Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
dendam iblis


__ADS_3

“Apa menyesal katamu. Sayang sekali Aku sudah berdamai


dengan penyesalan itu kala kau mengajak aku menikah waktu itu.” Bian Kembali


tersenyum. Lalu tertawa, sebuah benda tajam mini membela lengah Ellyana hingga


darah segar mengalir keluar.


“Bian. Bukankah kau ingin Bersama Maira.” Ellyana berusaha


bicara dengan susah payah. Wajah Bian terlihat serius tapi sorot matanya penuh


kemarahan.


“Jangan sebut nama itu dengan mulut kotor mu. Wanita iblis.”


Bian meremas kuat dagu Ellyana. Matanya merah di penuhi kemarahan.


“Kabar yang aku dengar terakhir. Dia bercerai dan ada anak


di kandungannya.” Ellyana terlihat serius saat berkata sorot matanya sayu itu


tidak berbohong.


“Cari dan menikahlah dengannya. Dia menunggumu.” Ellyana


semakin kritis saat mengucapkannya. Ucapan demi ucapannya membutuhkan tenaga


yang besar untuk bicara.


“Jangan menipuku.” Bian menatap tajam kedalam bola mata


Ellyana yang sudah bengkak itu.


“Waktu kesini aku mendapatkan kabar dari Jodi. Sekarang


cari saja dia.” Nafas berderu Ellyana semakin tersiksa. Ucapannya mulai tak


jelas.


Bian sejenak berfikir. Ragu Bian merasakannya tapi mengingat


istrinya adalah sumber informasi maka itu menjadi kepercayaan nya. Bian


berdiri melirik sebelah mata pada Ellyana yang terbaring dengan tangan


terikat.


Sebelum berangkat Bian menendang tubuh Ellyana yang sudah


tak ada harapan itu. Ruangan gelap jauh dari pemukiman membuat Bian tersenyum


sinis.


“Baiklah kalau begitu matilah dengan tenang.” Bian berkata


rendah. Dirinya segera beranjak dari tempat itu tanpa peduli dengan Ellyana.


Langkah kaki Bian berjalan terdengar semakin menjauh dari


Ellyana. Matanya sudah bengkak itu mengeluarkan air mata. Tersiksa sekali

__ADS_1


rasanya mendapatkan perlakuan kasar.


Sosok Bian di mata Ellyana adalah pangeran baik hati sudah


hilang sejak kejadian pemukulan 2 bulan lalu.  Kini Bian menjelma menjadi iblis berwujud manusia. Ellyana meringis dalam diam.


Semua anggota tubuhnya tak mampu lagi bergerak. Apakah


dirinya akaan berakhir seperti ini.  Kini


hanya penyesalan yang mampu Ellyana rasakan. Betapa bodohnya dia lalu


menghalalkan segala cara agar bisa bersama dengan Bian yang seorang Monster


berdarah dingin.


Waktu yang dia habiskan benar benar tak ada yang berbuah.


Kalaupun ada sudah pasti busuk dimakan ulat. Nasi sudah basi bagaimana mungkin


bisa diolah. Sama halnya dengan penyesalan yang tak bisa di maafkan.


Ini adalah cara kerja dunia. Siapa yang berbuat maka dia


perlu menanggung akibatnya. Kerjakanlah perbuatan yang bisa kalian tanggung


sendiri akibatnya. Karena karma selalu berada di belakang tanpa ada jarak


diantaranya.


Pikirkan lagi kalau mau berbuat sesuatu. Karena karma tak


Suara Langkah kaki yang tadinya hilang kini Kembali


terdengar. Sepatu yang bertempelkan debu itu terlihat tepat Ellyana membuka


kedua matanya. Bian nampak berdiri dengan gagahnya memegang sesuatu di


tangannya.


Tangan kekar itu bergerak membuka penutup dari benda yang


dia panggang. Lalu menghamburkan cairan di sekitar Ellyana. Bau bensin itu


tercium kuat di lubang hidung keduanya. Bian berniat membakar tubuh Ellyana.


Bian haruskah sampai sejauh ini!


Wajah gadis itu berada di ketakutan yang tertinggi. Air


matanya keluar. Sulit sekali rasanya Ellyana bicara untuk mengatakan sesuatu


pada Bian.


Gerakan bibir tanpa suara itu benar benar tak membuat niat


Bian melenyapkan Ellyana dengan cara membakarnya.


“Maaf sekali. Dengan begini kamu akan cepat tenang.” Ucapan


Bian bersamaan dengan suara Guntur yang hebat.

__ADS_1


Bian melirik langit langit rumah itu. lalu Kembali menatap


Ellyana lagi. Dia beranjak meletakan ember besar tapi keluar dari lingkaran


bensin itu.


“Kalau kau berumur Panjang, tuhan pasti sedang menghukum mu.”


Ucapan Bian meledek Ellyana. Dirinya berjalan dengan menghidupkan rokok


kemudian membuang korek api pada jalanan yang sudah disirami bensin.


Kobaran api itu menyala seketika menghampiri Ellyana yang


terbaring lemah. Dirinya pasrah berada di ujung kematian.


“Bian aku hamil.” Suara lirih itu terdengar. Sayang sekali


Bian sudah menjauh. Sekarang Ellyana hanya akan menikmati panasnya api yang


akan melenyapkan sebentar lagi.


Kobaran api yang menyala itu semakin terasa membakar tubuh


Ellyana dengan sangat ironis. Merangkak percuma dia dikelilingi api. Bau rambut


terbakar mulai menyapa hidung Ellyana kulit mulus itu semakin berkerut di kala


api yang besar itu mulai mendekat.


“Akhirnya aku akan bertemu denganmu mama.” Ellyana bergumam


semburat senyum tampil di wajahnya sudah kesakitan itu.


Duaaarrrr guntur menyapa telinga. Angin kencang membuat api


itu semakin membesar dengan cepat tubuh  Ellyana Sebagian sudah berkerut karena hawa api yang sangat panas.


Begini kah rasanya terbakar benar banar hukuman yang sangat kejam.


Suara Guntur berkali kali terdengar. Eliyana sudah kehilangan


kesadarannya. Gadis malang itu, apakah telah mati? Ember yang di letakan oleh


Bian tak mungkin bisa Ellyana gapai. Dia saja tak akan mampu bergerak apalagi


beranjak masuk kedalam ember dengan melewati kobaran api yang sangat besar itu.


Mustahil. Ellyana bukan penyihir dari negeri dongeng asal


kalian tahu!


Sampai hujan besar turun sangat deras. Seketika kobaran api


lenyap di guyur hujan. Tapi sayang sekali tubuh Ellyana terpanggang sudah.


Walaupun masih ada daging kenyal tapi kulitnya sudah berkerut dan menghitam ,


oh hujan sayang sekali turun mu sudah terlambat.


jangan lupa komentarnya di bab ini yah.

__ADS_1


__ADS_2