
Hiks
Hiks
“Apa kau memafkan ku.” Gaara berkata di sela sela tangisnya.
“Jangan tinggalkan aku lagi Maira, itu menyakitkan.” Garra
berkata. Maira terdiam, dirinya teringat ucapanya dengan Bian. Seketika Maira
seperti ketakutan dan langsung mengeratkan Kembali pelukaanya.
“Kamu harus merawat anak ini.” Maira berkata, dengan air
mata bahagian kini dirinya bisa Bersama Garra.
“Aku janji aku akan jadi ayah yang baik, selagi kamu yang
jadi istriku.” Ucap Garra tak tahan dengan kebodohanya yang dulu.
“Oh ia, kenapa matamu bengkak? Apa semalaman kamu menangis.”
Gaara bertanya.
Astaga Maira Kembali teringat bagaimana tadia malam.
Disaat Maira masuk dirinya melihat tak percaya yang
berbaring di sana adalah Gaara. Maira mengira Gaara meninggal hingga menjerit
tak percaya bahkan Amira menangis tersedu sedu membuat dokter Syarif dan Ali serta para suster saling tatap
dengan heran.
“Kanapa kau meninggalkan ku Garra.” Maira berkata dengan
memukul erat bagian dada kekar pria itu.
“Kau bahkan pergi sebelum tahu aku hamil.”
“Kau sangat brengsek, kau begitu kejam.”
“Aku berharap nereka menendangmu keluar, dan surga tidak
menerimamu.”
Hiks
Hiks
Hiks
__ADS_1
Maira memaki Garra tanpa henti dan air matanya terus mengalir.
“Maaf nona Maira.” Luis ingin bicara.
“aku ingin sendiri.” Maira berteriak. semua yang ada di
ruangan melihat dengan tak percaya.
“aku tidak tahu sisi maira yang ini.” Luis berkata.
“Kau benar, ini pertama kalinya aku melihatnya.” Malik
bahkan seperti tak mengenali adiknya.
“Maira.” Suara yang Kembali memecah keheningan ruangan.
“Jangan tinggalkan aku Maira.” Ucap pasien yang terbaring.
Tangis Maira berhenti, dirinya menyeka kuat air matanya dan langsung menatap Ali.
Ali mengaguk seperti tahu apa yang akan Maira tanyakan. “ Apa
dia tidak jadi mati.” Maira berkata.
Semua orang menatap Maira seperti kehabisan kata kata.
“Aku pergi dulu, Rama biarkan kedua pasangan aneh itu
di ikuti Malik dan Luis dengan para suster dan dokter Syarif.
“Tuan Gaara masih berada di bawah pengaruh obat bius
sebentar lagi akan sadar, aku pamit dulu.” Ali berkata dan langsung segera
menghilang.
Mengingat hal itu membuat wajah Maira merah menahan rasa
malu, bagaiaman ia akan menjelaskanya.
“Sepanjangan malam aku terus berdoa, air mata Wanita tulus
sepertiku tak bisa di hentikan.” Maira berkaata, wjaahnya di sembuyinkan ke
dalam dada bidang Gaara.
“Tapi aku senang akhirnya kau sadar juga.” Lanjur Maira
berkata kali ini ia menatap Gaara dari bahwa rahang tegas pria itu.
“Maafkan aku maira, aku berjanji tak akan meninggalkan kamu
__ADS_1
lagi, bahkan kalau kamu menyuruhku demi apapun akan aku buat kau di lubang yang
sama denganku.” Ucap Gaara lalu mengecup mesra kening Maira.
“Bagaimana dengan anak kita, apa dia menyusahkanmu, di saat
aku tak ada.” Ucap Gaara prihatin memegang perut Maira.
“Aku sangat tersiksa apalagi saat dia aku benar benar ingin
sekali memeluk tubuhmu, ini semua salahmu.” Ucap Maira memukul dada Gaara.
“Akan aku tebus waktumu yang mengandung anak kita. Biarkan
aku memperlakukan gadisku ini layaknya ratu, oke.” Lagi lagi Garra memeluk erat
dan tak henti henti nya mengecup puncak kepala Maira.
“Bagaimana kabar mu selama tak ada aku.” Garra bertanya.
Seiringan dengan itu aura menjadi dingin tanpa sebeb.
“Aku baik baik saja.” Maira berkata. Suaranya seperti
tertahan hanya saja Gaara mendengar nya dengan jelas.
“Benarkah.” Suara itu kembali terdengar dengan sangat
dingin. Maira terdiam.
Keduanya saling diam, untuk beberapa lama. Sebelum tangan
kekar Garra memeluk dengan erat tubuh gadisnya
“mendengarmu baik baik saja tanpa ku seperti hukuman yang
paling kejam untuk ku.” Garra menangis.
Hiks
Hoks
Hiks.
“Ah apa yang harus aku lakukan untuk menebusnya.” Suara
Gaara seperti siluet horror.
“Jangan menghukum dirimu sendiri, aku mohon bagaimana kalau
kita ambil hikmahnya saja.” Ucap Maira mulai takut dengan keadaan Gaara.
__ADS_1