
Wajah pasrah dan mata sayup yang Ellyana tampilakan kerap
kali membuat Bian tertawa. Itu menjadi hiburannya di kala dirinya bosan
melakukan Tindakan kasar pada Ellyana. Ketakutan di wajah Ellyanaa tak lagi
Nampak. Ekspesinya sudah datar, dia pasrah.
Ellyana menjadi manekin hidup Bian. Tak jarang Bian
mengencingi Ellyana. Meludah bahkan memberika Ellyana makanan sisa yang sudah
berhari hari. Bian sangat kejam. Ellyana sadar itu. Gadis itu tak lagi
memancarkan harapan apapun selain terima nasib.
“Kenapa kau tak bicara. Sayang. HM” Bian bicara dengan nada
lembut tapi sorot matanya tajam.
“bukanya kau suka dengan suaraku.” Bian mengigit telinga
Ellyana hingga membekas dan berakhir dengan darah segar yang keluar. Ellyana
meringis dengan suara.
“Kenapa. Bukahkah kau selalu suka dengan sentuhanku.
Katamu.” Bian berakting sedih, sebelum
dirinya meraih dagu Ellyana dengan ekprsi akan menangis. Sudut bibir Bian
melengkung kebawah. Menatap wajah gadis itu yang sudah tak ada aura
kecantikan.
“Kenapa sekarang kau terlihat sedih setiap kali aku
menyentuhmu. Sayang.” Bian meremas kuat dagu Ellyana yang merah dan bengkak
itu. Ellyana mengeluarkan air mata. Remasan Bian sangat kuat gadis mana yang
akan tahan.
“Aku mau menciummu tapi kau busuk sekali sayang. Apakah ini
aroma tubuhmu yang baru. Aku mau muntah.” Bian mengejek.
Cuihh … cairan keluar dari mulut Bian menghantam jelas wajah
Ellyana. Lagi lagi Bian melakukan itu
meludahi Ellyana.
“Oh maaf. Aku sengaja.” Bian berkata dengan senyuman jahat.
Haha
__ADS_1
Haha
Haha
Bian terlihat menjelma menjadi iblis. Sorot mata yang tajam
bagaikan itu kerap terlihat Ketika Bian merasa puas. Tindakan nya sangaat
berbeda.
“Oh ia Ellyana. Kau tahu kalau mamaku tengah menjalani
oprasi gagaal ginjal. Mertuamu sayang.” Bian mengelus lembut wajah Ellyana yang
sudah membiru sejak lama itu.
“Aku berniat baik, sebelum kematian mu ini sebaiknya
ginjalmu aku berikan untuk mamaku saja. Daripada di kubur tanpa berguna dan di
makan cacing kan.” Bian mengagguk dengan tawa riang. Ellyana menatap dengan
sorot mata penuh arti. Bian sudah benar benar menjadi iblis.
“Aku sudah memastikan, kalau kecocokan darah kalian pas.”
Bian berkata kegirangaan. Seperti anak kecil mendapatkan permen.
“Mau yah. Karena menolak juga percuma sayang. Aku yang bakal
oprasi kamu.” Bian merenggut dengan ekpersi manja. Suaranya semakin melembut
suaranya itu.
Untuk pertama kalinya sejak penyiksaan Bian yang tak
berhenti itu. Ellyana bersuara.
“Kau akan menyesal Bian.” Suara Ellyana sangat serak. Disana
tak ada nada harapan selain menerima nasib. Apa maksud Ellyana. Bian berlagak
kaget. Sayang sekali itu hanya acting.
“Benarkah! Kalau begitu biar aku tak menyesal ginjalmu aku
kasih mamaku. Matamu aku jual untuk yang lain. Lalu jantungmu aku donorkan
untuk orang orang yang butuh saja. Dengan begitu aku akan sangat senang. Dan
tentunya berterimakasih padamu.” Bian sialan itu sudah dikuasi oleh api amarah
pada Ellyena karena perbuatanya pada Maira. Tapi bagaimana dengan donor jantung
bukan kah itu perkara lain. Atau Bian memilki maksud lainya menikahi Ellyana. Sialnya Bian berkata
dengan tawa aneh menakutkan.
__ADS_1
*****
Kembali di negara keberadaan Gaara. Dirinya terdiam di dalam flynight. Lagi lagi
Omar tutup mulut untuk mengatakan soal
Maira. Keberadaan gadis itu. Mengamuk oh percuma orang seperti Omar tak akan
kalah dalam pertarungan yang sejak kecil sudah mengusai ilmu bela diri. Jadi
percuma kalau Gaara mengamuk malam itu.
Pertemuan itu sama sekali tak membuahkan hasil. Garra
mengepalkan tanganya. Meneguk minuman berkali kali hanya itu yang dapat gaara
lakukan.
Rama datang dengan sebuah map merah di taanganya. Sang bos
terlihat kacau. Sudah seminggu dia selalu datang ke flyningt sejak pertemuan
yang tak membawa kabar Bahagia itu.
Garra melirik dengan kesadaran setengah.
“Jangan menyuruhku untuk membaca laporan sialan itu Rama. Aku
mau menjual group wiliam saja.” Garra bicara dengan meraung. Raungan yang kedap
suara itu membuat Gaara bisa melakukan atau berteriak sesuka hatinya.
“Maaf bos. Aku baru ingat soal ini.” Rama berkata yng
langsung menunduk sopan. Garra menyeringai setengah sadar. Dirinya bangun
dengan ekpresi orang yang sedikit mabuk. Meraih map dengan melirik Rama. Bibir
Gaara merenggut bola matanya menatap rama dengan kesal tapi malas.
Perlahan membukanya. Membacaanya dan butuh waktu untuk
memahaminya di kalla kesadaran Garra yang hanya beberapa persen itu. Sebelum map itu di gulungnya lalu
dilemparkanya pada Rama. Hingga beranjak dan langsung mendorong Rama kesal
menghantam dinding. Garra bersandar pada tubuuh Rama, memegang wajah Rama sorot
matanya tajam. Memukul lembut wajah Rama seperti yang terakhir kali dia lakukan
pada Luis sewaktu di rumah sakit. Kurang lebih begitu.
Sudut mata Garra berkaca kaaca. “ Kenapa kau baru mengatakanya sialan.” Garra menyeringai.
“Kerja bagus Rama. Kerja bagus.” Garra berkata dengan semburat
senyuman bersamaan dengan air mata yang tumpah dari sudut matanya yang tajam
__ADS_1
itu.
20 comentar author up doble yah.