
"Garra menatap Maira dengan tajam, wajahnya menghitam pekat aura di sekelilingnya menjadi horor.
"Jika kau tak mampu menjadi wanita baik baik, setidaknya jangan perlihatkan sikap murahan mu itu." merobek gaun Maira dengan paksa.
Ucapan Garra membuat Maira terperanjat kaget, mata Maira sudah akan berkaca kaca dan siap menjatuhkan air matanya. Sebelum danau air mata itu meluap ia segera tersenyum dengan sok kuat.
"Maaf tuan bos, lain kali saya akan menutupi tubuh saya dengan pakaian yang lebih tertutup lagi." hormat Maira menundukkan kepalanya.
"Sekarang pilihkan aku jas, dan ingat hilangkan selera kampungan mu itu." berjalan duduk di sofa dengan berpangku kaki.
Semua jas mu apa masih ada buatan desainer abal abal, kalau yang aku pilihkan tak sesuai seleramu itu tandanya kau perlu ganti desainer. keluh Maira.
Maira membawakan jas berwarna coklat pada Garra, berharap ia memakainya segera dan menghilang dari pandangan matanya.
"Apakah ini hari jumat,? tanya Garra menatap jaz berwarna coklat itu.
Maira melirik sekilas jaz di tangan nya. " Ah aku akan mengganti warnanya." kembali masuk ke dalam ruangan ganti.
Maira kembali lagi dengan jas berwarna biru senada dengan gaun yang di pakainya namun sudah robek akibat ulah Garra.
"Kau meledek ku." ucap Garra menatap sinis ke arah jas di tangan Maira.
__ADS_1
"Kau pikir aku dan rama anak kembar." protes Garra tak mau menggunakan jas berwarna biru itu.
Oh! Bukanya kalian itu gay yah? Miris sekali sampai harus menutupinya padaku.ucap asal Maira di benaknya.
Maira kembali lagi ke ruangan baju ia melihat semua jas yang ada di lemari dan akan menentukan apa yang akan ia bawakan untuk Garra. Pilihan nya jatuh pada jaz berwarna hitam.
Maira yakin Garra akan menyukainya sebab itu adalah jas kesukaan nya, karena beberapa kali Maira melihat Garra sering menggunakannya..
Dengan yakin dan sedikit senyuman Maira begitu yakin kalau Garra akan memakai jas hitam itu.
"Sepertinya ini cocok." ucap Maira begitu polos menyerahkan pada Garra.
Gara melirik sekilas "Itu sudah terlalu sering aku pakai, kau pikir aku cuman punya satu jas.' Maira menggerutu menahan sabar dengan sikap Garra, ia kembali masuk ke dalam ruangan ganti lalu memilah jas yang begitu banyak di dalam lemari.
Satu persatu Maira memperlihatkan pada Garra jas yang cocok di kenakan nya sampai semua jas yang ada di lemari sudah habis namun Garra seorang yang tak berperasaan itu sama sekali tak menyukainya satu pun yang Maira pilihkan. Hampir mati kesal karena sikap Garra yang kekanak-kanakan .
Menghembuskan nafasnya perlahan berusaha menahan emosi di benaknya." Ini adalah jaz terakhir yang ada di lemari yang belum tuan lihat." menekankan ucapannya saat bicara dengan Garra.
"Sepertinya kau terlihat sebal dengan ku." mencoba mempermainkan emosi Maira.
"Tidak tuan, aku sangat senang dapat membantu anda." menampilkan senyuman di wajahnya yang letih.
__ADS_1
Andai kau tahu ingin rasanya aku memukul otakmu mungkin saja di sana ada yang tersangkut. batin Maira kesal.
"Kau tahu ini adalah hukuman buatmu karena membuatku kesal." ucap Garra mulai bangun dari duduknya.
"Maafkan saya tuan." menundukkan pandangan nya dengan hormat.
"Di meja makan tadi kau memanggilku sayang, kenapa sekarang menjadi tuan." mencari pertanggung jawaban atas ucapan Maira.
Maira tertegun ia mulai bingung bagaimana harus memanggil Garra, sayang kah? Atau tuan bos! Berpikir sejenak. Apa tuan muda Garra? Tatapannya tertunduk ke bawah menatap lantai dengan pikiran yang berdebat.
"Apa lantainya lebih tampan dariku." menarik dagu Maira.
"Maaf tuan, saya b bingung harus menyebut anda bagaimana seharusnya." lari dari tatapan mata Garra.
"Panggil aku sayang, aku suka itu." menaikan alisnya bersamaan dengan seringai bibirnya.
"I ia sayang." aku pasti sudah gila haha.
"Sekarang ambilkan aku jaz yang pertama tadi." menyuruh tanpa rasanya bersalah.
"Ha,"tanpa merasa bersalah pada Maira yang ingin meneriakinya
__ADS_1
"B baik tuan." melepaskan diri lalu masuk ke ruangan ganti baju.
*Dasar sialan , aku tidak ingat yang pertama tadi jaz warna apa. sepertinya dia sengaja mengerjai ku dasar brengsek. keluh Maira *