
Siapa bilang orang mabuk tak bisa sadar. Buktinya Gaara
berada di fase sangat sadar. Dirinya seperti terbangun dari tidur Panjang
setelah ribuan tahun. Laki laki berparas tampan ini melihat masa depan cerah
yang menjanjikan.
Andaikan ini bukan tengah malam sudah pasti Gaara meluncur
ke rumah Amor sekarang. Tapi gelapnya malam tak bisa menghentikan usaha Gaara sepertinya. Segera merogoh kantong dia menghubungi Nadia asisten kantor.
“Nadia, kirim surel ke semua perusahaan yang pernah
mengikuti ajang pembuatan gaun. Buat pengumuman besok agar berkumpul di Breskot. Yang tak ada perwakilan dibaclis dari negara ini.” Garra berkata dengan teramat senang. Dia sendiri menenfon Nadia langsung tanpa memalui Rama lagi.
Entah seperti apa kagetnya Nadia. Sudah pasti dirinya
mengumpat kesal sekarang. 'Dasar bos sialan' mungkin itu yang Nadia ucapkan
sekarang. Bersamaan dengan itu Rama bersin, mungkin saja namanya ada dalam
umpatan Nadia sekarang juga. Sudah pasti!
Pagi cerah, secerah harapan yang membentang langit cakrawala.
Garra menggunakan jas terbaiknya. Cukuran bulu tipis di wajahnya terlihat
menambah ketampanan seorang bos bucin. Garra bahkan menggantungakan harapan di
pagi hari ini. Hatinya ingin melompat keluar Ketika membayangkan sesuatu yang
sebentar lagi akan terjadi. Namun rasa takut juga mendominasi. Bagaimana jika
orang yang dia maksud itu tak menerimanya lagi? Entahlah itu di luar kemungkinan
Gaara saat ini.
Langkah lebar berjalan menuruni tangga bahkan dengan
gagahnya berjalan masuk kedalam mobil dengan pintu yang sudah terbuka benar
benar layaknya seorang bos yang darahnya sudah menjadi titisan sejak dulu
sekali.
Garra menyabarkan diri, padahal saat ini dirinya sangat ingin melompati waktu
secepatnya. Lagi lagi Rama harus memacu mobilnya dengan elegan di jalanan.
Hari ini wajah Gaara terlihat gugup dan gelisa dia membayangkan ini akan
menjadi hari yang bersejarah.
Memasuki halaman perkantoran dimana banyak mobil asing yang
berjejer rapi. Gaara masuk dan langsung di sambut oleh beberapa kepala divisi
penting lainya. Layakanya dikelilingi bodyguard Gaara berjalan diantara para
laki laki tua yang berotot dan berduit tebal tentunya. Hanya saja tak ada
diantaraa mereka yang bisa meredupkan aurah seorang Gaara wiliam. Pencetak
uang itu.
Garra dan para divisi berjalan keruangan rapat yang sudah dipenuhi oleh beberapa tamu undangan dalam kompetisi yang sudah dikirim oleh Nadia sejak tadi malam. Satu persatu Gaara memandangi wajah para
pengikiut kompetisi itu. Yang dicarinya tak ada. Tapi ada yang menarik
__ADS_1
perhatianya wajahnya pernah dilihatnya tak asing. Bukan Maira tapi seseorang
yang pernah bersama dengannya.
“Kamu utusan mana.” Garra memicingkan matanya curiga.
“Perkenalkan nama saya Snefia, perwakilan dari yamor colletion.” Snefia
berkata dengan gugup.
Sudut matanya mencari cari. Jawaban Snefia itu bukalah
maksud Gaara. Sebelum Rama bersuara.
“Maaf. Setiap perwakilan harus dua orang. Kalau boleh tahu
anda Bersama siapa.” Rama menyela. Bosnya terlihat cemas.
“Saya Bersama dengan ….” Suara pintu dari ujung terbuka,
perhatian beberapa orang tertuju. Gadis itu membungkuk sesaat sebelum berlari medekati Snefia. Lalu
duduk di bangku kosong.
“Dia Lidia, yang menjadi partner dalam kompetisi.” Snefia
melanjutkan ucapanya tersenyum kaku. wajah Gaara terlihat menghitam.
“Maaf, perwakilan dari yamor taka da yang bernama Lidia tapi
Snefia ratnasari dan Maira larasati.” Nadia menyela dengan laporan pendaftaran
dari yamor colletion di tangannya.
“Ah soal itu. Karena nama Maira sudah lama resign dari
perusahaan. Sekitar dua bulan yang lalu.” Ucap Snefia ragu ragu.
Nafasnya berderu, laki laki ini sebentar lagi akan menamuk.
“Rama lanjutka rapatnya.” Garra berkata. Seketika dia beranjak dengan wajah yang jauh terpuruk.
Kaki lebarnya membawa raga itu berjalan tanpa arah.
Dimana. Dimana lagi dia harus menemukan Maira. Dirinya sudah
sangat sangaat tersiksa. Mana harapan yang dia ucapkan pagi ini. Kenapa cepat
sekali dirinya di buat sadar dari harapan tadi.
Haaaakkkkk …. Berteriak lah Gaara. Kamu perlu mengeluarkan
semua kekesalah dan amarah dalam dirimu. Asal kamu tahu tak semua eksptasi itu
sesuai dengan kanyataan nya. Itu peribahasa yang tak pernah meleset. Sekalipun
kamu adalah dewa nantinya.
Langkah Gaara yang keluar dari perusahaan itu sangat gusar.
Pohon yang menjadi hiasan dalam ruangan tak luput dari pembontakan Gaara.
Seluas kakinya melangkah banyak yang hancur sudah.
Bahkan parkiran sekarang banyak mobil yang di lewatinya
mengalami kerusakan akibat ulahnya. Sudah pasti uang perusahaan yang akan
menggantinya.
__ADS_1
“Kenapa Maira, kenapa kau menghukum aku dengan kepergianmu.”
Garra terduduk lesu di koridor berlaintai kasar itu. suara lirih itu
mengartikan nada yang teramat kecewa.
Huaaaakkkk …. Meremas kuat rambutnya tak akan mengubah
apapun. Dirinya teramat menyesal sekarang. Kenapa kenapa dulu dia menyianyiakan
kehadiarn Maira. Bahkan sampai tak menganggap kehadiran Maira sama sekali.
Kenapa tuhan.
“Kapan.Kapan kau akan berhenti menghukumku. Kapaaaan ..”
berteriak sekuat tenaga laki laki itu meringkuk memeluk dirinya. Dia depresi.
Seorang satpan menghampiri Garra, niat membantu sang bos. Diluar dugaan jiwa
shikopat sang bos keluar seketika.
“Tuan, anda baik baik saja.” Sapa satpan memegang Pundak laki
laki yang meringkuk di lantai kasar dan kotor itu. Sebuah tangan kekar itu memegang tangan pria tua itu dengan teramat kesar.
Garra bangkit dengan sorot mata yang tajam. “ Apa aku
terlihat baik baik saja.” Garra berkata, remasan tanganya pada pria tua itu
semakin kuat.
“Maaf tuan, tapi ini sak …” Garra meremasnya semakin kuat,
tangan satpam itu bisa saja mengalami
patah tulang andaikan Rama tak datang tepat waktu.
Akkkkkhhh …. Teriak satpan kala Garra tersenyum jahat, jari
jarinya meremas kuat kerah baju korbanya. Sebelum Tangan
kekar lainya menahan tangan Garra.
“Maaf tuan, nona Maira akan sedih melihat ini.” Rama berkata dengan tatapan tajam. Garra
melepaskan tanganya. Sorot matanya menampilakan kebodohan lalu Kembali menyesal
luar biasa.
“Rama gadis itu menghindariku. Hahaha.” Garra berkata dengan
tatapan kosong. Tangan kekarnya Kembali meremas rambutnya dengan kasar.
Berjalan keluar dengan langkkah tertatih Garra mendekati jalanan padat
pengendara. Rama menatap bingung pada laki laki yang jas nya itu sudah menempel debu jalanan
“Kalau aku tak bisa hidup bahagia bersamanya, mungkin
kematian akan lebih indah karena bisa melihatnya.” Gara bicara nada rendah. Senyuman
yang menampilakan ketampanannya sekilas terlihat. Langkah kaki laki laki itu
membawa raga tanpa jiwa berjalan kejalaanan yang penuh pengendara.
Klakson dari para penguna mobil saling bersahutan kala pria
yang putus asa itu sudah siap mati.
__ADS_1
Piiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiipppppppppppppppp ……………….