
Seisi rumah porak poranda di buat Garra, tak ada satu pun benda yang masih utuh.
Penyakit Garra yang seperti itu kembali muncul ia benar-benar seperti kesetanan. Menghancurkan seisi rumah dengan mudahnya tanpa memikirkan berapa harga barang barang mewah ini.
Hampir 2 jam Maira terbaring mengigil di tempat tidur, ia baru bisa merasakan suhu panas menyapa kulit mulus milik nya.
Maira mulai menggerakkan otot-otot nya yang sedikit kaku, sampai ia menatap bingung di sekelilingnya. Tak mau berdebat dengan diri sendiri ia mencoba turun dari ranjang dengan tertatih-tatih.
Brakk.....
Suara dentingan keras terdengar menakutkan di telinga Maira, Ia pun yang tadinya sedikit manjakan sakitnya mencoba berdiri tegak dengan gerakan cepat.
Maira berjalan tanpa beban ke luar kamar. Rasa penasarannya membuat ia memiliki kekuatan.
Langkah demi langkah ia lewati sampai ia keluar kamar lalu menatap dari lantai atas dengan mata terbelalak melihat kekacauan yang ada di bawah.
Semua pekerja yang ada di rumah itu terlihat menepi dengan rasa takut. Gara terlihat seperti monster yang mengamuk.
Maira segera berlari menuruni tangga melihat Garra yang akan menghancurkan foto yang bergambar wanita cantik dengan senyuman yang memabukkan itu.
__ADS_1
Maira tidak memikirkan kondisi nya sendiri yang baru saja pulih, ia sangat menghawatirkan Garra.
suara langkah Maira yang berlari terdengar oleh telinga Garra, ia pun melihat ke arah Maira dengan ekor matanya yang tajam.
Maira tak menggunakan alas kaki, sementara lantai di penuhi oleh pecahan kaca yang berserakan di mana-mana.
Jika tadi hanya lirikan dengan ekor mata, maka saat ini Garra melihat ke arah Maira 180° derajat dengan takjub.
Jarak Maira dan Garra semakin dekat. Maira terus berlari menuruni tangga walau pun ia bisa melihat dengan jelas kalau di lantai banyak kaca yang berserakan.
khawatir dengan kaki Maira yang akan menginjak beling Garra segera menangkap Maira yang hampir saja terkilir.
"Kenapa bangun." tanya Garra masih memegangi tubuh Maira.
"Kau menakuti para pekerja di rumah mu." ucap Maira memeluk Garra.
Entah rasa seperti apa yang Garra rasakan ia merasa nyaman saat Maira memeluknya.
Pak Marta yang mulai memperhatikan sikap Garra yang berbicara dengan nada melembut mengingat kalau Garra marah tak ada yang akan di pedulikannya.
__ADS_1
Namun kali ini berbeda, seperti melihat keajaiban pada Garra seorang posesif yang berubah saat marah hanya karena seorang wanita.
"Kau lebih mengkhawatirkan mereka." terdengar nada begitu kesal.
"Aku lebih khawatir dengan mu." mulai menarik diri.
Garra tidak membiarkan Maira menjauh, ia tetap menahan pelukannya.
"Bawa aku ke kamar." menopang diri pada Maira yang bertubuh mungil.
Mereka berdua pun berjalan kembali menuju kamar, sementara pak Marta memperhatikan apa yang terjadi menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya.
Berada di dalam kamar yang luas dan megah Garra duduk di sofa sambil menatap Maira yang berada di sampingnya.
"Jangan lagi kau keluar dengan pakaian yang tidak lengkap itu." mengalihkan pandangannya dari belahan dada Maira yang terlihat jelas.
Memang Maira dan Garra hanya menggunakan baju mandi yang sama namun Maira masih ada lapisan kemeja putih yang sayangnya kemeja itu tak terkancing dengan benar hingga menampilkan bagian penting Maira.
Oh jadi itu alasan tuan gila ini tetap memelukku.
__ADS_1