
Nadia dan Rama melaju setelah berdebat untuk beberapa saat,
menancap gas keduanya meluncur kembali ke kantor.
Garra yang lebih dulu tiba menunggu dengan malas, menatap beberapa
berkas yang perlu di tanda tangani yang sedang berserakan di atas meja miliknya
menatap nya dengan acuh.
Tangan yang terus mengetuk ngetuk atas meja dengan irama, tatapan
tajam, bahu tegap dengan tangan yang satunya menopang di dekat telinga, sudah
pasti Garra tengah memikirkan Maira. Atau mungkin Sasha.
Bibir Garra terlihat memucat, dan badanya sedikit merasa
dingin, padahal sudah sejak tadi ia mematikan pendingin ruangan, namun tetap
saja merasa kedinginan.
Tak lama Garra merasakan mata nya yang panas, kepala yang
mulai pusing. Menunggu keduanya terasa menyebalkan.
Beberapa saat kemudian berlalu Rama dan Nadia memasuki
ruangan Garra, dan sudah hampir malam saat itu, dengan perasaan yang bimbang
Rama membangunkan bos nya karena desakan Nadia yang tak mau menunggu lebih lama
lagi.
“Maaf tuan bos, apa anda baik baik saja.” Setengah
mengguncang pundak Garra.
Garra membuka matanya dan reflek langsung memanggil nama
Maira.
“Maira.” Sebut Garra memegang tangan Rama.
“Maaf bos, anda baik baik saja.” Sahut Rama mulai merasa
janggal dengan Garra.
Gara tak menyahut, berdiri dan mengambil jas yang ada di
gantungan lalu menyambar kunci mobil, berjalan dengan sedikit tertatih untuk
beberapa langkah sebelum Garra berlari keluar.
__ADS_1
“Apa ini yang di namakan bucin.” Ucap Nadia menatap ngeri
pada Garra.
“Hmpttt.” Sahut Ramaa tak kalah dengan Nadia yang merinding
“Aku setuju dengan mu, kalau jatuh cinta itu mengerikan.”
Sahut Nadia sebelum ia mengikuti Garra keluar.
" Heh, udah ngebut di jalan pas datang malah di tinggalin, uhhh pengen deh ku maki rasanya." gumam Nadia sedikit menekankan suaranya.
Rama pun di tinggalkan di ruangan itu, seorang diri.
Garra menarik nafas lalu mengembuskan dengan kasar, mengingat
apa yang sudah ia katakan pada Maira tadi sore, setelah melakukan kejahatan
fisik pada kakaknya.
“Kenapa aku bisa sampai mengucapakan kata cerai pada anak
itu.” Ucap Garra menyesal
Menancap gas, kembali ke Brescout membelah jalanan berharap
roda mobil itu secepatnya membawa ia bertemu dengan Maira.
“Tunggu aku Maira.” Ucap Garra menginjak pedal gas.
dokumen penting salah satunya tentang media EMS, yang akan mereka akusisi,
namun entah apa yang mendorong Rama agar membaca kembali beberapa part dalam
media EMS tersebut.
Dan setelah meneliti dengan seksama ternyata benar, filing
Rama mengatakan ada kejanggalan. Seharusnya hari ini jadi, dan terlaksana utuk
resmi mengakusisi media EMS, namun karena kejadian di luar dugaan harus di
tunda besok.
Tak mau menebak seorang diri Rama menelfon Luis, untuk
membicarakan beberapa hal.
“Hallo, apa bos perlu bantuan.” Sahut Luis dengan nada
serius.
“Yah sepertinya ada yang bermain main Tarik ulur di belakang
__ADS_1
media EMS.” Jelas Rama spontan.
“Apakan pelakunya masih sama.” Sahut Luis menebak.
“Dari strategi sepertinya bukan.” Pikir Rama.
“Oke, ketemuannya di mana, masalah penting jangan bahas di
telfon.” sahut Luis meneguk minuman.
“sepertinya butuh waktu lama, aku masih harus memastikannya.”
Sahut Rama terus terang.
“Eh kalau begitu aku akan ke rumah sakit dulu.” Sahut Luis,
mulai tenang.
“Emm, informasi tentang nona Sasha” Sahut Rama tak bisa
menahan kepoan nya.
“Ah, aku tidak pernah mencintainya." Sahut Luis dengan penuh
penekanan.
Sebelum memutuskan sambungan telfon nya, Rama menyesali telah
bertanya hal seperti itu pada Luis, yang jelas dia sangat sangat sensitive.
Yah hubungan mereka termaksud ribet, karena bisa di katakan
cinta yang memiliki sudut dengan orang yang berbeda beda.
“Ah maaf tuan luis.” Saut Rama menyesal.
“Kau ngomong apa sih, sana cari calon istri. Entar bos mu udah
punya anak, kamu emang nya gak kepengen.” Cemooh Luis bernada jutek sebelum
memutuskan sambungan telfon.
“Astaga tuan Luis ini lagi ngelawak kah, jelas anda lebih
tua 4 tahun dari saya.” Ucap Rama menyeringai. Meletakan kembali ponselnya di
atas meja.
Kembali fokus pada soal akusisi, Rama membacanya dengan
sangat teliti dan menuliskan garis besarnya sebelum ia mengambil kesimpulan.
Setelah membaca beberapa lembar, senyuman miring terukir di
__ADS_1
wajah Rama, memandang dengan tak percaya sekaligus merendahkan. Senyuman yang
memiliki arti bukan.