
Di perjalanan ke Yamor Maira duduk di jok belakang kemudi. Rama mengantarnya
sesekali melirik Maira yang membuang pandanganya ke luar jendela.
“Nona apakah anda baik baik saja.” Nada khawatir jelas dari ucapan Rama.
“Jangan bercanda.” Maira tertawa meledek. “ Aku tak memiliki perasaan apapun terhadap tuan mu.” Maira mengatakan nya sambil menahan rasa mual. Dirinya paham kemana alur pembahasan Rama.
Huekk ..
“Nona sepertinya perlu ke rumah sakit.” Rama perlu perintah.
“Gak perlu, ini tuh karena begadang, entar juga udah baikan.” Maira mengambil minyak angin dari dalam tasnya lalu menghirupnya dan
menggosoknya di leher.
“Oh ia, ulang tahun tunangan tuan tinggal 4 hari lagi, aku mau focus kerjain desain bajunya dulu, jadi gak bakal balik Brescout deh
kayaknya.” Maira bicara seolah ia ingin Rama menyampaikan pada tuannya.
Setelah itu tak ada lagi percakapan sampai mereka berada di Yamor. Maira turun tanpa berniat untuk pamit dengan Rama, langsung turun meninggalkan Rama tanpa sepatah kata apapun. Dirinya memang mengharapkan itu.
Maira tak berjalan sama sekali memasuki pintu masuk perusahaan Yamor. Dirinya berjalan berlawanan arah dari perginya Rama. Berjalan
beberapa saat sampai ia akan memasuki sebuah restoran lalu duduk di kursi dekat jendela, sayangnya tak sengaja dirinya bertabrakan dengan Ellyana yang tengah memegang cangkir kopi panas.
“Eh maaf aku gak sengaja.” Ellyana berkata dengan cepat merobek gaun Maira agar kulitnya tak melepuh.
“Hey jangan di robek.” Maira berteriak hingga para pengunjung saat itu menatapnya.
“Biar kulit kamu gak melepuh.” Ellyana sibuk membantu Maira menangani bajunya.
Maira yang merasakan perih di lengan bajunya hingga punggung menjadi sedikit kesal, dirinya sangat kelaparan tapi malah dapat sial. Bajunya sudah di robek paksa Ellyana.
Selanjutnya apa?
“Aku mendengar kedatangan tunangan dari kakak sepupu.” Ellyana tak tahu harus menatap Maira bagaimana.
“Sebentar lagi aku akan bercerai dengan nya.” Maira berucap acuh sambil membersikan noda di bajunya dengan tisu.
__ADS_1
“Sekarang aku benar benar khawatir.” Ellyana menatap seorang pria yang berjalan ke arahnya.
Mengikuti arah tatapnya membuat Maira sedikit kaget tapi selanjutnya ia bersikap biasa saja.
“Hay Bian.” Sapa Maira acuh tak acuh. Dirinya membersihkan bekas tumpahan noda kopi dengan tisu.
“Maira kenapa bisa kayak gini.” Bian membuka jasnya untuk menutupi tubuh Maira
“Lagi kena sialnya aja.” Mentap keduanya. “ Kalian barengan.? Mengadahkan telunjuknya pada Ellyana dan Bian bergantian
“Kalian saling kenal.” Bian bertanya menatap Elliana yang mulai gelagapan.
“Aku istri Bian.” Ellyana menatap kosong pada Maira yang hanya menanggapinya dengan kata ‘oh’
“Wah Bian kau sungguh beruntung memperistri Ellyana.” Maira memuji Bian sambil menepuk bahunya. Sementara Ellyana tak percaya dengan apa yang Maira lakukan. Mendukungnya.
Tapi bagaimana mungkin? Seharusnya Maira marah dan berontak tak terima.
“Maira pakai ini dulu.” Bian memakaikan jasnya di punggung Maira, tapi tangan kekar lainya menahan uluran tangan Bian dengan sorot mata yang tajam.
“Kenapa seorang desainer terlihat seperti gembel.” Luis berkata dan segera membungkus tubuh Maira dengan jas mahal miliknya.
“Apa maksudmu.” Bian menahan bahu Luis Ketika akan melangkah pergi.
“Kenapa tidak kau tanyakan pada istrimu.” Luis berkata dengan wajah penuh amarah.
Bian menatap dengan tatapan memangsa pada Ellyana yang sekarang menunduk menatap lantai.
“Wah kau hebat sekali Maira. Setelah keluar dari lubang serigala malah masuk ke lubang macan.” Bian tertawa jahat “ Seharusnya jangan
begitu murahan jadi wanita.” Bian berkata dengan nada intimidasi.
“Benarkah! Dan seharusnya lubang tikus diam saja.” Maira berkata dengan suara meledek sebelum Luis membawanya pergi.
Luis membawa Maira masuk kedalam mobil, air matanya pecah dengan suara sedikit tertahan. Selembar kain di serahkan Luis di hadapan Maira. Dengan cepat tangan Maira menyambarnya lalu menyeka air matanya.
“Kabar kakak aku gimana.” Maira berkata sembari mengembalikan sapu tangan pada Luis.
“Udah bisa jalan.” Luis menatap Maira tanpa cela.
__ADS_1
“Kamu kok bisa ada di sana.” Maira menatap Luis hingga keduanya saling tatap satu sama lain.
“Lagi tungguin kamu di depan kantor.” Luis berkata sambil mengusap bibir Maira yang menempel cairan
“Aku kayak orang gila, hampir setiap wanita aku lihat kayak kamu semua.” Luis mendekatkan wajahnya hampir tak berjarak di depan wajah Maira.
Detik berikutnya Maira mual, dengan segera luis menjauhkan diri sayangnya kalah cepat. Baju Luis penuh cairan bening.
Hueekkk …
“Shit.”
“maaf aku gak senga ……. hueakkk.” Muntah Maira berceceran di bangku depan. Muntah yang keluar kalah cepat dengan ucapan yang akan di katakan
“Kamu ini kenapa.” Menempelkan punggung tangan nya di dahi Maira.
“Kita kerumah sakit.” Ucapan Luis penuh penekanan yang langsung tancap gas menuju rumah sakit.
Perjalanan mereka tak memakan banyak waktu untuk sampai di rumah sakit. Luis menggendong Maira dengan gagahnya hingga para mata yang adadi sana menatap dengan kagum.
Layaknya pasangan serasi yang baru menikah, sangat romantic. Bukan!
Saat Luis membawa Maira ke ruangan vip. Bertemu Ali di perjalanan, awalnya Ali biasa saja dan terlihat lirikan nakal sampai ia melihat
wajah dari wanita yang sekarang ada di dalam ruangan rumah sakit itu.
“Jadi dia wanita yang kau ceritakan.” Ali bertanya dengan khawatir.
Luis tak menjawab, dan itu artinya adalah benar dugaan Ali.
“Luis, seharusnya sebelum kau menyukai seseorang harus tahu dulu dia siapa.” Menatap penuh kekhawatiran “ Apa kau lupa apa yang terjadi dengan Sena.” Ali mengepalkan tangan nya hingga rahang nya mengeras.
Aku tak mau berpihak salah satu diantara kalian, anggap saja aku tak tahu menahu hal ini.” Ali yang masih mematung di depan ruangan Maira di rawat, benar benar terlihat khawatir.
“Jangan beritahu Garra, sampai mereka bercerai dulu.” Luis menatap daun pintu yang handlle nya bergerak.
Jangan lupa parkirnya di bab ini yah di tunggu comen dan like vote juga kalo bisa. Gak maksa si author nya
10 comentar author up dobel yah
__ADS_1