
Untuk beberapa saat.
“Kau kesal.” Melirik dengan ekor mata pada bibir Maira
“Gak sengaja ke gigit, sakit sekali.” Sahut Maira sedikit
manja.
Berkendara otomatis pun aktif, Garra menarik tengkuk Maira
menghadap padanya lalu kedua bibir itu pun bertemu, Maira yang awalnya
mengimbangi permainan Garra, merasa sedikit tertekan namun menikmatinya, sampai
Garra akan menarik diri, namun kalah cepat dengan tangan Maira yang langsung
mengalungkan tangan nya di leher Garra,
dan menit berikutnya
Garra yang harus mengimbangi Maira dalam permainan. Jelas
saja Garra kaget, karena Maira biasanya akan selalu berada di permainan nya
untuk mengikuti, namun kali ini Maira memimpin nya.
Bertaut dalam ciuman yang brutal, perut Garra menjadi taman
kupu kupu, sampai merasakan sesuatu yang asin, tapi bukan darah, lalu apakah
itu?
Gara merasakan cairan aneh yang semakin, banyak dengan, penasaran Garra membuka kedua matanya,
memperhatikan wajah Maira yang sangat dekat itu, ada air mata yang mengalir
sangat deras keluar dari benda yang dapat melihat itu.
“Air mata! Apakah dia sebahagia itu, saat berpisah dengan
ku.” Gumam Garra kesal.
Tangan kekar Garra kembali menarik tengkuk Maira lagi dan lagi, lalu kembali
mengambil alih pimpinan permainan, Garra dengan brutalnya menjelajah setiap
inci dari ciuman di bibir Maira.
Memasuki area Brescout Maira tertidur, dan Garra menggendong
nya ala brydel style. Hingga memasuki kamar.
Membaringkan Maira di atas tempat tidur, mengusap wajahnya
dengan ibu jari perlahan.
__ADS_1
“sebahagia itu kah, bercerai dengan ku.” Ucap Garra dengan
rasa iba
“Sayang nya aku tidak berniat cerai.” Ucap Garra menyeringai, lalu
beranjak pergi. “tapi jika dia datang, aku tidak akan mempertahankan mu.” Lanjut
Garra berjalan keluar dari kamar.
Garra menghubungi Rama saat berlalu menaiki mobil, meluncur
dengan gesit.
Di perjalan Garra dan Rama terjadi sedikit perbincangan yang
cukup menguras emosi.
“Kirim Malik ke Mongolia.” Titah Garra jutek.
“Maaf bos, luka di kakinya mengenai tulang kering, dan itu
cukup parah. Kita gak bisa mengirimnya dalam waktu dekat, seenggaknya tunggu
sampe sembuh dulu.” Rama memberi saran.
“Aku gak minta saran mu, lakukan saja seperti apa yang aku
lakukan.” Protes Garra kesal
kenapa kenapa.” Geram Rama menahan emosi.
“Keluarga nyonya cuman ada Malik, apa anda ingin dia
menghilang.” Lanjut Rama bicara dengan menghembuskan nafasnya kasar.
“Karena itu tujuan ku, aku akan melenyapkan semua orang
terdekat Maira, biar dia bisa bergantung dengan ku.” Sahut Garra berteriak kesal.
“Maaf bos, mungkin anda melupakan sesuatu, nantinya anda
akan bercerai dengan nona Maira, dan dia hanya memiliki Malik di dunia ini.”
Rama membahas mulai ke intinya.
“Sepertinya kau begitu yakin aku akan menceraikan Maira.”
Protes Garra. “kau terlalu tertarik dengan hubungan asmara ku, sadar akan
posisi mu sialan.” Lanjut Garra memaki.
“Maaf bos, aku hanya mengingatkan.” Pasrah Rama, tahu kalau
bosnya tak bisa di bantah.
__ADS_1
“Kau kirim saja dia ke zimbawe malam ini.” Garra kembali
memerintah.
“Baik bos.” Rama kaget mendengar ucapan Garra yang berubah
haluan.
“Oh, dan cepat lah kembali ke kantor, terlalu lama di kantor
polisi, apa kau mau resain dari sekretaris ku.” Teriak Garra emosi meledak.
“Maaf bos, ada beberapa kendala dari pihak polisi, namun
semuanya sudah beres, aku dan Nadia akan segera kembali ke kantor.” Sahut Rama
sedikit menahan emosi.
“Heh, sogok saja mereka dengan uang, sebanyak mereka minta
aku tidak miskin untuk bersedakah” Sahut Garra mematikan sambungan telfonya.
“Keterlaluan sekali bos ini, dasar bucin.” Ledek Rama
menyeringai
Sebenarnya apa sih niat bos Garra, kenapa dia terlihat
berbeda dari setiap sudut. Kadang begitu bucin , namun kadang akan terlihat
sangat arogan dan tak butuh cinta.
Tak habis pikir rama dengan sifat dari bosnya, yang terlalu
abstrak.
Bagaimana mungkin seorang dengan sifat pemarah dan terlalu
overthingking menjadi pemimpin dengan
strategi handal di bidang kepemimpinan. Gumam Rama tak habis pikir
Sedang asik larut dalam pikiran nya, sampai tak sadar dengan kedatangan Nadia yang
mengomel di sampingnya setelah mengurus bagian nya.
“Huh, apa para aparat disini hidung belang semua, membuat
ku muak saja dengan kehadiran para laki laki.” oceh Nadia terlihat sangat
kesal.
“Heh, kau akan sampai kapan memikirkan bos mu. Terlalu mudah
di tebak.” Sindir Nadia meninggalkan Rama yang masih dalam lamunan di otaknya
__ADS_1
tentang Garra.