
Badan Maira benar benar Lelah. Dirinya kesakitan sementara
pagi ini dia harus sudah menyelesaikan desain gaun yang akan di pakai oleh Sasha
dan Garra. Berkutat di depan kain dengan beberapa asisten yang membatunya.
Termaksud Snefia.
“Benar benar romantic sekali tuan Garra ini.” Snefia bicara
“Benar. Tunanganya Kembali dan dia akan melamar di pesta
ulang tahun malam ini.” Sahut yang lain.
“Ah mereka pasangan yang serasi memang. Andaikan aku bisa
melihat langsung pasangann Romeo dan Juliet di abat ini. Rasanya benar benar
beruntung. Sayang sekali aku bukan orang kaya.” Ucapan dari lainya.
“Lalu bagaimana dengan istri sah dari tuan Garra. Apa
mungkin mereka bercerai.” Ucapaan lainya.
“Sepertinya istri tuan Garra itu tak benar benar mencintai.
Lebih baik mereka bercerai.” Ucapan yang
menusuk jantung Maira. Dirinya hanya diam dengan pasang telinga. Orang
membicarakan rumah tangganya. Sayang sekali banyak yang mendukungnya bercerai.
“Bagaimana menurutmu Maira.” Tanya Snefia melirik Maira yang
diam dan berkutat dengan beberapa kain di gunting.
“Benar aku setuju mereka bercerai saja. Sakit sekali pasti
menjadi istri dari tuan Garra itu.” Maira berkata tanpa melirik para
asisten yang membatunya.
“Maira perkataanmu terlalu dalam. Kau seperti menyampaikan
isi hati dari istri tuan Garra.” Ucapan
yang lain bergidik nyeri. Maira tertawa.
“Ini memang isi hati istrinya.” Sahut Maira menancapkan
pentul di bagian dada manekin yang di lapisi kain.
Para asisten menatap ngeri Maira saat bicara. Benar benar
seorang sikopat.
Hamper sore saat semuanya telah selesai. Maira mengantarkan
__ADS_1
langsung gaun itu kekantor Garra ditemani Snefia. Menunggu diruangan yang sama
saat pertama kali Maira menginjakan kakinya di wiliam group.
Dimana dirinya datang bersama Malik. Masih diruangan yang
sama dirinya juga menunggu untuk dinikahkan dengan Gara. Ruangan ini menjadi
saksi dari semua peritwa Maira. Menatap setiap sudut bibirnya terangkat naik
sebelum mereka di persilahkan masuk.
Seperti dejavu Maira masuk dan melihat adegan mesra kedua
pasangan itu tengah berpelukan dengan sangat erat. Dejavunya adalah pelukan
yang membedakan sewaktu dirinya memeluk Garra begitu handle pintu berputar, Garra
sigap menyingkirkan Maira dari pelukanya. Sementara Sasha masih bersandar
nyaman disana.
Sesak Kembali dada Maira saat melihat hal itu. tatapan
matanya memanas. Maira mengigit bibirnya kuat agar menyadarkan Kembali dan
mengingat statusnya.
Dengan dada yang masih bergemuru Maira mencoba bicara dengan
suara bergetar untuk sesaat. Tanganya terkepal kuat berusaha agar dirinya tak
“Ini adalah hasil rancangan gaun yang akan di kenakan nona Sasha.”
Maira bicara dengan senyuman di wajahnya. Tatapan matanya menghindari bola mata
Gara.
“Jika merasa ada yang kurang boleh complain.” Snefia menyerahkan gaun yang masih terbungkus
rapi didalam platik bermerek Yamor colletion.
Sasha terlihat antusias. Dirinya menatap kagum dengan hasil
tangan Maira.” Benar benar bagus.” Sasha memuji dengan gaun yang di dekatkan
ketubuhnya.
“Garra kamu gak mau cobaa.” Sasha menyarankan.
“Aku yakin udah pas.” Ucap Garra acuh.” Tatapan mata dingin itu tak berkedip menatap tubuh Maira
yang berdiri beberapa meter di hadapnya.
“Untuk proses pembayarannya anda bisa langsung mengirimkanya
pada rekening perusahaan. Senang bisa menjadi kepercayaan dari wiliam grup. Perusaahan
__ADS_1
kami sangat terhormat.” Maira setengah membungkuk sebelum beranjak pergi.
“Sasha akan memberikanmu hadiah katanya.” Garra berkata
tanpa berkedip. Mata sasha membulat dengan sempurna akan ucapan Garra. Apa
maksudnya coba. Maira terlihat menahan rasa ingin tahunya.
“Oh Maira. Abis ini kamu sibuk apaan.” Sasha bertanya.
Berjalan mendekat pada Maira.
“Kamu harus datang lho ke pesta ulang tahun aku.” Sasha memegang pegelangan Maira. Senyuman
dari gadis bernama Sasha itu sepertinya tulus.
“Kalo gitu aku bakal datang karena diundang langsung untuk
kedua kalinya.” Maira membalas senyuman Sahsa.
“Asistenya juga boleh datang.” Sahsa memiringkan kepalnya
menatap Snefia yang berada di belangakang Maira.
“Mau mau. Terimakasih yah.” Snefia menjawab sumringah.
Rasanya seperti mendapat jackpot dari tuhan dalam seumur hidupnya.
“Kalau gitu kami pamit dulu. Permisi.” Maira mulai melangkah
saat Sasha melepaskan genggaman tangannya.
Snefia tak henti hentinya tersenyum. Diriya baru saja
dianjak kepesta dari para kalangan atas. Luar biasa.
“Wah tunangan tuan Garra itu rama sekali. Cantik dan baik
hati. Pantas saja tuan Garra rela menunggu 2 tahun.” Snefia terus mengoceh
tentang Sasha. Mata Maira membulat mendegar ucapan Snefia yang ada benarnya. "Bagaimana menurut Maira? Apa kau setuju." Snefia lanjut bicara.
“Yah tuan Garra menunggu nona Sasha selama 2 tahun. Istrinya yang baru 5 bulan itu tidak
akan ada di hati tuan Garra secepat itu.” Maira berkata sinis. Ucapan itu untuk
dirinya sendiri
“Tentu saja.” Snefia menyahut yang membuat sudut mata Maira
mengembun.
Maira menurunkan Snefia Kembali
ke kantor sementara dirinya Kembali kebrescout.
Jangan lupa comentar kalian pada bab ini yah. Ig: PZAIMA
__ADS_1