Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
tindakan acuh


__ADS_3

"Kau ingin tahu." Garra bertanya dengan dingin. "kemana mereka." Beranjak dari duduknya mendekati Maira


Maira merasakan aura aneh dari laki laki yang mendekatinya itu. Perasaan takut dan gelisah seperti menjalar dengan mulus pada lututnya.


Rasanya lemas dan tak bertenaga sekali.


Hehe Apakah ini seperti pasangan romantis lainya di malam pertama. Batin Maira berteriak takut.


Maira berjalan mundur seiring langkah Garra mendekatinya. " Aku mau pipis. Dimana kamar mandinya." Maira berkata dengan lirikan mata menyelusuri ruangan kamar yang bercahaya remang remang itu.


"Dengar." Garra berkata. " Kamu gak ada urusannya dengan kehidupanku. Jadi aku juga gak ada alasan buat marah sama kamu." Garra menatap kedalam manik mata Maira. Tangan sialannya itu bergerak sendiri mengelus lembut dagu Maira sejenak.


Suasana seperti dirinya akan di terkam. Oleh karena itu Maira harus pintar melarikan diri dulu.


Saat tatapan Garra mulai menulusuri ke bawah, tiba tiba pintu kamar mereka di ketuk.


Tok ..... tok ....


Dua kali ketukan sebelum suara laki laki terdengar dari balik pintu.


"Tuan Garra, ibu dari nona sasha ingin bertemu dengan anda." Sang asisten berkata.


Mata Garra tertuju pada kancing baju Maira yang memperlihatkan belahan dada yang padat itu. Tapi telinganya setajam jangkrik untuk mendengarkan ucapan asisten.


Bola mata kembali menatap dengan penuh arti. Sebelum laki laki yang berparas rupawan itu pergi meninggalkannya tanpa sebuah kata apapun.


Maira yang awalnya merasa ketakutan berganti menjadi raut kebingungan di wajahnya.


Tatapan sinis dengan gaya meledek kesal. " Ada apa dengan bos guy itu." Gumam Maira kesal.


Selanjutnya perasaan takut bukan lagi terhadap seseorang. Melainkan rasa takut berada di rumah besar itu sendirian.


Hening dan sunyi.


Tempat yang terlalu besar untuk dirinya yang bertubuh mungil. Gelap dan banyak barang raksasa yang terlihat menyeramkan karena pencahayaan yang minim itu.

__ADS_1


Bulu kuduk Maira semakin membuatnya merinding ketakutan.


Tak mau mati konyol. Maira dengan pemikiran yang pendek segera meraih ponselnya dan memainkan jarinya di layar kaca.


Dirinya menghubungi seseorang. Siapa dia?


Nama Reina menjadi tujuan Maira menghubunginya melalui ponsel genggamnya.


"Reina kamu di mana." Maira bertanya dengan nada cemas.


"Aku? Aku di jalan mau pulang." Reina berkata dengan nada judes


"Emm, aku boleh nginap di apartemen kamu gak? Cuman buat malam ini doank." Mohon Maira.


"Boleh sih. Tapi tumben! Kamu gak lagi berantem sama Malik kan." Protes Reina.


"Entar aku jelasin. pokoknya jemput aku dulu yah. Alamatnya aku kirim." Maira berkata dengan tergesa-gesa.


Reina yang merupakan teman seperjuangan Maira itu segera meluncur ke alamat yang Maira kirim melalui pesan singkat.


Tentu saja banyak pertanyaan yang muncul di benak sahabatnya itu ketika melihat Maira keluar dari rumah megah dengan desain mewah.


Reina mendaratkan mobilnya pelan untuk melihat bangunan megah dan mewah itu. Padangan takjub terlihat dari sorot matanya yang tak berkedip sama sekali.


Kaca mobil di turunkan serendah mungkin. Pandangan keluar dari jendela untuk bisa menikmati bangunan langkah yang sekarang sedang di tatapnya tanpa henti.


"Gila Mai." Reina menggeleng takjub dengan tatapan melihat ke bangunan megah itu. " Kamu kerja apaan di sini." Reina berkata dengan lebay dengan mulut terbuka.


"Entar deh aku jelasinnya. Sekarang kita balik ke apartemen kamu aja dulu." Maira segar masuk ke dalam mobil.


Tak henti hentinya tatapan takjub Reina mengarah pada pandangan dengan bangunan megah. sorot lampu yang menerangi sepanjang jalan benar benar sangat indah dan indah tentunya.


Apakah itu sejenis kastil kerajaan? Entahlah bisa jadi itu adalah benteng Maria di attack on Titan. Wkwkwk author bercanda.


Reina menggeleng kepala ketika mereka meninggalkan bangunan megah itu. Dan sekarang mereka sudah berada di apartemen miliknya.

__ADS_1


Reina masih tergolong orang kaya. Hanya saja dirinya tak sekaya tuan Garra.


"Mai." Panggil Reina ketika mereka sudah berada di dalam apartemen. " Jelasin kek. Aku udah penasaran banget." Reina melirik dengan sangat penasaran.


"Apaan sih." Maira mencoba untuk diam. Dirinya masih merasa tak yakin.


"Gue balikin yah Lo ke tempat tadi." Reina berkata dengan nada ancaman.


"Gitu banget. Dasar kepo." Ledek Maira bercanda.


"Sebenarnya aku mau jelasin." Maira menggantung ucapannya. "Cuman inget sikapmu yang kepoaan, aku jadi ragu." Maira berkata dengan lirikan amarah yang dibuat buat.


"Ah temen lakban lu.Gue iket entar lu di tembok." Tatapan sarkas membuat dirinya semakin penasaran.


"Jadi sebenarnya aku tuh pembantu di rumah itu. Seseorang kenalin aku sama pemiliknya " Maira berkata dengan nada bercanda.


Karena ucapan bohong Maira itu Reina mempercayai nya dengan sungguh-sungguh. Keduanya pun saling bercerita panjang lebar.


Apakah Maira menceritakan apa yang baru saja dia alami?


Sementara itu di tempat lain.


Rama berdiri beberapa langkah di belakang Garra yang tengah bicara dengan mama Sasha di rumah sakit.


"Dokter mengatakan kalau dirinya punya kenalan bertangan tuhan di Jerman. Aku di tawari untuk membawa Sasha ke sana." Tutur seorang wanita paruh baya dengan bicara dengan air mata yang terus membasahi wajahnya yang awet muda kerena make up.


"Bawa dan pastikan dirinya sadar. Aku gak mau nanggung konyol." Gatra berkata sebelum dirinya meninggalkan wanita yang tengah bersedih itu.


Setelah datang hanya untuk mendengarkan ucapan wanita tua itu membuat Garra menjadi kesal. Raut wajah yang menghitam terlihat jelas dari garis wajah tampan dan arogannya laki laki ini.


"Kembali ke brescout." Garra mengatakan dengan nada kesal. Dirinya siap untuk meledak sempurna.


Godam .... Lahan parkirnya kawan. vote dan komen oke 1000 love buat kalian


Ig:pzaima

__ADS_1


__ADS_2