
Garra memandang kantong plastik dari Rama, ia kembali mengingat ucapan Ali yang mengatakan harus di baluri minyak angin di sekujur tubuh Maira.
Walaupun tidak terlalu parah namun jika di biarkan akan membuat Maira demam. Berulang kali Garra harus memikirkan ucapan Ali.
Rasa bersalah nya pada Sasha melintas di ingatan Garra. Ia kembali mengingat kenangan manisnya bersama dengan Sasha.
Tatapan Garra yang awalnya semu saat mengingat wajah Sasha tak sengaja bola matanya menatap wajah Maira yang tengah mengigil.
"Bagaimana mungkin aku menikahi gadis ini."
"Kalau pikir pikir kembali Malik hanya menipuku 3 miliar. Dan itu tidak seberapa jika melihat kondisi keuangan ku sekarang."
"Tapi, kenapa aku harus repot-repot menikah dengan gadis ini sebagai penebus utang."
Garra masih berdebat dengan pikirannya sendiri tentang pernikahan yang ia jalani dengan Maira.
Sampai ia teringat paman Marcel yang menjadi pemicu ia harus menikahi Maira.
Pikiran nya masih mengarah untuk menemukan jalan agar nantinya ia tetap bisa mencintai Sasha tanpa melibatkan perasaan orang lain.
Tanpa di sengaja jari telunjuk Garra menyentuh kulit Maira yang dingin. Fokus Garra teralihkan menjadi sedikit panik dengan keadaan Maira yang semakin kedinginan.
Dengan gerakan cepat ia mulai mengoleskan minyak angin ke sekujur tubuh Maira.
__ADS_1
Perlahan-lahan ia mengolesi di bagian kaki Maira lalu ia kembali menatap wajah Maira.
Tanpa pikir panjang Garra segera menyingkirkan selimut dan ia terkejut dengan pakaian nya yang berada di tubuh Maira.
Sebelah alis mata Garra terangkat dengan tatapan menyimpan pertanyaan.
Perasaan Garra mulai terbebani dengan kewajibannya yang harus ia lakukan seperti kata Ali
Garra mulai duduk di dekat Maira yang terbaring. satu persatu kancing baju kemeja maira ia buka.
Laki laki mana yang tahan saat sesuatu yang menggodanya ada di depan mata.
Sejenak Garra bingung harus mulai dari mana. Ia menatap minyak angin yang sudah ia tumpahkan di telapak tangan nya.
Lelaki dingin dengan rahang tegas itu sama sekali seperti tak memiliki gairah pada wanita saat ia mengolesi ke tubuh Maira.
Tatapan nya fokus ke satu arah dengan tangan yang maju mundur menyentuh kulit dengan lekukan yang menggairahkan hasrat laki-laki.
Minyak angin yang 100 ml ia habiskan di tubuh Maira dengan harapan kalau itu bisa secepatnya mengembalikan suhu tubuh Maira.
Garra pun menaikan suhu ruangan menjadi maksimal hingga akhirnya ia merasakan kepanasan di malah hari.
Garra yang tidak tahan akhirnya keluar dari dalam kamar. Ia berjalan menuju ruang tengah.
__ADS_1
Garra kembali menduduki kursi kebesarannya, tangan yang satu berada di dagu. Hawa panas masih ia rasakan dirinya pun masih di balut baju mandi.
Tak lama pak Marta seorang kepala bagian pekerja dalam rumah menghampiri dirinya.
"Adakah hal yang membuat anda sampai seperti ini." tanya pak Marta sopan.
Garra menatap sekilas, sebelum ia duduk normal lalu menanggapi ucapan pak Marta.
"Bagaimana keadaan di sana." tanya Garra sedikit termenung.
"Tak ada perubahan apapun dengan keadaan nyonya." tunduk lalu diam.
"Tuan Garra aku senang akhirnya anda menikah juga." ucapan pak Marta begitu tulus keluar dari bibirnya.
"Hubungan kami tak seperti sepasang suami istri." ucap Garra kemudian berjalan mendekati kulkas.
"Apapun yang anda lakukan itu adalah hak mu, aku hanya akan berdoa semoga semua baik baik saja." ucap pak Marta tersenyum tulus.
Kehilangan dua orang dalam satu waktu membuat Garra terpukul hingga rasanya ia ingin mengakhiri dunia ini.
Ibu Garra beserta Sasha secara bersamaan kecelakaan di hari yang sama. Kalau ibu Garra mengalami lumpuh hingga mengakibatkan ia tak mau bangun, ibunya tak memiliki semangat lagi untuk hidup.
Sementara Sasha yang koma sejak dua tahun lalu walaupun semua cara telah ia lakukan untuk penyembuhan namun hasilnya tetap nihil.
__ADS_1
Mengingat itu membuat hati Garra benar benar remuk. Garra kesulitan bernafas dengan mata yang mulai berair. Rasa kesalnya membuat ia menghancurkan beberapa peralatan mewah dalam rumah.