
“Untuk ulang tahun Sasha buat konsep dewasa, dan bawa Maira menemuiku di kantor siang ini.” Ucap Garra melangkah ke kamar mandi.
Bahkan tuan bos membahas mereka berdua dalam satu pembahasan, dasar pelit bicara. Gumam Rama
yang langsung menyiapkan jas Garra.
Yah sebelum ada Maira, Rama lah yang selalu menyiapkan segala kebutuhan Garra. Mulai dari pakaian dan makanan hingga ahirnya dirinya terbantu berkat kehadiran Maira.
Rama Kembali teringat syarat menjadi pemilik sah wiliam grup harus sudah menikah, entah apa jadinya Rama sekarang kalau Garra belum menikah. Mungkin benar kalau mereka berdua akaan menjadi pasangan abadi di mata
orang orang. Haha
“Tapi ngomong ngomong nona Maira harus di jemput di rumah Snefia.” Gumam Rama sambil memilih jas.
Semalam saat mencari Maira. Rama membutuhkan waktu yang tidak sedikit berkutat di jalanan yang dia lewati tadi malam hanya utuk mencari Maira yang menaiki mobil taxi, karena malam sudah larut dengan teramat kesal Rama
mengecek cctv mobil dan mencari taxi dengan DN yang sama lalu bertanya kemana membawa wanita itu pergi. Dan setelah tahu Rama melaporkannya pada Garra. Siangnya Garra sudah tahu lebih dulu setelah menyuruh Nevan seorang heacker mencari tahu lokasi Maira.
Sia-sia bukan usaha Rama, sudah bersusah payah malah tak berguna. Dan dengan santainya Garra menyebutnya lalai dan lambat.
Setelah Rama menyiapkan pakaian dan beberapaa dokumen yang perlu di bawah oleh Garra kantor. Rama
__ADS_1
berkutat membuat roti panggang seperti sebelumnya. Semua terjadi seperti sebelum Maira masuk ke kehidupan mereka 2-3 tahun lalu.
Di mana Rama akan menyiapkan sarapan untuk dua orang yaitu Garra dan Sasha sebelum berangkat ke kantor. Sasha gadis manja pemain biola hanya akan menghabiskan waktunya untuk mengasah kemampuanya. Tangan nya begitu sangat ia jaga bahkan tak bisa luka sedikitpun. Hanya saja kenapa ada laporan tentang oprasi di tangan kirinya, luka sayatan karena tali boila? Rasanya tak mungkin karena itu seperti bekas luka benda tajam, tapi apa penyebabnya?
Siang harinya di kantor, setelah beberapa saat melakukan rapat Garra yang sedikit lelah dan sehabis megamuk di depan para direksi karena kelalaian dalam menangani proyek perfilman membuat Gara naik pitam.
Melonggarkan dasi lalu membuka kancing kemeja dengan sarkas terlihat seberapa marahnya orang itu sekarang. Hingga dirinya tak melihat seorang gadis yang sedang berdiri di depan pintu toilet tengah menatapnya.
Dering ponsel membuat Garra segera meraihnya lalu menyapa dengan nada ketus.
“Ada apa.” Sahut Garra bertolak pinggang.
“ 30 menit lagi aku akan menyusul, maafkan aku sedikit terlambat.” Suara yang tiba tiba lembut itu tanpa sadar mengkap sosok gadis sedang tersenyum padanya.
Garra menutup ponselnya segara, dengan keadaan canggung keduanya saling diam. Sampai Maira melangkah ke sofa untuk mengambil beberapa berkas.
“Ini adalah desain gaun dan kemeja yang akan digunakan nanti di acara janji seperti katamu, kalau sudah cocok besok sore sudah akan selesai.” Jelas Maira yang sedang menelan bongkahan batu yang masuuk ke dalam tenggorokanya.
Garra menerimanya dengan semburat senyuman, ia melirik jari jemari Maira yang gematar dengan bibir yang di paksakan tersenyum.
Sakit rasanya melihat kebenaran kalau ternyata orang yang membuatnya tak pulang itu sama sekali tak
__ADS_1
peduli.
Mana rasa khawatirnya. Apakah dia sudah hilang rasa?
“Asisten dari perusahaan yamor akan diutus untuk mengambilnya jika tuan sudah siap menandatantanginya. Jika tidak ada lagi, saya permisi dulu.” Langkah kakinya berbalik berjalan menuju pintu.
“Sepertinya kau punya penyakit amnesia. Lupa jalan pulang semalam.Hm.” Pertanyaan yang membuat langkah Maira terhenti.
“Maaf tuan, aku ke sini untuk membahas gaun istri anda buat acara dengan dereksi. Kalau cocok nanti bakal diantar langsung dari perusahahaan kami. Aku kesini sebagai kolega bisnis.” Kaki mungil itu melangkah pasti. Tangannya memegang handle pintu berharap bisa menghilang dari hadapan orang yang telah hilang rasa itu. Hanya saja suara dingin pria yang dibelakangnya terdengar, otomatis Gerakan tangan memutar handle pintu tertahan.
“Aku bicara dengan istriku.” Tangan Kembali di masukan ke dalam saku celana, bersandar santai di depan meja. Bagaimana bisa seorang lulusan coumlaude bisa tak mengerti Bahasa. Bukankah Maira mengatakan dengan jelas
kalau dirinya datang sebagai kolega bisnis. Ohh Garra kata egois memang melekat pada dirimu. Cocok sekali.
Sudut bibir Maira tertarik, sesaat dirinya mencuri waktu untuk memejamkan matanya. menarik nafas dalam dalam dan mengembuskan nafasnya kasar. Rasa sakit hati belum hilang kini dirinya harus pandai mengatur emosi.
Seiring nafas yang keluar Maira mulai menguasai diri sebelum ia Kembali berekting. Senyuman palsu itu menampilkan deretan gigi yang rapi lalu berbalik manatap Garra.
“Ah setelah pulang kemarin, aku di jemput oleh rekan kerja ku karena ada beberapa yang harus aku selesaikan, jadi lupa balik karena lihat jam udah gak mungkin ada taxi, aku juga gak mau ganggu kamu sama tuangan kamu.” Jelas Maira melangkah mendekti Garra dengan suara yang manja dan langsung menghambur ke pelukan pria berdada bidang itu.
“HM.” Garra hanya berdengung. Garra sama sekali tak membalas pelukan Maira
__ADS_1