
Di kamar mandi Maira masih termenung dengan ucapan Garra yang mengatakan kalau mereka akan bertemu dengan sahabat nya itu. Tentu saja Maira penasaran siapa orangnya itu.
"Ya, kalau mau bertemu yah bertemu saja. Ngapain ajak ajak aku." keluh Maira yang sedang bermain bisa di bettup.
"Tapi, kenapa tuan Garra mengajak aku yah."
"Sebenarnya aku ini istri simpanan atau istri sah nya." Pikiran liar Maira membuat ia kebingungan sendiri.
Berbeda dengan Maira. Garra mengulas senyuman di pipinya membayangkan wajah Maira yang terlelap tadi.
"Cantik." gumam Garra sebelum ia berdiri lalu menuju lemari pakaian.
Maira di kamar mandi masih terlihat sangat kesal. Persoalan Garra yang tak mau memberi tahu apapun apalagi sekretaris Rama.
"Mereka berdua itu adalah sepasang kekasih kan." Maira bertanya pada pikiran sendiri. Tak di masalahkan waktu untuk menerka-nerka.
"Nanti kalau mereka minta anak.? Maira bergumam. pikiran liarnya mulai menjelajah. "Hah apa jangan-jangan aku di suruh ngelahirin anak mereka." mulai memikirkan hal yang aneh aneh.
Maira mempercepat proses mandinya. Ia membayangkan bagaimana nantinya jika ia di suruh melahirkan anak. Hal itu membuat Maira khawatir sendiri.
Bergegas keluar kamar mandi dengan balutan handuk. Tanpa tahu dan ingat kalau di kamar ada Garra.
Maira yang berlari seketika memaksa kakinya untuk berhenti. Walaupun rem dadakan susah namun Maira berusaha. Sampai tepat di depan sofa tempat Garra duduk.
"Kenapa kamu." menatap Maira dengan tatapan elangnya."
__ADS_1
"Aku, haha aku mau ganti baju." sedikit salah tingkah Maira saat berhadapan dengan Garra.
Maira menggenggam kuat handuk yang melilit di tubuhnya. Tatapan Garra membuatnya maira sedikit ketakutan.
"Mau menggodaku." memegang ujung handuk Maira.
"Heh gila apa." ucap Maira kesal dan berlalu ke ruang ganti.
"Lucu sekali." Tertawa dengan tatapan sulit di artikan.
"Dasar mesum." memaki Garra saat masuk ke ruangan ganti.
"Kenapa juga bajunya gak di kancing apa tangannya patah." Mengingat Garra yang tak mengancingkan bajunya hingga menampilkan dada bidang yang putih dan bersih itu.
"Dan sebenarnya aku harus pake baju apa." ucap kesal Maira yang sedikit berteriak.
"Mau mencuri barang di rumahku atau mau mencuri hatiku." ujar Garra yang menatap ponselnya.
Sial ternyata dia tahu aku mengintipnya.
"Anu! Apakah ini acara resmi biar aku tidak salah memilih gaun." usul Maira di balik dinding yang masih satu ruangan kamar itu.
Tiba tiba saja Garra menelfon seseorang.
"Gaun Maira antar ke kamar." usai berkata Garra menatap Maira yang juga menatapnya.
__ADS_1
Usai berkata Rama masuk dan membawa gaun untuk Maira. Sekilas pandangan Rama melihat ke arah Maira yang hanya menggunakan handuk saja.
"Permisi tuan."
Gaara menangkap sorot mata Rama menatap sejenak pada Maira. Gadis itu terlihat sedikit malu malu.
"Keluar." ucap Garra dengan tajam.
Heh bisa bisanya gadis ini merona di tatap Rama. Apa aku kalah tampan.
"Maira ke sini."
"Ah ini gaunku." seolah orang yang tak berdosa.
"Kau mau ke mana." tanya Garra mencekal pergelangan tangan Maira.
"Mau memakai gaunku." ucap Maira ingin melepaskan tangannya.
"Siapa yang suruh kamu pakai di sana."
"Pakai di sini sekarang." wajah Garra tanpa ekspresi.
Gila apa dia benar-benar gila.
"Ah, tapi aku...." sedikit bimbang Maira berkata.
__ADS_1
"Pakai, atau aku pakaikan." memegang ujung handuk Maira. Gerakan sekali tarik handuk yang melilit tubuh Maira bakal terbuka.