Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
Diluar kendali


__ADS_3

**Area dewasa harap di bawa umur**


**skip yah**


Huh emang nya aku siapa, berani memerintah tuan Garra. Gumam Maira Ketika mengingat statusnya. Hingga akhirnya pasrah saat Garra sampai di depan rumah mewah itu.


“Turun.” Perintah Garra yang melihat Maira enggan membuka pintu mobil. Enggan kaki Maira untuk turun tapi dirinya tak bisa membantah ucapan sang bos itu. Tatapan matanya membantah dengan sangat. Garra tahu itu. Gerakan lambat Maira seperti berbicara dengan isyarat.


“Jangan membantah ku.” Garra berkata dengan nada tegas. Gerakan lambat Maira membuat Garra kehabisan kesabaran. Melepaskan seadbell yang melingkar di tubuh Maira secara paksa. Tindakan selanjutnya Garra


mengangkat tubuh Maira dan masuk kedalam pelukannya.


Ada rasa Bahagia di hati Maira. Senyuman tipis menggaris di wajah cantik itu. Seperti gurun sahara di jatuhi hujan tipis. Gambaran hati Maira. Dirinya tak membuang waktu kepalanya disandarkan kedalam dada bidang sang suami


mencari kehangatan yang tertunda.


Langkah kaki yang lebar melangkah masuk kedalam ruangan yang tersedia ranjang berukuran qing. Perlahan membaringkan tubuh Maira. Gerakan mengelus dahi Maira lembut lalu ke bibir sebelum bertanya dengan nada dingin dan tatapan tajam yang siap menusuk di hati


“Habis ngapain tadi sama Luis.” Garra bertanya dengan tatapan ingin menguliti setiap organ tubuh Maira.


“Kamu tahu gak Luis itu sahabat aku.” Garra berkata penuh penekanan.


“Aku mana tahu dia sahabat kamu, aku aja tadi kaget minta ampun.” Maira berkata dengan mata berkaca kaca. Diwajahnya penuh ketakutan dan ketidakberdayaan.


“Udah ngapain aja sama Luis.” Sorot mata tajam menatap baju Maira yang robek.  Arti pertanyaan Garra yang meminta penjelasan. Maira mengigit bibirnya.  Pertanyaan Garra seperti menuduh dirinya telah melakukan hal tak senonoh. Tak mau membuang waktu di cecar pertanyaan Garra, Maira mengatakan yang sesungguhnya. Toh percuma juga disembunyikan seorang Garra kalau mau tahu itu bukanlah hal yang merepotkan baginya.

__ADS_1


“Kami berciuman.” Maira mengatakan dengan nada rendah. Dirinya mengaku salah karena sudah melakukan hal seperti itu. Sudut mata Maira berkaca kaca bendungan itu hampir meluap saja.


Wajah Garra menghitam kesal, api amarah terlihat di sorot matanya, sekarang ia benar benar ingin menguliti Maira sampai organ terintim nya. Tanpa permisi dan pemanasan Garra merobek Kembali baju Maira yang


sudah setengahnya robek.


Garra membuka kancing baju nya, dan melemparkannya dengan asal. Mendekati Maira yang masih terbaring di atas ranjang dengan pakaian tak lengkap. Menarik kain yang menutupi gunung kembar lalu meraupnya dengan ganas.


Pikiran Garra dipenuhi amarah yang meluap. Memikirkan bagaimana Maira berciuman dengan Luis hingga yang lainya sampa sampai baju Maira robek. Sampai dimana permainan keduanya. Hasrat Garra memuncak dirinya


kehilangan akal. Sekarang hanya ingin melakukan pembalasan pada Maira.


Keduanya melakukan permainan yang tidak biasanya, karena kemarahan maka hukuman ranjang  solusinya. Adegan ranjang yang cukup lama menguras habis tenaga Maira yang harus tetap stabil mengikuti permainan Garra.


Euhhdd …..


Ahhhsss …


Sudah berapa lama mereka bermain tentunya hanya mereka yang tahu.


“Uhh aku udah gak kuat, bisa drop kalo kayak gini.” Gumam Maira melenguh kesal.


“T-tuan, uemm …. ” Maira mencoba bicara namun Garra menyumbat mulutnya dengan ciuman buas.


Permainan Garra yang tak ada habisnya membuat ia mengganti posisi yang kesekian kalinya. Apakah laki laki ini tidak Lelah? Oh tentu saja tidak karena iblis yang bersarang di tubuhnya tengah horny barangkali?

__ADS_1


Garra memukul bokong Maira dengan keras hingga gadis itu melenguh kesakitan. Namun dengan begitu keduanya Kembali saling memberikan kenikmatan yang sudah berapakali *******.


“T-tuan apakah anda akan bermain dengan mayat hidup.” Maira berkata dengan terbata bata karena Garra semakin saja brutal setiap detik yang berjalan.


Lagi dan lagi Garra tetap  menancapkan batang yang keras dan berurat itu ke dalam ****** yang


menyedot dengan nikmat.


Hingga permainan brutal itu berakhir di saat Garra menambah laju kecepatannya dengan hentakan keras, sampai suara Maira menjerit nikmat kesakitan menjadi satu.


Nafas keduanya berderu, suara Maira terus menggema nikmat. Bahkan erangan Garra tak bisa terhitung. Garra berbaring di samping Maira. Tangan nakal Garra merabah bagian bawah Maira yang terasa bengkak akibat


ulahnya. Saat menyentuhnya Garra sadar seberapa brutal dan lamanya dia sampai bengkak seperti ini.


“Aku udah gak sanggup.” Maira berkata dengan lirih takut kalau Garra malah tempur lagi.


“Hm.”


Garra mengecup lembut wajah Maira, ibu jarinya mengusap bibir yang bengkak sama dengan bagian bawah Maira.


“Aku gak bakal bisa buatin gaun abis ini.” Maira berkata mengingat jahitannya untuk baju yang seharusnya dia pakai bersama Garra yang cuple itu harus berakhir di pakai Sasha dan Garra di hari ulang tahun Sahsa yang sama dengan Maira.


Ucapan Maira soal gaun membuat Garra merasa bersalah waktu itu, ia Kembali sadar bagaimana sakitnya hati Maira saat itu tangan kekarnya menyingkirkannya Ketika melihat Sasha. Sakit pasti.


“Maaf.” Ucapan yang Garra lontarkan di kala kesadaran Maira

__ADS_1


hampir menghilang terlelap.


10 comentar author up doble yah


__ADS_2