
Maira menuntun Garra, dengan bersusah payah menuruni tangga,
mereka akan ke rumah sakit. Maira tak begitu ahli membawa mobil, tapi siapa lagi
yang bisa ia minta tolong kan, nomor Rama tak ada, dan ponsel Garra memakai
kode.
Dengan bermodalkan niat dan pengalaman yang di ajarkan Bian
saat membawa mobil, Maira mencoba menyetir.
Yah walaupun pelan namun pasti kalau mereka akan sampai
dengan selamat di rumah sakit.
Maira dengan was was membawa mobil mewah itu masuk, menuju
halaman rumah sakit. Dan tanpa di duga yang ia temui adalah Ali, yang terlihat
baru saja keluar dari pintu ramah sakit.
“Dokter.” Teriak Maira dari dalam mobil
Ali melirik asal suara, namun matanya tajam melihat mobil
Garra. “ Buset.” Ucap Ali berlari menghampiri
“Ada apa dengan bos Gara.” Sahut Ali membuka pintu mobil.
Awalnya Maira heran, kenapa dokter itu mengetahui Garra,
sebelum ingat Garra adalah orang berpengaruh di kota itu. ”Yah dia adalah orang
yang terkenal.” Sahut Maira dengan anggukan.
“Dia panas, seperti bayi. Anda dokter tolong obati saja dia.” Sahut Maira dengan suara lantang.
“Oh, sebelumnya bisakah dokter parkirkan mobil ini, aku tidak tahu membawanya.” Ucapan Maira membuat Ali menatap heran padanya.
Setelah berdebat beberapa lama, mereka membawa Garra ke ruangan khusus pasien utama. Ali memeriksanya dengan serius, sementara Maira menunggu dengan khawatir.
“Dokter, apa penyakit nya serius.” Tanya Maira spontan.
“Ah, maaf nona Garra, tuan hanya demam karena perubahan cuaca.” Jelas Ali ingin tertawa.
“Apa kataku, dia seperti bayi, perubahan musim saja dia
__ADS_1
sampai kena sakit,” sindir Maira cuek.
“Ah ia, di mana Rama.” Tanya Ali
“Oh, apakah kalian kolega.” Sahut Maira memastikan.
“Aku yang memeriksa mu waktu itu, saat anda sedang
hipotermia.” Sahut Ali tertawa kecil
“Ah, anda dokter tuan Garra.” Tersenyum dengan kaku.
“Sialan, rupanya dia adalah sahabat tuan Garra, mati aku!
Kenapa tadi aku mengatai nya anak bayi.” Gumam Maira merasa tak aman.
“Kami adalah sahabat.” Jelas Ali tersenyum hingga menangkap
pemandangan bahu yang terlihat jelas bekas gigitan. “Rupanya Garra belum
berubah.” Gumam Ali tak heran.
Maira menunggu dengan malas, di ruangan rumah sakit. Menatap
Garra dengan kesal namun juga kasihan.
Berjalan menyusuri ruangan pasien, sekilas Maira seperti melihat sosok Malik
sang kakak, karena di dalam masih seorang suster yang memeriksa makanya Maira menunggu beberapa
saat sampai suster itu keluar.
Untuk memastikan, Maira masuk perlahan dengan yakin setelah suster itu keluar. Dan
benar saja Maira membungkam kedua mulutnya, saat ia melihat kakaknya Malik yang
sedang di rawat dengan perban di kaki.
“Ka Malik,." seru Maira memeluk dengan tangis yang
pecah.” Mengguncang tubuh Malik agar sadar.
“Maira, aku gak mati.” Sahut Malik tersenyum
“Kakak udah sadar.” Sahut Maira antusias.
“Tembakan kakak tuh di kaki, bukan di kepala.” Jelas Malik
__ADS_1
mengacak rambut Maira.
“Ka, kakak harus pergi dari rumah sakit ini, karena kata
tuan Gara kakak bakal di kirim ke Zimbabwe.” Jelas Maira semakin takut.
Malik, kaget mendengar ucapan Maira, mengingat dirinya
pernah di asing kan ke Mongolia, membuat dirinya tak mau lagi di asing kan jauh kebelahan bumi lain.
Untung saja ada paman Marcel dengan membantunya saat itu, dan sudah pasti
Ellyana juga terlibat.
“Kamu bisa bantuin kaka.” Ucap Malik mencoba bangun
"Soal apa kak.” Sahut Maira membantu Malik untuk duduk.
“Kakak gak mau di kirim ke Zimbabwe, makanya kakak butuh
bantuan kamu." Jelas Malik mencabut semua peralatan yang menempel di badannya.
Kedua kakak beradik itu pun saling membatu sama lain, untuk
melarikan diri. Maira yang berperan di tengah malam membawa Malik dengan kursi
roda, namun sampai di pintu belakang rumah sakit menggendong Malik, lagi tanpa
kursi roda dan hanya menopang nya.
Sebenarnya Maira bisa saja membawa nya dengan mobil yang ia
kendarai tadi, hanya saja Malik melarang nya karena mobil BMW itu sudah pasti
ada alat pelacak nya, dan itu sangat merepotkan nanti.
Sepanjang jalan, Maira membawa Malik, ia bercerita tentang
keseharian yang menyenangkan bersama dengan Garra dan juga tempat ia bekerja.
Semua cerita Maira, hanya hal yang menarik, seolah
menyampaikan bahwa dirinya baik baik saja, agar sang kakak tak perlu khawatir.
Malik berhenti sejenak, mendengar nafas Maira yang berderu,
mungkin karena kelelahan membopong.
__ADS_1