Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
lagi dan lagi


__ADS_3

setelah berucap sejenak Maira langsung paham dengan maksud Garra ia pun segera memperbaiki pakaiannya lalu menutupi tubuhnya dengan kedua tangan yang saling menyilang.


Reaksi maira membuat Garra tertawa.


"Terlambat, aku sudah melihat semuanya. Bahkan aku sudah merasakannya." ucap Garra sambil mengangkat tangannya yang habis mengoleskan minyak angin ke tubuh Maira.


"Dasar tuan cabul." ucap kesal Maira.


"Heh aku kan suamimu." ucap Garra tak sadar.


wajah Maira sedikit merona, sebelum keduanya ingat dengan perjanjian masing-masing.


Mereka pun saling diam dan memisahkan diri untuk tidur.


Garra tidur di ranjang megah miliknya sementara Maira tidur di sofa kebesarannya.


hingga pagi menjelang sinar matahari sayup-sayup menembus jendela yang masih di batasi gorden tipis.


Samar samar Maira mendengar suara, sampai ia benar-benar sadar dengan hal itu.


"Sasha."


Mata Maira terbuka lebar nada dan suara Garra tergambar jelas menyebut nama wanita itu.


seperti mimpi buruk rasanya baru semalam ia merasa dekat dengan Garra namun paginya ia harus sadar diri.

__ADS_1


Sepertinya aku memang di kutuk untuk tidak bahagia.


Wajah Maira merenung.


Ia pun segera bangun dan bergegas mandi. Setelah nya ia langsung turun dari kamar menuju meja makan.


Di sana sudah tersedia semua mengingat kalau di rumah megah itu sudah ada penghuninya selain mereka berdua.


"Selamat pagi nona Maira." sambut salah satu pelayan.


"Pagi semua." ucap Maira menebarkan senyuman.


Pak Marta pun langsung sigap menyambut Maira.


"Selamat pagi nona Maira." ucap pak Marta.


"Apakah tuan Garra belum bangun." tanya pak Marta melihat pintu kamar.


"Em saya rasa dia sedang bermimpi indah." ujar Maira tersenyum kecut mengingat Garra menyebut nama Sasha.


Tak lama juga Rama tiba di rumah itu.


"Pagi pak Marta." sapa Rama berdiri di belakang nona Maira.


"Pagi den Rama." panggilan pak Marta pada Rama dengan nada sama seperti tuan Garra.

__ADS_1


Maira sama sekali tak memperdulikan mereka. Melainkan ia hanya melanjutkan makannya.


Maira asik melahap makanannya dengan ponsel berada di tangan.


Notif pesan berbunyi dari ponsel Maira dan ia segera melihat.


Nama Reina tertera jelas di layar ponselnya.


Maira membaca nya dan langsung melahap suapan terakhir nya. Lalu dengan bergaya santai ia berjalan sambil menggeliat.


"Ah aku ingin menghirup udara segar." suara di besarkan dengan tujuan agar mereka mendengar nya.


Tak ada yang menyadari kalau Maira pergi meninggalkan area Brescout itu karena mereka berfikir kalau Maira hanya akan menghirup udara segar. Namun siapa sangka Maira pergi tanpa pamit.


Garra membuka kedua matanya, untuk beberapa saat ia termenung dengan beberapa hal. Di detik berikutnya ia kembali sadar dengan dunia pagi itu.


Menatap sofa tempat Maira tidur sudah kosong. Wajahnya sedikit di tekuk dengan rasa penasaran.


Garra segera turun dari ranjang dan berjalan keluar dari kamarnya. Ia menatap dari lantai atas ke bawah di mana para pelayan terlihat sedang sibuk dengan pekerjaannya dan Rama serta pak Marta terlihat tengah berbincang.


"Di mana Maira." menuruni anak tangga dengan baju tidur yang ia ganti semalam.


"Ia berada di luar, katanya mau menghirup udara segar." ucap Rama yakin.


"Ingin aku panggilkan." tawar pak Marta.

__ADS_1


"Tak perlu, aku akan mandi lebih dulu. Nanti saja kalau aku sarapan." ujar Garra yang akan kembali ke kamar.


"Maaf tuan, tapi nona Maira sudah sarapan lebih dulu." ucap pak Marta sedikit segan.


__ADS_2