
Delusi Gaara.
Di lihatnya seseorang yang sedang memakai gaun pengantin
berwarna hitam dengan riasan make up yang tajam dan berani, gadis itu terlihat
seperti ibu peri yang jahat.
Gaara menatap dirinya dari pantulan cahaya di sana
dirinya menggunakan jas, oh apakah benar mereka akan melangsungkan pernikahan.
Gaara tersenyum pada Maira gadis yang berdiri diantara bunga bunga berwarna
merah yang mekar dan pelaminan yang indah.
Senyuman itu tak luntur untuk seorang Maira. Akan tetapi
garis kerutan itu memudar ketikan sosok lain dengan jas yang sama bersanding
dengan Maira. Dia adalah Luis. Tiba tiba saja seperti perosotan Garra terlihat
menjauh dari keduanya ternyata dirinya hanyalah tamu undangan.
Seketika semua orang terlihat jelas di sekelilingnya
menatapnya dengan tatapan tajam dan tak menerima dirinya di mana banyak mata
yang menampilkan sorot jijik bersamanya. Ohh hukuman Garra benar benar membuat
laki laki itu lebih memilih mati.
Kata kata yang dulu pernah dia ucapkan untuk Maira kini
telah berbalik padanya. Sekarang Gaara memilih untuk mati dari pada tersiksanya
dia.
Garra Kembali melihat keduanya berdiri dengan teramat senang
seolah pernikahan mereka adalah sesuatu yang bisa mengubah hidup jutaan manusia
saat itu. Di sisi lain Gaara merasa tertekan karena melihat sosok Geysha kakaknya
yang bunuh diri seolah mengetakan “ Aku
memilih mati dari pada hidup menyandang status sebagai kakak mu. Kamu
menjijikan Gaara.” Suara itu, suara Geysaha
seolah olah itu adalah ucapan nyata yang terdengar di telingan Gaara.
Penyiksaan belum berakhir di mana Geral adik dari Gaara yang di siksa sampai
mati oleh Marcel dengan tubuh yang berdarah darah dirinya bahkan terlihat
senang dengan ucapan yang membuat Gaara histeris. “ Cambukan ini aku
menyukainya karena sebentar lagi aku akan mati dan tidak akan pernah melihatmu
__ADS_1
sebagai kakak ku yang gagal. Kamu menyedikan Gaara.” Ya tuhan itu sehebat itu penyiksaan
nya.
“Tidak. Tidaaak akkkkk.” Gaara berteriak menutup telinga
dirinya teramat ketakutan. Sosok lain tiba tiba saja muncul dia adalah seorang
gadis Bernama Sena. “ Gaara menyukaimu adalah kesalahan terbesarku di dunia.
Jika di lahirkan Kembali jangan pernah menemuiku lagi. Kamu tidak pantas
menjadi manusia.” Ucapan demi ucapan dari orang yang telah meninggal membuat Gaara
lebih memilih mati secara perlahan lahan.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttttttttt
…………………
Suara dari alat yang menempel di tubuh Gaara kerana
kekurangan cairan membuat beberapa dokter mengalami kendala. Sangat
membingungkan.
“Dokter, keinginan pasien hidup hanya 20%.” Ucap suster
setelah memeriksa. Ali frustasi mendengar itu.
Usaha Ali dan dokter Syarif dalam upaya menyelamatkan
Ali yang terus memompa jantung Gaara tak berhenti walaupun
dirinya sudah sangat lelah. Sementara perjalan ke rumah sakit dari rumah Luis
memakan waktu.
Entah kenapa suasana nya menjadi semakin menegangkan. 3
mobil saling balap balapan menuju rumah sakit, Maira berada 1 mobil dengan Rama.
Nevan seorang diri dan Luis bersama Malik. Ketiga jagoan itu memacu laju roda
mereka dengan kecepatan tinggi.
Ali mengabari mereka di saat kondisi gerakan nafas Gaara
terlihat berbeda, tepat setelah suster memeriksanya ternyata mengalami
penurunan tekanan yang sangat drastis. Astaga tingkat kematian Gaara semakin
tinggi.
Ali terus menerus berusaha dan berdoa di bantu dengan dokter
Syarif. Semua terjadi dengan sangat membingungkan. Garra tak mengalami luka
pada bagian tubuh manapun melainkan mentalnya yang sudah rusak. Ini membuat
__ADS_1
para dokter bingung mengambil tindakan selain pertolongan awal.
Psikiater sudah banyak yang menolak menghadapi Gaara. Karena
tak ada perubahan bahkan beberapa psikiater banyak mengalami depresi akibat berbicara dengan orang yang terbaring
kaku.Dan itu karena paksaan Rama dan Ali.
Sepertinya Gaara menggunakan jurus transfer kejiwaan. Yang
sakit mental dia yang merasakan hampir orang orang di sekitarnya.
“Tuan Gaara tunggulah sedikit lagi.” Maira berdoa dalam
batinnya.
“Maaf hiks.” Maira menyesal. “Maafkan aku tuan, aku yang
bersalah di sini.” Maira memejamkan matanya dengan rapat.
Maira menutup wajahnya dengan telapak tangan. Gadis itu
terisak, bagaiman bisa dia menjadi manusia tanpa hati meninggalkan Gaara selama
itu.
Hiks …. Hiks …. Hiks …
Maira terus terusan menangis di sepanjang jalan. “Rama bisa
kah kau lebih cepat.” Maira berkata.
Gadis itu tak sadar kalau saat ini mereka dalam kecepatan penuh. Jika terjadi
kecelakaan maka sudah beda alam.
“Serahkan saja
denganku nona. Kita semakin dekat.” Rama bicara.?
Maira Kembali memejamkan matanya. Kegelisahan Maira nampak
begitu jelas, air mata yang terus menerus jatuh tentu saja yang melihatnya bisa
tahu akan hal itu.
Dering ponsel terdengar, seketika Rama menekan sambungan
spiker yang sudah dimodifikasi di mobil sahabatnya yang lain. Mereka terlihat
tegang. Rama menekan panggilan di terima.
“Gaara, dia ..” suara Ali terdengar lirih membuat yang
mendengarnya mematung khawatir.
“Bagaimana keadaanya, apa yang terjadi? Aku berharap itu
adalah kabar baik.” Suara Maira gemetar ketika bicara.
__ADS_1