Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
titik hitam


__ADS_3

Nadia dan Rama melaju setelah berdebat untuk beberapa saat,


menancap gas keduanya meluncur kembali ke kantor.


Garra yang lebih dulu tiba menunggu dengan malas, menatap beberapa


berkas yang perlu di tanda tangani yang sedang berserakan di atas meja miliknya


menatap nya dengan acuh.


Tangan yang terus mengetuk ngetuk atas meja dengan irama, tatapan


tajam, bahu tegap dengan tangan yang satunya menopang di dekat telinga, sudah


pasti Garra tengah memikirkan Maira. Atau mungkin Sasha.


Bibir Garra terlihat memucat, dan badanya sedikit merasa


dingin, padahal sudah sejak tadi ia mematikan pendingin ruangan, namun tetap


saja merasa kedinginan.


Tak lama Garra merasakan mata nya yang panas, kepala yang


mulai pusing. Menunggu keduanya terasa menyebalkan.


Beberapa saat kemudian berlalu Rama dan Nadia memasuki


ruangan Garra, dan sudah hampir malam saat itu, dengan perasaan yang bimbang


Rama membangunkan bos nya karena desakan Nadia yang tak mau menunggu lebih lama


lagi.


“Maaf tuan bos, apa anda baik baik saja.” Setengah


mengguncang pundak Garra.


Garra membuka matanya dan reflek langsung memanggil nama


Maira.


“Maira.” Sebut Garra memegang tangan Rama.


“Maaf bos, anda baik baik saja.” Sahut Rama mulai merasa


janggal dengan Garra.


Gara tak menyahut, berdiri dan mengambil jas yang ada di


gantungan lalu menyambar kunci mobil, berjalan dengan sedikit tertatih untuk


beberapa langkah sebelum Garra berlari  keluar.

__ADS_1


“Apa ini yang di namakan bucin.” Ucap Nadia menatap ngeri


pada Garra.


“Hmpttt.” Sahut Ramaa tak kalah dengan Nadia yang merinding


“Aku setuju dengan mu, kalau jatuh cinta itu mengerikan.”


Sahut Nadia sebelum ia mengikuti Garra keluar.


" Heh, udah ngebut di jalan pas datang malah di tinggalin, uhhh pengen deh ku maki rasanya." gumam Nadia sedikit menekankan suaranya.


Rama pun di tinggalkan di ruangan itu, seorang diri.


Garra menarik nafas lalu mengembuskan dengan kasar, mengingat


apa yang sudah ia katakan pada Maira tadi sore, setelah melakukan kejahatan


fisik pada kakaknya.


“Kenapa aku bisa sampai mengucapakan kata cerai pada anak


itu.” Ucap Garra menyesal


Menancap gas, kembali ke Brescout membelah jalanan berharap


roda mobil itu secepatnya membawa ia bertemu dengan Maira.


“Tunggu aku Maira.” Ucap Garra menginjak pedal gas.


dokumen penting salah satunya tentang media EMS, yang akan mereka akusisi,


namun entah apa yang mendorong Rama agar membaca kembali beberapa part dalam


media EMS tersebut.


Dan setelah meneliti dengan seksama ternyata benar, filing


Rama mengatakan ada kejanggalan. Seharusnya hari ini jadi, dan terlaksana utuk


resmi mengakusisi media EMS, namun karena kejadian di luar dugaan harus di


tunda besok.


Tak mau menebak seorang diri Rama menelfon Luis, untuk


membicarakan beberapa hal.


“Hallo, apa bos perlu bantuan.” Sahut Luis dengan nada


serius.


“Yah sepertinya ada yang bermain main Tarik ulur di belakang

__ADS_1


media EMS.” Jelas Rama spontan.


“Apakan pelakunya masih sama.” Sahut Luis menebak.


“Dari strategi sepertinya bukan.” Pikir Rama.


“Oke, ketemuannya di mana, masalah penting jangan bahas di


telfon.” sahut Luis meneguk minuman.


“sepertinya butuh waktu lama, aku masih harus memastikannya.”


Sahut Rama terus terang.


“Eh kalau begitu aku akan ke rumah sakit dulu.” Sahut Luis,


mulai tenang.


“Emm, informasi tentang nona Sasha” Sahut Rama tak bisa


menahan kepoan nya.


“Ah, aku tidak pernah mencintainya." Sahut Luis dengan penuh


penekanan.


Sebelum memutuskan sambungan telfon nya, Rama menyesali telah


bertanya hal seperti itu pada Luis, yang jelas dia sangat sangat sensitive.


Yah hubungan mereka termaksud ribet, karena bisa di katakan


cinta yang memiliki sudut dengan orang yang berbeda beda.


“Ah maaf tuan luis.” Saut Rama menyesal.


“Kau ngomong apa sih, sana cari calon istri. Entar bos mu udah


punya anak, kamu emang nya gak kepengen.” Cemooh Luis bernada jutek sebelum


memutuskan sambungan telfon.


“Astaga tuan Luis ini lagi ngelawak kah, jelas anda lebih


tua 4 tahun dari saya.” Ucap Rama menyeringai. Meletakan kembali ponselnya di


atas meja.


Kembali fokus pada soal akusisi, Rama membacanya dengan


sangat teliti dan menuliskan garis besarnya sebelum ia mengambil kesimpulan.


Setelah membaca beberapa lembar, senyuman miring terukir di

__ADS_1


wajah Rama, memandang dengan tak percaya sekaligus merendahkan. Senyuman yang


memiliki arti bukan.


__ADS_2