
Perjalanan pulang dari rapat Garra termenung di dalam mobil hingga tanpa sadar ia melihat Maira di sebuah minimarket.
"Berhenti." secara tiba-tiba.
Garra turun dari mobil berjalan menuju Maira. Dirinya bergegas memegang tangan Maira dan membalikan tubuh gadis itu menghadap nya.
"Heh. Ternyata benar itu kamu! Suami pulang bukanya di sambut malah keluyuran." suara Garra terdengar tidak senang.
"Kamu kenapa bisa di sini tuan.?
"Jangan ada pertanyaan dalam jawaban." Gaara berkata. "Jawab." semakin mengeratkan pegangannya.
"Aku sedang belanja." Mencari alasan. "Untuk keperluan dapur." Maira berkata tanpa ekspresi.
Aku tahu bohong itu dosa. Tapi, kan aku emang lagi belanja. Cuman bukan buat dia.
"Udah selesai. Ayok pulang." Garra menarik kedua tangan Maira.
"Masuk." Nada tegas.
Perjalanan pun berlanjut menuju rumah megah mereka.
"Heh untung saja kamu tidak bersama laki laki. Kalau tidak aku patahkan kakinya." ancam Garra melirik ekspresi Maira.
Heh di kiranya aku peliharaan apa.
"Hey Maira." Gaara memanggil. " Apa kamu dengar yang aku katakan." bertanya dengan kesal.
"Ia ia aku dengar." jawab jutek Maira membuang pandangannya ke luar jendela.
__ADS_1
Beberapa saat setelah itu Garra mendapatkan notif dari ponselnya. Gara segera meraih ponselnya dari saku dan menatap layar dengan seksama.
"Rama persiapkan gaun Maira." pintah Garra.
Mendengar namanya di sebut maira segera mengalihkan pandangannya dari jendela melihat ke wajah Garra.
"Kenapa dengan ku." tanya Maira dengan wajah bingung.
"Menyambut kedatangan sahabat ku." memasukan kembali ponselnya ke saku Jaz.
Rama menambah kecepatan laju mobil mereka. Tak memakan waktu lama mobil pun memasuki halaman rumah megah itu.
Garra segera turun dari mobil tanpa menunggu Rama membuka pintu seperti biasanya. Begitu pun dengan Maira yang segera mengikuti keluar dari mobil mengikuti Garra.
"Memangnya dari mana sahabat bos mu itu.? tanya Maira pada Rama.
"Oh, ia tadi nona bertanya siapa yang bereskan rumah? Apakah semalam terjadi sesuatu." seolah ingin membungkam mulut Maira dengan pertanyaan.
"Apa, aku rasa kau salah dengar." berjalan meninggalkan Rama.
Maira segera menyusul Garra ke kamar. Sampai di depan pintu maira sedikit ragu untuk mengetuk atau langsung masuk saja.
Sejenak Maira berfikir sampai ia sendiri merasa kesal. Dan akhirnya Maira langsung menerobos masuk ke dalam kamar.
"Heh mana sopan santun mu." ucap Gaara tajam.
Ah, kenapa mesti telanjang dada.
"Aku mau tanya? Memangnya siapa yang akan tuan temui sampai harus mengajak ku juga." Masih pandangan pada Garra.
__ADS_1
Pertanyaan Maira mengehentikan aktifitas Gaara. "Kalau aku jelaskan, takutnya waktu tidak akan cukup." Gaara memegang kepala Maira, gerakannya sangat sensual.
"Maksudnya." Maira bertanya bingung. Sebelum dirinya paham maksudnya di balik ucapan Gaara.
Penghinaan. Ini tuh namanya penghinaan dasar Garra Keparat. huaaaakkkk mau tau saja tidak boleh.
Kesal karena tak dapat jawaban Maira memtuskan untuk berbaring sejenak di atas tempat tidur hingga ia hilang kesadaran.
Maira yang ketiduran cukup lama, hingga Garra yang selesai mandi dengan rambut basa dan lilitan handuk sepinggang melihat Maira lalu mendekat dan menatap gadis yang masih terlelap itu.
Setetes demi setetes air dari rambut Garra menetes di wajah Maira hingga ia terbangun dan melihat Garra yang tepat berada di atasnya.
Membuka matanya perlahan, pandangan masih kabur. Beberapa kali menyepitkan ujung matanya sampai membuka lebar dan melihat jelas wajah Garra.
"Hah, kau mau apa.?
"Mau apa? Terserah aku, lagian kau itu istriku." memegang kerah baju Maira dan mempermainkan jarinya di sana.
"Ayo bersiap, aku tidak mau terlambat." masih berada di atas tubuh Maira walaupun tak sampai menindihnya.
Dasar goblok gimana bisa aku bangun kalau kamu posisinya kayak begini.
"Jangan menggerutu ku." menjitak kepala Maira dengan jari jarinya.
Kenapa dia selalu tahu kalau aku memakinya dalam hati.
"Lagian aku mau mandi. Kamu Minggiran dulu." mengangkat tangan Garra.
Setelah berhasil lolos dari jebakan Garra segera Maira masuk ke dalam kamar mandi. sementara Garra mengembangkan senyum tipis di bibirnya akan sikap Maira
__ADS_1