Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
Kekhawatiran seorang kaka


__ADS_3

Malik meraup wajah Maira dengan kedua tangan nya, menatap


lekat manik mata yang sama hitam itu.


“kamu bahagia.” Pertanyaan Malik serius memperhatikan raut


wajah Maira.


Maira mengangguk perlahan, namun matanya menghindari


tatapan Malik yang menatapnya lekat itu.


“Apa dia memperlakukan mu dengan baik.” Lanjut Malik berkata


dengan rasa bersalah di matanya.


Maira tak mempu menjawab pertanyaan itu, dengan menatap mata


Malik, karena saat itu ia sedang bersusah payah menahan air matanya.


“Jawab, dan tatap mata aku.” Paksa Malik menatap lebih dalam


bilik mata maira.


Maira tersenyum, bulir air matanya mengalir dengan mulus di


pipi, dan Malik yang melihatnya merasa sangat bersalah,menyeka kasar wajahnya


dengan tangan karena itu di anggap malik sebagai jawaban kalau Maira sangat


tersiksa.


Malik kembali memegang bahu Maira. “ Kamu dengerin kaka


ngomong, kasih kakak waktu 2 minggu buat bawa kamu pergi dari Garra.” Jelas Malik


yakin “ Tunangannya udah sadar, semua udah kakak pikirkan.” Lanjut Malik


berkata


“Kakak, tahu dari mana, Maira kan gak ada ngomong.” Tanya Maira


dengan raut wajah curiga.


Malik terlihat gelagapan, otaknya berjalan dengan cepat


untuk mencari alasan


“A aku hanya menebaknya saja.” Ujar Malik mulai berjalan

__ADS_1


pincang.


Maira segera mengejar Malik, kemudian membantunya berjalan


seperti tadi, namun sorot lampu mobil membuat mereka saling tatap.


Mobil itu berhenti tepat di samping mereka berdua, kaca


terbuka dan menampilkan seorang laki laki yang tampan, menatap dengan cauh pada


mereka berdua.


“Pasien kabur.” Tebak Luis, mengangkat alis


Maira dan Malik, terdiam dengan pertanyaan itu. Keduanya tak


mau menggubris ucapan laki laki aneh menurut mereka itu.


 Maira terus membantu


Malik berjalan, dan mobil itu tetap saja mengikuti keduanya sambil mengoceh tak


jelas.


“Kabur dari rumah sakit, karena tak mampu bayar tagihan


yah.” Tebak Luis mengangguk seakan membenarkan tebakannya sendiri.


sakit healtyscares.” Tebakan yang sangat tepat. Hingga Maira mulai menanggapi


ucapan Luis.


“Kalau benar lalu kau mau apa, membawaku ke pengadilan, sorry


aku gak punya uang.”sahut Maira kesal


Maira kembali melanjutkan langkah kakinya membawa Malik


entah kemana, yang pasti harus menjauh dulu dari rumah sakit itu.


“Siapa yang butuh uang mu, aku ini orang kaya” shut Luis


menatap kasihan dan juga kesal


“Bisakah anda pergi tanpa peduli dengan kami, seolah kita


tak pernah bertemu.” Teriak Maira kerena kesal.


“Hey, jangan jutek gitu donk, aku ini orang nya gak tegaan.’

__ADS_1


Sahut Luis keluar dari mobil membantu paksa Maira untuk membawa pacarnya itu


kerumah sakit lain.


“Kamu apa apan sih.” Terlambat, teriakan itu tak ada artinya


karena Luis merebut Malik dari sanggahan  nya dan di masukan ke dalam mobil secara paksa.


“Aku gak butuh bantuan kamu brengsek.” Teriak Maira ingin


mengambil Malik kembali.


"Kamu gak lihat, kakinya .’ tunjuk Luis yang memperlihatkan


banyak darah yang mulai menetes diperban


Maira terlihat menyesal dan bingung harus bagaimana


selajutnya. Tak mau menerima tawaran laki laki yang tak jelas ini, tapi kaki Malik


sudah mengelurkan darah karena sudah cukup jauh mereka berjalan.


“Seharusnya aku tadi membawa kursi rodanya.” Teriak Maira


frustasi.


Tak ada jalan dan pilihan lain, Maira pun menerima niat baik


Luis, hanya saja sekarang mereka gak puya tujuan akan kemana, tadi kabur kan


niatnya supaya besok  Malik gak di bawah


terbang ke Zimbawe sama Garra.


“Ehem, kita nih udah keliling, sebenarnya kalian mau


kemana.” Tanya Luis menahan diri.


“Jangan bilang kalian gak punya tempat tujuan.” Lanjut Luis


berkata dengan tebakan yang benar untuk ke dua kalinya


“Lagian tadi aku udah bilang, kamu gak usah bantuin aku.”


Sahut Maira menyalahkan Luis.


“Aku emang gak ada niat buat bantuin kamu, tapi lihat kaki


pacar kamu, rasanya aku kayak bunuh orang.” Jelas Luis menatap Maira dari kaca

__ADS_1


tengah mobil


__ADS_2