
Bukan nya mendengarkan ucapan Maira, Bian malah semakin menjadi, dengan tatapan yang sangat
berbeda. Mobil yang sudah banyak lecet di bagian depan, bahkan tak ada yang mulus, namun
masih bisa berkendara di jalan dengan baik.
Mobil Bian kembali memimpin balapan di jalanan. Yang tadinya
Rama pikir akan menyerah namun siapa yang dapat menduga, kalau Bian sedang dalam keberuntungan.
Dengan berbagai benturan yang mereka alami, malah semakin melaju cepat, bahkan mobil
polisi pun di tabrak Bian dengan brutal, hingga suara tembakan terdengar bersamaan dengan
tabrakan .
Gara yang geram mengambil ahli kemudi Rama, dengan kasar.
Garra melaju di jalan yang sama di lewati mobil Bian, tanpa memperdulikan mobil
polisi yang mengalami kerusakan dan kacau nya pengendara lainya.
Aksi kejar kejaran berlanjut sangat lama, suasana sore
sudah mampir dengan warna khas nya.
Garra menginjak pedal gas dengan kecepatan penuh, bahkan hanya sebentar saja
posisi mobil mereka sama. Di luar nalar, Garra menabrak mobil Bian tanpa ampun, bahkan tidak menghawatirkan dirinya sendiri.
Pembatas jembatan itu rusak, mobil Bian terlempar cukup jauh dengan
kerusakan jembatan 20%.
Seperti dalam dejavu, Maira beberapa kali mengalami tabrakan.
Namun, kali ini bisa di bilang sangat parah, walaupun sadarkan diri tapi Maira
mengeluarkan banyak darah, di hidung akibat benturan yang menghantam kepalanya.
Bian berusaha untuk tetap mempertahan kan posisi Maira agar
tak mengalami hal yang buruk, dan Karana itu Bian merasakan keram yang hebat di
tangan nya.
Garra, mengambil sesuatu dari bawah kursinya sebelum keluar
dari mobil.
Terlihat Maira keluar, dengan memegang kepala sambil bicara pada
seseorang. Tatapan mata Garra menjadi terlihat sangat berbahaya.
Bian mengitari mobil dari arah depan menghampiri Maira yang
terlihat cukup shok.
Dan saat itu juga Garra keluar dari mobil dengan memasukan
__ADS_1
peluruh ke dalam senjata.
Bian mencoba menutupi sobekan baju Maira, namun saat
hal itu terjadi, Garra melayang kan tembakan.
Duarrrr ….
Tepat mengenai bahu Bian, cipratan darah segar mengalir
keluar dari peluruh yang menancap di lengan Bian.
Maira shock melihatnya hingga membungkam mulutnya tak percaya dengan yang baru
saja terjadi.
Maira mencoba menyentuh lengan Bian yang terluka akibat peluru yang menancap di daging lengan kekar miliknya. Namun,
suara tembakan kembali terdengar bersamaan dengan gerakan Maira.
Duaarrrr….
Maira semakin kaget tak percaya, dengan apa yang dilihatnya.
Menatap asal tembakan dan Garra terlihat dengan aura berbeda, kali ini sangat
berbahaya. Benar benar berbahaya sekali.
Kali ini Maira meneteskan air mata
dari sebelah kanan, dimata lentik miliknya.
Hal yang tak di duga terjadi, yaitu teriakan yang tak asing di
telinga Maira, dan berlari ke arahnya
“Maira aaaa aaaa .” Teriakan seorang kakak yang entah dari mana
asalnya, tiba tiba saja Malik berlari mendekat kearah Bian dan Maira.
Maira melihat ke asal
suara, dan Malik berlari mendekati Maira dengan sangat tergesa tesa. Garra
manusia tanpa ekspresi itu menyeringai tanpa kerutan di mata, yang berarti itu
adalah senyuman paksaan atau merendahkan.
Langkah Malik semakin mendekati Maira, dan duaarrrr. Ke tiga
kalinya suara tembakan itu kembali terdengar, namun Kali ini yang menjadi sasaran
Garra adalah kaki Malik. Agar berhenti mendekati Maira.
Maira dengan ekspresi tak percaya, dan berlari mendekati
Malik namun kali ini suara tembakan berturut
turut menghantam tepat di betis sang kakak, sesuai dengan langkah kaki Maira mendekat.
__ADS_1
“Garra aaa aaaa” Teriak Maira jatuh lesu jalan. Bergantian menatap Malik dan Bian
dengan perasaan yang berantakan.
Garra melangkah dengan pasti, sambil mengacungkan pistol
waspada.
“Kau meremehkan ucapan ku, kau masih ada niat lari dari ku.” Ucap Garra dengan aura
menyeramkan .
Kali ini Maira menatap dengan tatapan yang benar benar kesal, tak ada air mata lagi, rasanya sudah kering, dengan apa yang terjadi. Begini
lah jika menguji batas kesabaran Garra.
“Aku menyerah. Tolong selamat kan mereka tuan! Aku mohon.”
Menahan air mata yang terus saja keluar hingga membuat Maira berlutut di depan
Garra yang berdiri di hadapannya saat ini.
Laki laki yang sangat angkuh, dengan kesombongan yang tidak ada yang bisa menandingi dirinya.
“Apa menurutmu, mungkin aku selamatkan mereka? Atau bagaimana
jika aku bunuh saja mereka.” Sahut Garra dengan menarik perlahan senjata dan di arahkan bergantian dari Malik, lalu ke Bian.
“Aku mohon, aku ikut dengan mu.” Sahut Maira tak mau
berdebat mengingat dua orang itu sedang sekarat.
Tak lama sirine mobil polisi terdengar yang membuat Garra,
menarik Maira segera masuk ke dalam mobil, dan berlalu meninggalkan keduanya
yang tengah terkapar.
Di sisi lain, Ellyana baby berlari menghampiri Bian yang
terkapar tak sadarkan diri dengan satu orang lainya.
“Bian…” teriak Ellyana dengan sekuat tenaga mencoba membantu
Bian untuk bangkit.
Ellyana adalah gadis cerdas, mendengar suara sirine polisi membuat
gerakan Ellyana sedikit sigap. Berusaha
susah payah menopang tubuh Bian agar masuk ke dalam mobil sebelum polisi datang.
Melirik Malik yang terkapar sepertinya Ellyana mengucapkan sebuah kata “ Maaf”
sebelum berlalu. Hah apakah Ellyana dan Malik saling mengenal? Atau hanya rasa
Empati say sorry?
Sesuai prediksi Ellyana, saat mobil menancap gas, berbalik
__ADS_1
arah, barulah mobil polisi beberapa detik sampai di TKP.