Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
Demam tuan posesif


__ADS_3

Lalu kembali ke kamar.


Memasuki kamar, Maira langsung menuju ruangan ganti. Membuka lemari dan mengganti pakaian dengan baju sexi berwarna pink.


Ucapan Garra membuat Maira merasa seperti mayat hidup yang harus


melayaninya dengan tubuh miliknya. Tak bisa menyalakan keadaan apalagi


perasaan, semua seperti sudah takdir.


Baju tidur kimono sexi, dengan dua lapisan membuat tampak


jelas belahan dan kulit mulus Maira.


Berjalan mendekat ke ranjang, dan sedikit keki Maira membaringkan tubuhnya di samping Garra yang masih duduk bersandar di kepala


ranjang. Maira menutupi tubuhnya dengan selimut, rasanya canggung sekali,


padahal mereka sudah sering melakukanya. Buat para istri apakah kalian


mengalaminya, comen di bawah yaa.


Garra melirik Maira dengan ekor matanya, lalu menatap dengan


tak percaya dengan apa yang dilihatnya hingga memutar kepalnya 180% ka arah


Maira.


“Heh mau menggodaku.” Gumam Garra hingga telinga nya merah.


Garra meletakan ponselnya kembali di nakas, lalu ikut membaringkan tubuhnya sejajar dengan Maira, tangan kirinya berada di kepala


sebagai pengganjal bantal.


“Kamu pakai baju kayak gitu, gak kedinginan apa.” Sahut


Garra melirik Maira dengan ekor matanya.


“Aku aja, sampe menggigil.” Lanjut Garra berkata dengan


sudut bibir terangkat.


Maira yang memunggungi Garra, mengembuskan nafasnya kasar


sebelum berbalik dan langsung memeluk Garra.

__ADS_1


“Biar aku hangatkan.”sahut Maira menahan suaranya di bantal.


Sudut bibir Garra terangkat sempurna menampilkan deretan gigi yang rapi,


tangan yang jadi alas bantal tadi langsung mengelus punggung Maira, dengan


lembut.


“Tubuh tuan Garra masih hangat, tapi tadi katanya dingin.”


Gumam Maira asik berfikir.


“Tubuh anda masih demam tuan.” Tanya Maira menyembunyikan


wajahnya di dada Garra.


“Asal kamu peluk aku aja, nanti juga reda sendiri.” Sahut


Garra membelai kepala Maira dengan lembut.


“Apa, kakakku baik baik saja.” Tanya Maira perlahan, menahan suaranya yang serak.


Garra kembali merasa kesal mendengar ucapan Maira, namun di


“Aku akan mengirim kakak mu ke Zimbabwe.” Ucap Garra spontan dengan nada tak bersahabat.


Dada Maira semakin terasa sesak, mendengar ucapan Garra.


“Apakah tuan harus memisahkan aku dengan kakak ku sejauh


itu.” Tanya Maira mulai sedikit emosi.


“Jangan memancing ku Maira.”sahut Garra dengan suara penuh


tekanan


“Tolong jawab aku.” Sahut Maira tak mau mendengarkan


“Amu bahkan tak berniat mempertemukan kalian berdua lagi.” Protes


Garra menekan kuat baju Maira.


Garra memijit pelipis nya, dengan sedikit kesal.


“Lalu bagaimana dengan Bian.” Sahut Maira mulai menatap Garra.

__ADS_1


“Astaga Maira, kau memancing ku sejauh ini hanya untuk


mengetahui kondisi Bian.” Teriak Garra mulai emosi


“Kau benar benar terlalu polos, kau akan kaget setelah


mengetahui yang sebenarnya.” Kembali menetralkan pikiran nya.


“Aku lebih tahu dia, aku mengenalnya.” Jelas Maira tak kalah


emosi


“Jangan membuat aku melampiaskan emosi dengan memakan mu.”


Jelas Garra kembali menahan emosi yang mulai naik pitam


“Aku bahkan akan melayani mu sampai nafas terakhir jika bisa


kau jelaskan, tentang apa itu.” Tantang Maira menatap manik mata milik Garra.


Ucapan Maira membuat Garra, hilang kesabaran. Menyibak kan


selimut yang membungkus tubuh mereka lalu dengan kasar Garra ******* bibir


Maira, merasakan hingga menjelajahi setiap inci bibir Maira tanpa aba aba.


Garra menatap ke dalam mata Maira, dengangn tatapan tak bersahabat. “ Sudah berapa lama gadis ini menangis.” Gumam Garra kembali


bermain di leher Maira, mengigit bahunya dengan sedikit tekanan.


Maira hanya bisa mendesah dan pasrah. “ ini akan jadi yang terakhir.”  Menggelinjang dengan kaku saat Garra bermain dengan brutal.


Setelah beberapa lama, Maira yang tanpa di lapisi kain, itu


merasakan hawa panas dari tubuh orang yang memeluknya.


Maira membuka matanya, tubuh Garra berkeringat, dan panas.


Rasanya kulit mulus Maira terbakar saat saling bersentuhan.


Maira kembali memakai bajunya yang berserakan di lantai, dengan panic menuju dapur lalu mengompres lagi dengan air es. Sayang nya sudah menunggu beberapa lama panas Garra tak juga turun. Maira panic sendiri.


Melihat jam yang pukul 12 itu membuat Maira


mengambil langkah pasti membawa Garra ke rumah sakit

__ADS_1


__ADS_2