Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
Karma Gaara


__ADS_3

Kini giliran tuan Gaara yang duduk di kursi kebesarannya.


Semua bagaikan kehilangan mulut.


“Naikan semua harga saham, bagian pemasaran semua harga


naikan 5x lipat.” Garra bicara sudut bibirnya terangkat sempurna. Semua mata


menatap aneh tak percaya dengan apa yang tuan Garra baru katakan. Bagaimana


mungkin menaikan harga jual sementara mereka masih harus mencari pemasok dari


perusaahan lainya. Sangat aneh cara tuan Garra ini berfikir.


“Maaf bos. Tapi bukan kah ini menindas Sebagian prodak jual


yang sama. Bagaimana dengan konsemen tetap.” Protes salah satu meneger


pemasaran.


“Benar bos mereka akan sangat di rugikan dalam hal ini.


Sangat disayangkan jika mereka sampai berpindah produk nantinya.” Lanjut yang


lainya.


“Lakukan saja yang aku ucapkan. Dan lihat seperti apa nantinya


harga banding dari produk yang sama dengan merk berbeda. 1 minggu laporkan


pada ku soal penjualannya.” Garra berkata yakin. Pena di tangannya menjadi


simbol dirinya sudah memikirkan inni sejak 5 hari yang lalu di mana Rama


melaporkan bagaimana keuangan wiliam group saat ini.


Semua defiisi mengangguk paham. Jika sang bos sudah bicara


maka itu adalah perintah. Mereka tahu itu. menyampaikan argument di saat sang


bos sudah memberi titah sama saja seperti batuk darah tak ada gunanya jika


hanya mengeluarkanya selain mengobatinya bukan.


Garra dan Rama berjalan meninggalkan ruangan rapat. Dirinya


Kembali kedalam ruangan pribadinya. Beserta Nadia dan Rama sudah berada di


dekatnya siap menunggu perintah.


“Rama kapan waktunya.” Garra bertanya dengan tak sabar.


Garra yang dulu sudah Kembali namun ada sedikit sifat yang berbeda. Entahlah


apa itu sekarang belum terlalu yakin benarkah begitu?


“sekarang tuan.” Rama berkata dengan mempersilahkan tuanya


lewat lebih dulu.


“nadia hubungi nevan.  Suruh dia ke fly night.” Garra berkata dengan terus melangkah. Sorot


mata Nadia bingung namun bertanya bukanlah ide yang bagus toh bukan urusanya.


Rama segera mengikuti sang bos melangkah.

__ADS_1


Berada di dalam mobil sport itu Rama memacu dengan sedang


dia merindukan pekerjaanya yang hanya santai dalam mobil. Rasanya terlalu lama


dia resain dari seorang sopir yang menjabat menjadi pmilik wiliam group selama


kurang 2 bulan itu.


“Rama. Hubungi Jode. Suruh ke flyningt malam ini.” Rama


mengagguk paham. Mobil sport itu melaju kembali ke breskout.


Memasuki rumah megah itu Gaara berjalan layaknya seorang


bos. Tanpa membiarkan Rama ikut masuk. Siapa tahu di balik pintu yang baru saja


tertutup rapat itu tubuh GaAra benar benar merosot jas yang kenakanya menyentuh


lantai yang dingin. Dirinya meringis merasakaan ketersiksaan yang teramat hebat.


Sosok Maira membuat perubahan yang sklusif pada diri Garra. Diluar dugaan


sekali.


Satu kakinya berselonjor lurus, satunya menekuk menyangga


tangan yang tak menyentuh lantai. Bayang bayang Maira Kembali teputar dengan


sangat intens di ruang imejenasinya. Dia sangat merindukan sosok gadis itu.


Menangis tanpa suara Gaara benar benar berada di kesakitan yang luar biasa. Omar


benar benar menyiksanya sampai setiap tetes darah Gaara menyesali perbuatanya.


Kejutan yang Omar katakan tak ada yang main main. Garra paham itu.


melemas seketika memasuki rumah yang penuh dengan kenaangan bersama Maira ini.


Kesan  baik yang ditinggalkan Gaara sangat


sedikit. Entah bagaimana Maira mengingatnya nanti!


Matanya meneteskan air. Suaranya tertahan dengan telapak


tangan yang membungkam erat bibir laki laki yang bermata bir cerah itu. Mengigit sekuat kuatnya. Garra berada di siklus penyesalan. Ini adalah karma.


“Maira. Oh maira.” Garra bersuara lirih. Dirinya sangat


sangat tersiksa dengan kepergian gadis itu. Panggilan Gaara seperti suara yang


penuh dengan penyesalan.


Menyesal, kata yang teak perlu di ucapkan, jangan di tanya. Garra bahkan terlihat hancur


kerena kepergian gadis itu. Bola matanya menatap setiap sudut ruangan yang


penuh dengan keberadaan Maira saat bersamanya. Pijakan tangga di pertemuan


pertaman mereka saling memberikan sandaran untuk pertemuan yang akan sangat


membekas di benak Maira. Garra menatap nanar tangga itu. Ingin rasanya ia


hancurkan, sayang seklai itu adalah tempat cukup bersejarah di mana Maira


memberikan bahunya untuk garra terlelap.

__ADS_1


Garra meratapi kerinduanya pada Maira. Dirinya di siksa


rindu yang luar biasa hebat.


Sesaat sebelum dirinya Kembali bertemu Rama, Garra menarik


nafas dalam dalam sebelum dia keluar dengan sorot mata cerah namun tatapan


kosong.


Sesaat Langkah Gaara goyah. Kehilangan pijakan, dirinya


menyadari itu karena masih belum mampu untuk berdiri tanpa hadirnya Maira,


kekasih hati Gaara. Sakit sekali hati Garra mendapakan hukuman ini.


Rama Kembali berpcu dengan pedal gas. Membawa sang bos


ketempat pertemuan. Dirinya akan melakukan pembicaraan dengan Omar terkait soal


Maira. Dia yakin Omar ada di balik hilangnya Maira yang tk di temukan itu.


Perjalan itu tak berlangsung lama hanya saja tak sabar ingin


bertemu dengan seseorang yang menjadi tembok dirinya dan Maira itu.


Di sisi lain negara yang berbeda dari keberadaan Garra.  Seseorang tengah duduk memangku kaki.


Menyesap sebatang rokok  di depan wanita


yang tanganya terikat tali tanpa busana lengkap itu. Ellyana terlihat


menyedihkan. Tubuhnya tak lagi indah dan mulus. Bekas berwarna biru dan merah


terlihat jelas menjadi bagian dari kulit wanita itu. bengkak dan terlalu banyak


bekas darah. Dirinya tak lagi terlihat cantik.


“Sekarang apakah kau mengingnkan kematian. Hm.” Bian


berkata. Puntung rokok it dia tancapkan di tubuh Ellyana yang tak lagi


bersuara.  Selama 2 bulan sejak


menceritakan niatnya pada Bian suaminya, Ellyana di bawah kabur ke Maldives. Katanya


berlibur alasan pada mertuanya itu Marcel wiliam ayah Ellyana.


Tibanya di sana Ellyana mendapatkan siksaan bertubi tubi


dari Bian. Dirinya bahkan mendapatkan perlakuan kasar dari Bian tanpa satu hari


pun.


“Pastinya bukan! Dari pada hidup menangung siksa. kau bahkan


menginginkan kematianmu secepatnya bukan.” Bian berkata dengan wajah menyeringai.


Dirinya terlihat seperti iblis yang sedang menghukum iblis. Bian tertawa jahat.


Hahahha


Hahhaa


Hahah

__ADS_1


jangan lipa yah comen di bahah tentang pendapaat kalian, yuk intip epoisode selanjutnya di ig: pzaima


__ADS_2