
Erian memegang tangan preman itu hingga suara sendi nya
terdengar bersamaan dengan teriakan kesakitan.
Melepaskan dengan kasar, hingga para preman itu ketakutan.
”Aku akan menagih lagi janjimu besok.” Ucap preman bertubuh besar sambil berlari
masuk ke mobil.
“Di lihat dari pakaian nya mereka, pasti Devilnight.”
Memberikan sapu tangan pada Maira.
“Ah, apakah itu julukan mereka.” Terlalu menampakan diri
sebagai iblis.
“Ada urusan apa dengan mereka.” Penasaran, tatapan meminta
jawaban.
“Aku boleh enggak cerita yah pak Erian.” Mengembalikan sapu
tangan.
“Boleh.” Tersenyum pasrah. Ah sopan sekali
Setelah mengingat kejadian yang melintas itu Maira sedikit
merasakan malu pada dirinya sendiri. Berjalan kearah tempat tidur karena cuaca
dingin.
“Kenapa juga dia harus datang sih.”menjatuhkan diri di tempat
tidur.
Tok … tok … tok..
“Maaf nona permisi makan malam nya sudah siap.” Suara pak
Marta di balik pintu.
Hah, ini lagi satu,
aku lagi gak nafsu makan. Kenapa mereka selalu menyuruhku makan? Wajah kesal
dan dendam
“Ia,sebentar lagi aku akan turun, atau begini saja bawakan
makanan ke kamar ku yah, aku ingin makan di kamar saja.” Pinta Maira dari dalam
kamar.
__ADS_1
“Maaf nona, itu hanya berlaku kalau ada tuan.” Mana tahu
nona malah membuang semua makanan nya.
Dasar tuan gila, aku
seperti robot saja di buat nya.mengeluh dengan wajah kesal
“Ia aku akan turun.” Berjalan dengan hentakan kaki karena kesal.
Maira yang tak bisa menolak aturan yang ada di rumah itu,
dengan terpaksa sekali harus mengikuti aturan Garra dengan jiwa ingin berontak.
“Emm, pak Marta punya gak nomor Elly.” Tanya Maira sambil
mengunyah makanan.
Pak Marta hanya menggeleng, wajahnya berubah pucat seketika
karena pertanyaan Maira
Maaf nona, tuan Garra
tidak mengizinkan anda bersahabat dengan nona Willyana baby karena dapat merusak
pola pikir anda.gumam pak Marta merasa kasihan
Maira melanjutkan makanya dengan cepat, setelah itu ia
ingin meminjam uang pada tuan Garra.
“Kalau aku meminjam, lantas kapan aku akan mengembalikan
nya.” Pikir Maira sambil bergumam.
“Emm, tapi aku tidak akan pernah tahu, otak tuan Garra itu
kan licik. Bagaimana jika ia tak tertarik pada diriku sama sekali.” Meratapi
dirinya yang merasa kurang cantik.
Maira kembali mengumpulkan niat, namun saat melihat jam
sekarang sepertinya terlalu lama untuk sekedar mengumpulkan niat. Dari
sepulang kerja ia sudah akan berniat menghubungi Garra, dan membicarakan soal
ini namun hingga jam 12 malam kini, Maira masih juga bimbang dengan niat nya
itu. Padahal tahu sendiri, selain tuan Garra tak akan ada yang mau membantunya
apalagi meminjamkan uang sebanyak itu. Dan juga Maira tak punya kenalan yang
kaya selain tuan Garra, walaupun pak Erian menawarkan bantuan. Tapi Maira cukup
__ADS_1
tahu diri untuk tidak merepotkan orang lain.
Pada akhirnya Maira menyerah memaksakan otaknya untuk terus
berpikir mencari pinjaman selain tuan Garra. Maira pun mulai menggunakan
ponselnya mengetik sebuah pesan.
“Kalau di ingat-ingat aku sudah menjadi istri mu selama 2
bulan, bisakah aku merasakan sedikit kekayaan sang suami.” Isi pesan Maira
Merinding! Aku
merinding mengrimkan pesan ini pada orang aneh it. tatapan Maira melihat
angka di layar ponsel nya tanpa sadar hampir jam 1 malam. Gila ! sekarang aku benar benar sudah gila ini jam berapa aku mengirimkannya
pesan.menutupi dirinya dengan selimut karena merasa malu sendiri.
Ting ……..
Tatapan maira tajam menatap ponselnya yang di tinggalkan
luar selimut.
“Balasan.” Aku
tidak ingin membukanya, tuhan aku ingin segera mengubur diriku sendiri.
Padahal itu hanya kata di layar. Tangan Maira keluar dengan segan untuk meraih
ponselnya, perlahan lahan tapi pasti.
“Huff, baca Maira,ini bukan surat kematian.”menghela nafas
kuat, Menguatkan dirinya sendiri .namun wajahnya tegang.
“Apa.! Teriak Maira murka dengan wajah berapi api.
Aku sudah hampir gila
di buatnya dan ternyata ini adalah pemberitahuan dari selsomsel sialan kalau
ia membiayai SMS ku. Sekarang aku ingin benar benar menghilang saja.meratapi
nasib nya yang sudah tidak ada tempat untuk malu lagi.
Ting …
“Kamu tinggal di rumah mewah, makan makanan bergizi, pakaian
di tanggung. Apakah itu tidak termaksud menikmati kekayaan sang suami yang tidak
menuntut apapun dari istri yang tidak bisa apapun.” Membaca tanpa ragu walaupun
__ADS_1
setelahnya membenarkan ucapan Garra.