
Menuju bascam butuh waktu beberapa lama, memasuki elevator pun seperti itu, Garra seperti enggan untuk melepaskan rangkulan tangan nya dari pinggang ramping milik Sasha dan dirinya hanya menjadi nyamuk diantara
keduanya.
Selama berada di elevator Maira menyudutkan diri dengan mengatuk ngetuk kan kakinya di lantai
dingin untuk mengalihkan perhatian nya itu. Sementara Garra dan Sasha saling melemparkan pertanyaan yang begitu intim.
“Ahh rasanya baru kemarin aku katakan tak mau di ekspos, eh hari ini malah bicara di depan media sama kamu.” Ucap Sahsa menatap Garra sambil mempermainkan kancing jas Garra.
“Rasanya sangat lama, aku menantikan hal ini.” Sahut Garra mengeecup sesaat kepala Sasha.
Ting …
Pintu elevator terbuka. Mereka keluar masih tetap mesra sampai Maira berjalan lebih dulu. Saat itu Garra bari sadar kalau Maira ada di dekat mereka selama 15 menit yang lalu.
“Maira.” Panggil sasha. “ mau pulang bareng aja.” Sasha berkata dengan rangkulan mesra di pinggangnya.
Semakin di lihat semakin sakit bukan
“Gak dulu deh, gak mau ganggu kalian dan jadi obat nyamuk. Selamat bersenang senang yah.” Maira
berkata dengan senyum yang paksakan
Garra menatap sekilas pada maira yang berjalan semakin jauh. Kemana gadis itu akan pergi? Membawa perasaan yang sakit sekali itu. pada siapa dia akan mengadu?
__ADS_1
Oh tuhan dunia percintaan inni memang kejam.
Tanpa kata atau apapun itu maira bagaikan orang asing diantara keduanya. Haha lucu bukan istri sah yang hanya menjadi pajangan dan penghangat ranjang malah tak bisa mengatur suaminya, lebih tepatnya tak punya hak.
Kasihan sekali kamu maira.
Maira masuk ke dalam mobil Reina dengan terpaksa. karena tak mau satu mobil Bersama dua orang yang tengah kasmaran itu.
“Kamu siap cerai mai.” Pertanyaan yang begitu menyakitkan
“Mau gak mau emang aku harus cerai kan.” Jelas Maira sambIl menjawab acuh.
“Sekarang mau kemana.” Menatap wajah sahabatnya itu.
Sepanjang perjalan Maira lebih banyak diam. sampai tak terasa mereka sudah berada di halaman
breskot.
“Mai kalau butuh apa apa, aku masih sahabatmu kan.” Pertanyaan Reina yang sama sekali tak di jawab oleh Maira.
Turun dari mobil tanpa mengucapkan apa apa membuat Maira kehilangan saparuh kesadaran nya. Berjalan memasuki rumah mewah itu hingga ia menaiki tangga, tak sengaja percakapan dua orang di balik pintu kamar yang tak bisa ia masuki itu. Tangan yang tadinya memutar gagang pintu yang kini terbuka malah di tinggalkan
Langkah kaki Maira dengan sendirinya mendekat ke daun pintu itu dan menguping pembicaraan dari kedunya.
“ Kau tetap marawat kamar ini dengan baik.” Suara Sasha terdengar senang.
__ADS_1
“Demi dirimu.” Sahut Garra dengan suara sensual.
“Kata pak Marta istrimu di sini juga. Bagaimana kau akan mengusirnya.” Tanya Sasha duduk di
ranjang yang empuk itu.
“Itu soal mudah, ulang tahunmu mau semegah apa.” Tanya Garra dengan mata melirik kea rah pintu. Samar samar suara terdengar. Hanya saja wanita di depanya tengah mengoceh dengan indah untuk di leawatkan
“aku mau yang tema dewasa aja, lagian kamu yakin bakal lamar aku di acara ulang tahun.” Melangkah mendekati Garra yang berdiri di depan nakas sambil melipat tangan.
Tak mampu mendengar lebih jauh perkacapan keduanya. Pembicaraan sepasang kekasih yang lama terpisah.
Maira membungkam mulutnya. Sesakit ini kah rasanya. Kaki mungil itu melangkah dengan spontan menjauhi daun pintu kamar.
Maira berlari sejuh mungkin dari breskot. Air mata yang terus menerus keluar membuat mata gadis itu bengkak.
Maira duduk di salah satu bangku taman kota, karena area breskot yang luas cukup membuat Maira kelelahan hingga tak sadar diriya begitu terlalu jauh dari area breskout itu.
“Sadar Maira, istri rahasia di atas kertas.”Mengusap matanya beberapa kali dengan Langkah kaki terus berlari
Emang nya apa sih yang aku harapkan? Udah untung bisa ngerasain jadi nonya. Terus berlari
Garra tapi kenapa kenapa kamu tega banget, seenggaknya buat kesan yang baik donk, jangan habis manis sepah di buang donk. Gumam maira kesal
Dasar laki laki brengsek, brutal, sikopat, gila, akkkk. Umpat Maira terengah engah
__ADS_1