
“Apa menyesal katamu. Sayang sekali Aku sudah berdamai
dengan penyesalan itu kala kau mengajak aku menikah waktu itu.” Bian Kembali
tersenyum. Lalu tertawa, sebuah benda tajam mini membela lengah Ellyana hingga
darah segar mengalir keluar.
“Bian. Bukankah kau ingin Bersama Maira.” Ellyana berusaha
bicara dengan susah payah. Wajah Bian terlihat serius tapi sorot matanya penuh
kemarahan.
“Jangan sebut nama itu dengan mulut kotor mu. Wanita iblis.”
Bian meremas kuat dagu Ellyana. Matanya merah di penuhi kemarahan.
“Kabar yang aku dengar terakhir. Dia bercerai dan ada anak
di kandungannya.” Ellyana terlihat serius saat berkata sorot matanya sayu itu
tidak berbohong.
“Cari dan menikahlah dengannya. Dia menunggumu.” Ellyana
semakin kritis saat mengucapkannya. Ucapan demi ucapannya membutuhkan tenaga
yang besar untuk bicara.
“Jangan menipuku.” Bian menatap tajam kedalam bola mata
Ellyana yang sudah bengkak itu.
“Waktu kesini aku mendapatkan kabar dari Jodi. Sekarang
cari saja dia.” Nafas berderu Ellyana semakin tersiksa. Ucapannya mulai tak
jelas.
Bian sejenak berfikir. Ragu Bian merasakannya tapi mengingat
istrinya adalah sumber informasi maka itu menjadi kepercayaan nya. Bian
berdiri melirik sebelah mata pada Ellyana yang terbaring dengan tangan
terikat.
Sebelum berangkat Bian menendang tubuh Ellyana yang sudah
tak ada harapan itu. Ruangan gelap jauh dari pemukiman membuat Bian tersenyum
sinis.
“Baiklah kalau begitu matilah dengan tenang.” Bian berkata
rendah. Dirinya segera beranjak dari tempat itu tanpa peduli dengan Ellyana.
Langkah kaki Bian berjalan terdengar semakin menjauh dari
Ellyana. Matanya sudah bengkak itu mengeluarkan air mata. Tersiksa sekali
__ADS_1
rasanya mendapatkan perlakuan kasar.
Sosok Bian di mata Ellyana adalah pangeran baik hati sudah
hilang sejak kejadian pemukulan 2 bulan lalu. Kini Bian menjelma menjadi iblis berwujud manusia. Ellyana meringis dalam diam.
Semua anggota tubuhnya tak mampu lagi bergerak. Apakah
dirinya akaan berakhir seperti ini. Kini
hanya penyesalan yang mampu Ellyana rasakan. Betapa bodohnya dia lalu
menghalalkan segala cara agar bisa bersama dengan Bian yang seorang Monster
berdarah dingin.
Waktu yang dia habiskan benar benar tak ada yang berbuah.
Kalaupun ada sudah pasti busuk dimakan ulat. Nasi sudah basi bagaimana mungkin
bisa diolah. Sama halnya dengan penyesalan yang tak bisa di maafkan.
Ini adalah cara kerja dunia. Siapa yang berbuat maka dia
perlu menanggung akibatnya. Kerjakanlah perbuatan yang bisa kalian tanggung
sendiri akibatnya. Karena karma selalu berada di belakang tanpa ada jarak
diantaranya.
Pikirkan lagi kalau mau berbuat sesuatu. Karena karma tak
Suara Langkah kaki yang tadinya hilang kini Kembali
terdengar. Sepatu yang bertempelkan debu itu terlihat tepat Ellyana membuka
kedua matanya. Bian nampak berdiri dengan gagahnya memegang sesuatu di
tangannya.
Tangan kekar itu bergerak membuka penutup dari benda yang
dia panggang. Lalu menghamburkan cairan di sekitar Ellyana. Bau bensin itu
tercium kuat di lubang hidung keduanya. Bian berniat membakar tubuh Ellyana.
Bian haruskah sampai sejauh ini!
Wajah gadis itu berada di ketakutan yang tertinggi. Air
matanya keluar. Sulit sekali rasanya Ellyana bicara untuk mengatakan sesuatu
pada Bian.
Gerakan bibir tanpa suara itu benar benar tak membuat niat
Bian melenyapkan Ellyana dengan cara membakarnya.
“Maaf sekali. Dengan begini kamu akan cepat tenang.” Ucapan
Bian bersamaan dengan suara Guntur yang hebat.
__ADS_1
Bian melirik langit langit rumah itu. lalu Kembali menatap
Ellyana lagi. Dia beranjak meletakan ember besar tapi keluar dari lingkaran
bensin itu.
“Kalau kau berumur Panjang, tuhan pasti sedang menghukum mu.”
Ucapan Bian meledek Ellyana. Dirinya berjalan dengan menghidupkan rokok
kemudian membuang korek api pada jalanan yang sudah disirami bensin.
Kobaran api itu menyala seketika menghampiri Ellyana yang
terbaring lemah. Dirinya pasrah berada di ujung kematian.
“Bian aku hamil.” Suara lirih itu terdengar. Sayang sekali
Bian sudah menjauh. Sekarang Ellyana hanya akan menikmati panasnya api yang
akan melenyapkan sebentar lagi.
Kobaran api yang menyala itu semakin terasa membakar tubuh
Ellyana dengan sangat ironis. Merangkak percuma dia dikelilingi api. Bau rambut
terbakar mulai menyapa hidung Ellyana kulit mulus itu semakin berkerut di kala
api yang besar itu mulai mendekat.
“Akhirnya aku akan bertemu denganmu mama.” Ellyana bergumam
semburat senyum tampil di wajahnya sudah kesakitan itu.
Duaaarrrr guntur menyapa telinga. Angin kencang membuat api
itu semakin membesar dengan cepat tubuh Ellyana Sebagian sudah berkerut karena hawa api yang sangat panas.
Begini kah rasanya terbakar benar banar hukuman yang sangat kejam.
Suara Guntur berkali kali terdengar. Eliyana sudah kehilangan
kesadarannya. Gadis malang itu, apakah telah mati? Ember yang di letakan oleh
Bian tak mungkin bisa Ellyana gapai. Dia saja tak akan mampu bergerak apalagi
beranjak masuk kedalam ember dengan melewati kobaran api yang sangat besar itu.
Mustahil. Ellyana bukan penyihir dari negeri dongeng asal
kalian tahu!
Sampai hujan besar turun sangat deras. Seketika kobaran api
lenyap di guyur hujan. Tapi sayang sekali tubuh Ellyana terpanggang sudah.
Walaupun masih ada daging kenyal tapi kulitnya sudah berkerut dan menghitam ,
oh hujan sayang sekali turun mu sudah terlambat.
jangan lupa komentarnya di bab ini yah.
__ADS_1