
Malik meraup wajah Maira dengan kedua tangan nya, menatap
lekat manik mata yang sama hitam itu.
“kamu bahagia.” Pertanyaan Malik serius memperhatikan raut
wajah Maira.
Maira mengangguk perlahan, namun matanya menghindari
tatapan Malik yang menatapnya lekat itu.
“Apa dia memperlakukan mu dengan baik.” Lanjut Malik berkata
dengan rasa bersalah di matanya.
Maira tak mempu menjawab pertanyaan itu, dengan menatap mata
Malik, karena saat itu ia sedang bersusah payah menahan air matanya.
“Jawab, dan tatap mata aku.” Paksa Malik menatap lebih dalam
bilik mata maira.
Maira tersenyum, bulir air matanya mengalir dengan mulus di
pipi, dan Malik yang melihatnya merasa sangat bersalah,menyeka kasar wajahnya
dengan tangan karena itu di anggap malik sebagai jawaban kalau Maira sangat
tersiksa.
Malik kembali memegang bahu Maira. “ Kamu dengerin kaka
ngomong, kasih kakak waktu 2 minggu buat bawa kamu pergi dari Garra.” Jelas Malik
yakin “ Tunangannya udah sadar, semua udah kakak pikirkan.” Lanjut Malik
berkata
“Kakak, tahu dari mana, Maira kan gak ada ngomong.” Tanya Maira
dengan raut wajah curiga.
Malik terlihat gelagapan, otaknya berjalan dengan cepat
untuk mencari alasan
“A aku hanya menebaknya saja.” Ujar Malik mulai berjalan
__ADS_1
pincang.
Maira segera mengejar Malik, kemudian membantunya berjalan
seperti tadi, namun sorot lampu mobil membuat mereka saling tatap.
Mobil itu berhenti tepat di samping mereka berdua, kaca
terbuka dan menampilkan seorang laki laki yang tampan, menatap dengan cauh pada
mereka berdua.
“Pasien kabur.” Tebak Luis, mengangkat alis
Maira dan Malik, terdiam dengan pertanyaan itu. Keduanya tak
mau menggubris ucapan laki laki aneh menurut mereka itu.
Maira terus membantu
Malik berjalan, dan mobil itu tetap saja mengikuti keduanya sambil mengoceh tak
jelas.
“Kabur dari rumah sakit, karena tak mampu bayar tagihan
yah.” Tebak Luis mengangguk seakan membenarkan tebakannya sendiri.
sakit healtyscares.” Tebakan yang sangat tepat. Hingga Maira mulai menanggapi
ucapan Luis.
“Kalau benar lalu kau mau apa, membawaku ke pengadilan, sorry
aku gak punya uang.”sahut Maira kesal
Maira kembali melanjutkan langkah kakinya membawa Malik
entah kemana, yang pasti harus menjauh dulu dari rumah sakit itu.
“Siapa yang butuh uang mu, aku ini orang kaya” shut Luis
menatap kasihan dan juga kesal
“Bisakah anda pergi tanpa peduli dengan kami, seolah kita
tak pernah bertemu.” Teriak Maira kerena kesal.
“Hey, jangan jutek gitu donk, aku ini orang nya gak tegaan.’
__ADS_1
Sahut Luis keluar dari mobil membantu paksa Maira untuk membawa pacarnya itu
kerumah sakit lain.
“Kamu apa apan sih.” Terlambat, teriakan itu tak ada artinya
karena Luis merebut Malik dari sanggahan nya dan di masukan ke dalam mobil secara paksa.
“Aku gak butuh bantuan kamu brengsek.” Teriak Maira ingin
mengambil Malik kembali.
"Kamu gak lihat, kakinya .’ tunjuk Luis yang memperlihatkan
banyak darah yang mulai menetes diperban
Maira terlihat menyesal dan bingung harus bagaimana
selajutnya. Tak mau menerima tawaran laki laki yang tak jelas ini, tapi kaki Malik
sudah mengelurkan darah karena sudah cukup jauh mereka berjalan.
“Seharusnya aku tadi membawa kursi rodanya.” Teriak Maira
frustasi.
Tak ada jalan dan pilihan lain, Maira pun menerima niat baik
Luis, hanya saja sekarang mereka gak puya tujuan akan kemana, tadi kabur kan
niatnya supaya besok Malik gak di bawah
terbang ke Zimbawe sama Garra.
“Ehem, kita nih udah keliling, sebenarnya kalian mau
kemana.” Tanya Luis menahan diri.
“Jangan bilang kalian gak punya tempat tujuan.” Lanjut Luis
berkata dengan tebakan yang benar untuk ke dua kalinya
“Lagian tadi aku udah bilang, kamu gak usah bantuin aku.”
Sahut Maira menyalahkan Luis.
“Aku emang gak ada niat buat bantuin kamu, tapi lihat kaki
pacar kamu, rasanya aku kayak bunuh orang.” Jelas Luis menatap Maira dari kaca
__ADS_1
tengah mobil