Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
Gaun


__ADS_3

"Orang gila macam ini Tuhan."


Dengan rasa takut bercampur kesal Maira mulai menanggalkan handuknya.


Tapi, baru saja Maira menampilkan sedikit belahan dada Garra langsung memalingkan wajahnya.


"Kamu boleh ganti baju di sana." Berbalik membelakangi Maira


Wajah Maira sesaat kebingungan. Namun tanpa pikir panjang Maira segera memungut gaun nya dan berlari ke ruang ganti.


"*Sial! P*adahal sudah banyak wanita yang berpakaian lebih minim di depan ku. Ada apa dengan ku melihat nya membuat dadaku spot jantung. "


"Jangan buat aku menunggu lama." ujar Gaara mengekor kan ujung matanya melihat maira yang berlari.


"Dasar mesum. Di pikirnya aku perempuan penghibur kali."


Mengganti baju secepat mungkin. Maira berharap kalau ia tidak mengecewakan Garra dengan penampilannya.


Entah kenapa pikiran seperti itu muncul di benak Maira.


Saat memakai gaunnya Maira kesusahan untuk menarik res leting di belakang gaunnya.


Apa lagi ini Tuhan. Semua pemberiannya mengisahkan ku. Mencoba menarik res leting di belakang gaun.


Menyerah, dan pasrah akhirnya Maira memutuskan untuk meminta bantuan Garra.


Tak selang lama Maira keluar dari ruangan ganti, mendekat ke arah Garra dengan wajah malu malu.

__ADS_1


Tepat berdiri di samping Garra dengan pandangan wajah ke arah lain.


"Ada apa.? Menatap Maira dengan pandangan ke atas.


"Aku kesusahan untuk mengancingkan gaunku. Bantu aku." Membelakangi Garra hingga menampilkan punggung yang putih dan mulus itu.


Garra menatap sesaat punggung Maira dengan tatapan elangnya.


"Kalau aku tidak mau bagaimana.?


"Ya, sudah aku akan minta bantuan pada Rama." wajah sedikit kesal dengan nada judes.


"Coba saja, akan aku bantu siapkan kuburan dengan satu lubang, lalu menanam kalian hidup hidup." ancam Garra yang berdiri menaikan res gaun Maira secara perlahan-lahan.


Mendengar ancaman Garra, Maira terdiam kaku menahan nafas.


Saat Garra selesai menyatukan res gaun Maira ia memainkan beberapa saat jari jarinya di leher Maira.


Maira merasa geli saat Garra melakukan hal itu. Karena merasa wajahnya semakin malu ia memutuskan unt menjauh dari Garra.


Sayangnya gerakan Maira kalah cepat dengan Garra. belum juga ia beranjak Garra susah lebih dulu memegang pergelangan Maira.


"Habis aku bantu mau langsung lari." menatap Maira dengan kesal.


"Lalu aku harus apa.? menarik pergelangan tangan dengan sarkas.


"Bantu aku kancing kan baju." menarik Maira mendekat ke dalam dadanya.

__ADS_1


"Ya ampun apa tangannya patah."


"Ku rasa tangan mu baik baik saja." menatap kedua tangan Garra.


"Aku sudah membantu mu, harus nya kamu bantu aku juga."


"Kancing kan baju ku." memasrahkan diri.


Dengan sedikit merasa terpaksa Maira mengancingkan baju Garra. Wajah Maira merona saat melihat dada bidang Garra yang ada roti sobeknya.


"Kamu rajin olahraga apa sampai bisa punya roti sobek." memperhatikan dengan begitu intens.


"Mau tau." dengan gerlingan nakal Garra memegang rambut Maira.


"Aku hanya penasaran saja." Mulai kalang kabut.


"Bukankah aku seperti lelaki idaman para wanita." bicara dengan bangga diri.


"Ah, aku ingin mengoreksi sedikit. Sepertinya tidak semua wanita." mengeratkan kancing baju Garra.


"Kau punya kekasih di luar sana." raut wajah Garra mulai tak senang.


"Apa itu penting sekarang." tatapan mata Maira menunduk tak berani menatap mata Garra yang sudah terlihat tajam.


"Kau itu istriku, selama menikah dengan ku sebaiknya jaga jarak mu dengan laki laki manapun termaksud kakak mu." memegang dagu Maira dengan sedikit bertenaga.


Wajah Maira terlihat ketakutan dengan tatapan ingin bersembunyi.

__ADS_1


__ADS_2