
Kini giliran tuan Gaara yang duduk di kursi kebesarannya.
Semua bagaikan kehilangan mulut.
“Naikan semua harga saham, bagian pemasaran semua harga
naikan 5x lipat.” Garra bicara sudut bibirnya terangkat sempurna. Semua mata
menatap aneh tak percaya dengan apa yang tuan Garra baru katakan. Bagaimana
mungkin menaikan harga jual sementara mereka masih harus mencari pemasok dari
perusaahan lainya. Sangat aneh cara tuan Garra ini berfikir.
“Maaf bos. Tapi bukan kah ini menindas Sebagian prodak jual
yang sama. Bagaimana dengan konsemen tetap.” Protes salah satu meneger
pemasaran.
“Benar bos mereka akan sangat di rugikan dalam hal ini.
Sangat disayangkan jika mereka sampai berpindah produk nantinya.” Lanjut yang
lainya.
“Lakukan saja yang aku ucapkan. Dan lihat seperti apa nantinya
harga banding dari produk yang sama dengan merk berbeda. 1 minggu laporkan
pada ku soal penjualannya.” Garra berkata yakin. Pena di tangannya menjadi
simbol dirinya sudah memikirkan inni sejak 5 hari yang lalu di mana Rama
melaporkan bagaimana keuangan wiliam group saat ini.
Semua defiisi mengangguk paham. Jika sang bos sudah bicara
maka itu adalah perintah. Mereka tahu itu. menyampaikan argument di saat sang
bos sudah memberi titah sama saja seperti batuk darah tak ada gunanya jika
hanya mengeluarkanya selain mengobatinya bukan.
Garra dan Rama berjalan meninggalkan ruangan rapat. Dirinya
Kembali kedalam ruangan pribadinya. Beserta Nadia dan Rama sudah berada di
dekatnya siap menunggu perintah.
“Rama kapan waktunya.” Garra bertanya dengan tak sabar.
Garra yang dulu sudah Kembali namun ada sedikit sifat yang berbeda. Entahlah
apa itu sekarang belum terlalu yakin benarkah begitu?
“sekarang tuan.” Rama berkata dengan mempersilahkan tuanya
lewat lebih dulu.
“nadia hubungi nevan. Suruh dia ke fly night.” Garra berkata dengan terus melangkah. Sorot
mata Nadia bingung namun bertanya bukanlah ide yang bagus toh bukan urusanya.
Rama segera mengikuti sang bos melangkah.
__ADS_1
Berada di dalam mobil sport itu Rama memacu dengan sedang
dia merindukan pekerjaanya yang hanya santai dalam mobil. Rasanya terlalu lama
dia resain dari seorang sopir yang menjabat menjadi pmilik wiliam group selama
kurang 2 bulan itu.
“Rama. Hubungi Jode. Suruh ke flyningt malam ini.” Rama
mengagguk paham. Mobil sport itu melaju kembali ke breskout.
Memasuki rumah megah itu Gaara berjalan layaknya seorang
bos. Tanpa membiarkan Rama ikut masuk. Siapa tahu di balik pintu yang baru saja
tertutup rapat itu tubuh GaAra benar benar merosot jas yang kenakanya menyentuh
lantai yang dingin. Dirinya meringis merasakaan ketersiksaan yang teramat hebat.
Sosok Maira membuat perubahan yang sklusif pada diri Garra. Diluar dugaan
sekali.
Satu kakinya berselonjor lurus, satunya menekuk menyangga
tangan yang tak menyentuh lantai. Bayang bayang Maira Kembali teputar dengan
sangat intens di ruang imejenasinya. Dia sangat merindukan sosok gadis itu.
Menangis tanpa suara Gaara benar benar berada di kesakitan yang luar biasa. Omar
benar benar menyiksanya sampai setiap tetes darah Gaara menyesali perbuatanya.
Kejutan yang Omar katakan tak ada yang main main. Garra paham itu.
melemas seketika memasuki rumah yang penuh dengan kenaangan bersama Maira ini.
Kesan baik yang ditinggalkan Gaara sangat
sedikit. Entah bagaimana Maira mengingatnya nanti!
Matanya meneteskan air. Suaranya tertahan dengan telapak
tangan yang membungkam erat bibir laki laki yang bermata bir cerah itu. Mengigit sekuat kuatnya. Garra berada di siklus penyesalan. Ini adalah karma.
“Maira. Oh maira.” Garra bersuara lirih. Dirinya sangat
sangat tersiksa dengan kepergian gadis itu. Panggilan Gaara seperti suara yang
penuh dengan penyesalan.
Menyesal, kata yang teak perlu di ucapkan, jangan di tanya. Garra bahkan terlihat hancur
kerena kepergian gadis itu. Bola matanya menatap setiap sudut ruangan yang
penuh dengan keberadaan Maira saat bersamanya. Pijakan tangga di pertemuan
pertaman mereka saling memberikan sandaran untuk pertemuan yang akan sangat
membekas di benak Maira. Garra menatap nanar tangga itu. Ingin rasanya ia
hancurkan, sayang seklai itu adalah tempat cukup bersejarah di mana Maira
memberikan bahunya untuk garra terlelap.
__ADS_1
Garra meratapi kerinduanya pada Maira. Dirinya di siksa
rindu yang luar biasa hebat.
Sesaat sebelum dirinya Kembali bertemu Rama, Garra menarik
nafas dalam dalam sebelum dia keluar dengan sorot mata cerah namun tatapan
kosong.
Sesaat Langkah Gaara goyah. Kehilangan pijakan, dirinya
menyadari itu karena masih belum mampu untuk berdiri tanpa hadirnya Maira,
kekasih hati Gaara. Sakit sekali hati Garra mendapakan hukuman ini.
Rama Kembali berpcu dengan pedal gas. Membawa sang bos
ketempat pertemuan. Dirinya akan melakukan pembicaraan dengan Omar terkait soal
Maira. Dia yakin Omar ada di balik hilangnya Maira yang tk di temukan itu.
Perjalan itu tak berlangsung lama hanya saja tak sabar ingin
bertemu dengan seseorang yang menjadi tembok dirinya dan Maira itu.
Di sisi lain negara yang berbeda dari keberadaan Garra. Seseorang tengah duduk memangku kaki.
Menyesap sebatang rokok di depan wanita
yang tanganya terikat tali tanpa busana lengkap itu. Ellyana terlihat
menyedihkan. Tubuhnya tak lagi indah dan mulus. Bekas berwarna biru dan merah
terlihat jelas menjadi bagian dari kulit wanita itu. bengkak dan terlalu banyak
bekas darah. Dirinya tak lagi terlihat cantik.
“Sekarang apakah kau mengingnkan kematian. Hm.” Bian
berkata. Puntung rokok it dia tancapkan di tubuh Ellyana yang tak lagi
bersuara. Selama 2 bulan sejak
menceritakan niatnya pada Bian suaminya, Ellyana di bawah kabur ke Maldives. Katanya
berlibur alasan pada mertuanya itu Marcel wiliam ayah Ellyana.
Tibanya di sana Ellyana mendapatkan siksaan bertubi tubi
dari Bian. Dirinya bahkan mendapatkan perlakuan kasar dari Bian tanpa satu hari
pun.
“Pastinya bukan! Dari pada hidup menangung siksa. kau bahkan
menginginkan kematianmu secepatnya bukan.” Bian berkata dengan wajah menyeringai.
Dirinya terlihat seperti iblis yang sedang menghukum iblis. Bian tertawa jahat.
Hahahha
Hahhaa
Hahah
__ADS_1
jangan lipa yah comen di bahah tentang pendapaat kalian, yuk intip epoisode selanjutnya di ig: pzaima