Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
manipulasi


__ADS_3

Maira yang sibuk dengan ponselnya tidak menyadari Garra,


yang sudah selesai membersihkan diri.


Garra sendiri menatap bingung karena orang yang di kira, sudah


tidur itu terlihat seperti melakukan aktifitas lain di balik selimut. Awalnya Garra


berfikir kalau itu hanya perasaan nya saja, jadi tak terlalu menanggapinya.


Namun, langkah nya ke ruang ganti tertahan karena suara Maira yang terdengar


jelas menyapa telinga Garra. Berjalan mendekat, lalu mengibaskan selimut yang


menutupi tubuh Maira itu dengan kasar, sekali tarikan.


Jelas terlihat kalau Maira kaget, tatapan mereka bertemu. Di


detik kemudian Maira bertingkah seperti orang yang tertidur, walaupun Garra


sudah melihatnya dengan jelas sedang asik chatingan. Sudut bibir Garra terangkat


naik, melukis sebuah senyuman, emm lebih tepatnya menyeringai.


Garra masih berdiri di ujung ranjang king zise miliknya,


menatap Maira sambil bertolak pinggang.


Chat terus terusan masuk ke ponsel


Maira, awalnya Garra membiarkannya, namun sekilas matanya menangkap nama di


layar ponsel Maira.


Erian. Sudah sangat jelas kalau dia laki laki, nama Reina


saja di sangka laki laki sama Garra waktu Maira hipotermia. Gara berjalan


mendekat kearah pinggang Maira yang tertidur, atau yang sedang pura pura


tertidur. Mangambil ponselnya yang terdapat beberapa pesan masuk.


Ah gawat dia marah, pasti dia marah. Tuhan tolong hamba mu


ini.


Eh, duduk di samping ku kah! Tapi ngapain? Gumam Maira masih


tetap menutup matanya seolah dia sedang tertidur.


Garra menatap benda mungil itu, membaca satu persatu pesan


di sana, jari tangan Garra begitu lincah menari di atas layar kaca itu.  Begitu fokus sampai Maira membuka perlahan

__ADS_1


matanya namun Garra bahkan tak menyadari nya.


Mata Maira terbelalak ketika melihat ponsel miliknya berada


di tangan Garra.


“Perasaan ku semaki tidak enak.”


Garra menekan bagian camera di aplikasi itu lalu mengambil


gambar dirinya, memperlihatkan perutnya yang sixpack. Karena baru saja habis


mandi, dan dia hanya memakai handuk di lilit di pinggang, dan hasil jepretan nya


di jadikan status di aplikasi berwarna hijau dan perpaduan oren ungu dan


kuning itu. Bak model sampul majalah, postur tubuh Garra bagian atas yang di


idamkan para wanita di luar sana.


Maira tak lagi berani membuka matanya, takut kalau ia


ketahuan, jadi yang dapat Maira lakukan adalah menebak dalam diam, apa yang


sedang Garra lakukan.


Garra melirik Maira, namun wanita itu sama sekali tak mau


bangun, Garra tersenyum meledek. Kembali menatap Mairara yang tetap memejamkan


Duduk di samping ranjang kedua tangan Garra berada di antara


tubuh Maira. Garra mengelus lembut lengan Maira yang tak di lapisi kain.


Kemudian jari jarinya bergerak naik sampai di leher Maira.


Lebih tepatnya Garra menatap bekas luka, di wajah Maira.


“Brengsek aku merinding, ge  ehli.” Gumam Maira mempertahankan posisinya, sedikit mendesah.


Lalu mengusap lembut bibir Maira dengan jempolnya yang


kekar, jarak antar wajah semakin mendekat. Mengecup lembut kedua bibir ranum


yang indah itu, lama bertahan di sana walaupun hanya saling menempel, namun bisa


di pastikan kalau kupu kupu di perut Garra sedang berhamburan tak tentu arah


makanya bisa kuping Garra merah.


“Aku sudah bangun.” Ucap Maira dengan tatapan menatap mata


Garra, walaupun bibir keduanya masih menempel

__ADS_1


“Aku sudah melihat matamu terbuka.” Ucap Garra menarik diri.


What? Jawaban macam, apa itu. Lalu? Menatap dengan tatapan


menginkan jawaban.


“Gak ada perang dingin lagi.”tanya Garra duduk normal di


samping Maira yang sedang terbaring.


“Oh, ayolah, seperti katamu aku cukup tahu diri untuk tidak


mengontrol mu.” Sahut Maira sangat dewasa.


Garra melirik Maira, lalu kembali menatap lurus dengan


posisi duduknya.


“Pasti sakit.” Ucap Garra pelan namun Maira masih


mendengarnya.


“Emm apanya? Maira berusaha berfikir dengan ucapan Garra,


dan paham dengan luka di wajahnya. “kalo tuan gak bahas aku udah lupa, lagian


aku gak berhak atas diriku.” Sahut Maira bangun dan memeluk tubuh Garra yang


kekar dari punggung.


Untuk sementara keduanya merasa nyaman nyaman, saling


bersandar, wah terlihat seperti sepasang suami istri yang romantis bukan?  Maira terlihat memejamkan mata bersandar di


punggung Garra. Dan begitu sebaliknya Garra merasa nyaman saat Maira memeluknya.


“Kamu cerai in aku, dalam waktu dekat ini gak.” Tanya Maira


berusaha mengatur deguban jantung nya.


“Kenapa? Gak sabar cerai, udah ada yang lain kah.? Sahut


Garra mempertahankan posisi nya bersama Maira.


“Enggak, mau manfaatin sisa waktu,  buat persiapan aja, buat morotin kamu, biar


nanti abis cerai, aku ada rumah, mobil, apartemen, tempat usaha. Berharap kamu


gak tahu, aku sih pengen nya nipu kamu.” Sahut Maira mengigit bahu Garra.


“ Aauhh, kamu ini niat nipu? kenapa bisa pamit. Lagian


sampeiin sama kekasihmu itu dia harus nunggu dua tahun lagi.” Sahut Garra

__ADS_1


beranjak, maira kaget saat garra menarik diri.


“Lalu bagaimana dengan tunangan mu.” Sahut Maira mencoba tersenyum dengan nada tenang.


__ADS_2