Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
suara pengontrol


__ADS_3

Dua hari berlalu setelah kejadian malam itu Garra menghukum Maira untuk tidak meninggalkan rumah, jika ketahuan ia melarikan diri lagi maka akan ada kesepakatan resmi antara mereka dalam pernikahan.


Pagi itu Rama mendapatkan telfon dari Garra, wajahnya tersenyum karena sudah dua hari sejak kejadian itu ia sama sekali tak mendapat kabar dari Gara.


Rama mengangkat telfon  dan berbicara dengan bos Garra.


"Selamat pagi bos Garra." ucap Rama menyambut.


"Bagaimana keadaan mu, masih butuh liburan." ucap Garra sarkas.


"Aku akan menyuruh Jodi untuk mengurus liburan mu." ucapan Garra membuat jantung Rama sedikit berpacu dengan kencang mendengar nama Jodi. seorang kepercayaan bos Garra perihal sabotase dan pengeluran dari negara dengan alasan liburan padahal di buang ke sesuatu tempat.


"Aku masih baik baik saja bos, ada beberapa laporan ingin aku sampaikan. 30 menit lagi aku akan sampai di sana." ucap Rama segera bersiap.


"kau tahu sabar bukan keahlianku." mematikan panggilan nya secara sepihak.


Sabar bukan keahlian nya tapi 2 tahun sudah dia menunggu nona Sasha koma masih bisa. Rama membatin.


Rama pun segera bersiap untuk menuju rumah Garra. Rama adalah orang yang terkesan rapi jadi semua barang barang yang ia pegang akan ia kembalikan ke tempat asalnya , sepeti tadi sebelum ia mendapat panggilan dari Gara ia sedang membaca dengan di temani teh herbal sambil memandang keluar jendela.


Bergegas menuju rumah Garra dengan mobil mewah ia siap melunjur kembali di jalanan yang ramai.


Sementara di kediaman bos Garra  ia sedang sarapan dengan Maira mereka duduk berdampingan. Di mana Maira yang habis di taklukan dalam hal ancaman membuat ia semakin segan dengan sikap dan karakter Garra.


Garra lebih dulu berada di meja makan menunggu Maira turun dari kamar. Ia tidak makan  sebelum Maira tiba.


Sesaat Garra berbincang dengan pak Marta  sebagai kepala urusan pekerjaan dan selaku orang terpercaya Garra ia tak segan segan untuk bicara terbuka dengan pak Marta.


"Selamat pagi tuan Garra." ucap pak Marta setengah membukukan badanya.


"Pagi ." sahut Gara yang langsung duduk di meja makan.


semua para pelayan berdiri di belakang pak Marta yang kebanyakan para wanita muda. mereka menunggu perintah dari pak Marta jika tuan Garra memerlukan sesuatu.


"Senang melihat anda kembali makan seperti biasanya." ucap tulus pak Marta.

__ADS_1


"Aku harap kau tak keberatan dua hari belakangan ini karena aku selalu meminta diantarkan makanan diantarkan ke kamar." sahut Garra tersenyum sekilas.


"sungguh itu adalah suatu kehormatan." sahut pak Marta tersenyum.


Tak lama Maira turun dari tangga dengan  gaun yang lengan nya terbuka. Melihat itu Garra sedikit merona namun itu hanya sejenak di mana Garra langsung mengalihkan pandangannya ke pak Marta yang sudah menunduk.


Maira tersenyum pada pelayan yang juga tersenyum padanya.


"Selamat pagi nona Maira." ucap pak Marta tak melihat Maira.


"Pagi juga pak Marta." sahut Maira tersenyum lalu duduk di samping Garra.


Garra spontan langsung mencium lengan Maira yang terlihat kenyal itu.


Maira terperajat kaget dengan ulah Garra, hampir saja ia mendorong Garra menjauh namun Gara lebih dulu merangkulnya.


Sadar dengan aksinya, Garra mengangkat wajahnya seketika langsung memperbaiki jasnya yang masih terlihat rapi dan ekspresi apa yang ia tampilkan seperti tak melakukan apa apa.


Maira menahan malu setengah mati di depan para pelayan sementara Garra yang bermuka tembok itu malah biasa saja.


Kalau bukan karena perjanjian di malam itu bisa saja Maira menampar Garra.


"Kamu terlalu lama, sampai aku menunggu hampir mati kelaparan." ucap Garra menyalakan Maira .


Heh salahmu kenapa kau menungguku. batin maira


"Yah sudah ayok kita makan." mengambil makanan yang ia letakan di piringnya lalu melahap nya.


Garra menatap Maira antara takjub dan kesal namun seorang pelayan wanita yang melihat itu segera mengambil tindakan di mana ia memberanikan diri mengambil nasi lalu meletakannya di piring garra secara tib tiba.


Emosi Garra memuncak, melihat aksi pelayan yang kurang ajar menurutnya itu.


"Siapa yang menyuruhmu." ucap Garra dengan emosi di luar kendali.


 Bertepatan dengan hal itu Rama sudah berada di tengah tengah mereka tanpa  mereka sadari.

__ADS_1


Pelayan wanita itu langsung memucat ketakutan dengan suara Garra. Maira yang melihatnya langsung menelan ludahnya karena kaget.


Tatapan Gara bagai sebilah pisau yang siap menusuk ke dalam jiwa pelayan itu tanpa rasa empati.


"Pak Marta potong kedua pergelangan pelayan sialan ini." ucap Garra melemparkan piring ke depan wajah pelayan itu yang tengah menagis.


Maira merinding melihat Garra. Mulut Maira ternganga tak percaya, di tambah lagi ia sendiri gemetar sama seperti pelayan itu.


Mendengar isakan pelayan itu Maira segera memegang pergelangan Garra dengan niat agar ia tidak bertindak seenaknya.


"sayang biar aku yang ambilkan sarapannya." ucap Maira memberanikan diri.


Perkataan Maira seperti menghipnotis  Garra, ia segera menuruti ucapan Maira walaupun nadanya tak berubah.


"Ambilkan aku bubur." pintah Garra melonggarkan ikatan dasinya.


Maira menyendokkan bubur ke dalam piring Garra namun tangannya gemeteran membuat Garra tak senang melihatnya.


"Kau ketakutan dengan ku." tanya Garra dengan suara dinginnya .


"M mana mungkin, aku hanya terlalu senang dan bersemangat." sahut Maira dengan suara tergagap.


Garra pun tersenyum aneh memikirkan hal hal untuk menjahili Maira.


"Oh begitu kah? Kalau begitu ambilkan sarapan yang menurutmu itu bisa menambah energi." ucap Garra  memperhatikan Maira.


Pak Marta membawa pelayan yang tadi kebelakang dan di saat itu juga Rama mengambil kesempatan untuk  bicara dengan Garra


"Selamat pagi tuan Garra." ucap Rama mendekati Garra.


Di luar dugaan Garra seketika membuka setelan jaz nya dan langsung menutupi tubuh Maira dengan jas yang ia pakai, sedikit gelagapan Garra jadinya. Rama yang paham langsung membelakangi mereka sampai Garra selesai menutupi bahu Maira yang terlihat.


"Sejak kapan kau datang." tanya Garra mencoba menguasai diri.


" Baru saja tuan." Sahut Rama berbalik menatap tuan nya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2