” Ucap Bian dengan nada marah.
Menatap dengan tak suka sifat Maira yang keras kepala. Tapi, pada akhirnya Bian mengalah dan setuju.
“ Oke aku gak bawa kamu ke rumah sakit, tapi kita singgah
__ADS_1
di apotek.” Sahut Bian menancap gas mencari apotek.
“Ngapain sih.” Tanya Maira dengan nada lemah.
“Beliin kamu obat. Abis mau ngapain lagi ke apotik.” Sahut
Bian dengan marah.
Ucapan Bian tak lagi Maira lerai, tahu sifat Bian yang tak
jauh beda dengan Garra, yang sangat posesif. Yah walaupun tingkat posesif Garra lebih akut.
Melaju di jalanan, menyusuri dengan pelan untuk mecari
apotik terdekat, di sepanjang jalan.
Sementara di sky night
Erian berlari keluar dari dalam sky night, mencari sosok wanita yang tadi terlihat sangat marah, arah mata yang tidak tentu Membuat Erian ingin segera bertemu dengan Maira.
Mengingat bagaimana Maira menolak dengan mentah mentah ucapan Jenifer, dengan rasa kesal nampak di matanya.
Andaikan carson tak menahannya tadi, mungkin saja ia sekarang sedang bersama dengan Maira.
Walaupun Jenifer kesal, namun jika Carson yang menginginkan, maka
Jenifer akan ikut saja. Carson meminta bantuan Erian agar membujuk Maira
kembali, agar mau membuatkan baju untuk Jenifer nanti.
makanya harus di iyakan, agar lepas dari Carson yang hampir menyembah Erian.
Saat keluar dari sky night, Erian kehilangan jejak Maira.
Sama sekali hilang. Erian terlihat kesal bahkan Maira tak mengangkat ponselnya
walaupun sudah berulang kali menghubungi nya.
“Maira kamu di mana sih.” Gumam Erian kesal
Sementara di perjalanan Bian dan Maira, yang singgah di dekat
apotik, untuk membeli beberapa obat dan vitamin. Setelah itu kembali melaju di
jalanan, untuk beberapa saat Maira memejamkan kedua matanya menetralisir kan
perasaan yang begitu abstrak dari tadi malam.
Dan siapa yang menyangka, tanpa di sengaja mobil Bian berpapasan dengan mobil
Garra, di mana Bian yang membuka kaca jendela karena membuang tisu, dan Nampak jelas kalau yang di
__ADS_1
dalam itu Maira. Rama dapat melihat dengan jelas.
seperti nya Dewi Fortuna bukan sedang berbaik hati, tapi tengah menangis, karena kesialan sebentar lagi pasti terjadi.
“Nona maira.” Sebut Rama, spontan
“Kamu bayangin istri bos di otakmu, mau coba pakai otak dari
beruang.” Sahut Garra menatap kesal yang saat itu tengah memegang iPad di
tangan nya.
“Ah, maaf tuan aku sekilas melihat nona Maira tadi.” Sahut
Rama fokus mengemudi.
“Biarkan saja, lagian waktunya sudah aku kuras
sebagian hari ini.” sahut Garra kembali menatap layar iPad dengan santai.
“Kamu lihat dia sedang apa tadi.” Lanjut Garra bertanya,
sambil mengeluarkan ponselnya dari saku.
“Di mobil, bersama Bian.” Sahut Rama tenang
“Putar balik, kejar mobilnya, awas kamu sampai kehilangan
jejak.” Sahut Garra dengan wajah yang menghitam.
“Siap tuan.” Rama kamu seharusnya diam aja tadi. gumam Rama
pada dirinya sendiri.
Memutar kemudi, di jalanan yang tidak terlalu padat, membuat
mobil sport itu berkendara dengan mulus, lalu melaju di jalan mengejar mobil
Bian.
Tatapan Rama lebih fokus 5% di banding yang tadi. Mobil Bian
fortune yang di kendarai bian tak banyak yang memakai nya hingga sedikit mudah
untuk di tandai, hanya saja di mana mobil itu sekarang. Memasuki area padat
pengendara Rama harus pandai pandai mengatur laju mobil agar tetap selamat.
Rama dengan kecepatan di atas rata rata melaju, menyelip,
diantara mobil yang tengah berdempetan. Paham dengan tugasnya sekarang yaitu
__ADS_1
merangkak menjadi pembalap liar di jalanan padat.
Guys jangan lupa like dan comen yah vote juga, yang baca udah 3000an lho masa yang comen gak nyampe 10 sama like nya juga kurang banget, apa novel ini menyebalkan, katakan yah, biar author pindah lapak aja.