Dinikahi Bos Posessive

Dinikahi Bos Posessive
depresi Gaara


__ADS_3

Siapa bilang orang mabuk tak bisa sadar. Buktinya Gaara


berada di fase sangat sadar. Dirinya seperti terbangun dari tidur Panjang


setelah ribuan tahun. Laki laki berparas tampan ini melihat masa depan cerah


yang menjanjikan.


Andaikan ini bukan tengah malam sudah pasti Gaara meluncur


ke rumah Amor sekarang. Tapi gelapnya malam tak bisa menghentikan usaha Gaara sepertinya.  Segera merogoh kantong dia menghubungi Nadia asisten kantor.


“Nadia, kirim surel ke semua perusahaan yang pernah


mengikuti ajang pembuatan gaun. Buat pengumuman besok agar berkumpul di  Breskot. Yang tak ada perwakilan dibaclis dari negara ini.”  Garra berkata dengan teramat senang. Dia  sendiri menenfon Nadia langsung tanpa memalui Rama lagi.


Entah seperti apa kagetnya Nadia. Sudah pasti dirinya


mengumpat kesal sekarang. 'Dasar bos sialan' mungkin itu yang Nadia ucapkan


sekarang. Bersamaan dengan itu Rama bersin, mungkin saja namanya ada dalam


umpatan Nadia sekarang juga. Sudah pasti!


Pagi cerah, secerah harapan yang membentang langit cakrawala.


Garra menggunakan jas terbaiknya. Cukuran bulu tipis di wajahnya terlihat


menambah ketampanan seorang bos bucin. Garra bahkan menggantungakan harapan di


pagi hari ini. Hatinya ingin melompat keluar Ketika membayangkan sesuatu yang


sebentar lagi akan terjadi. Namun rasa takut juga mendominasi. Bagaimana jika


orang yang dia maksud itu tak menerimanya lagi? Entahlah itu di luar kemungkinan


Gaara saat ini.


Langkah lebar berjalan menuruni tangga bahkan dengan


gagahnya berjalan masuk kedalam mobil dengan pintu yang sudah terbuka benar


benar layaknya seorang bos yang darahnya sudah menjadi titisan sejak dulu


sekali.


Garra menyabarkan diri, padahal saat ini  dirinya sangat ingin melompati waktu


secepatnya. Lagi lagi Rama harus memacu mobilnya dengan elegan di jalanan.


Hari ini wajah Gaara terlihat gugup dan gelisa dia membayangkan ini akan


menjadi hari  yang bersejarah.


Memasuki halaman perkantoran dimana banyak mobil asing yang


berjejer rapi. Gaara masuk dan langsung di sambut oleh beberapa kepala divisi


penting lainya. Layakanya dikelilingi bodyguard Gaara berjalan diantara para


laki laki tua yang berotot dan berduit tebal tentunya. Hanya saja tak ada


diantaraa mereka yang bisa meredupkan aurah seorang Gaara wiliam. Pencetak


uang itu.


Garra dan para divisi berjalan keruangan rapat yang sudah dipenuhi oleh beberapa tamu undangan  dalam kompetisi yang sudah dikirim oleh Nadia sejak tadi malam.  Satu persatu Gaara memandangi wajah para


pengikiut kompetisi itu. Yang dicarinya tak ada. Tapi ada yang menarik

__ADS_1


perhatianya wajahnya pernah dilihatnya tak asing. Bukan Maira tapi seseorang


yang pernah bersama dengannya.


“Kamu utusan mana.” Garra memicingkan matanya curiga.


“Perkenalkan nama saya Snefia, perwakilan dari yamor colletion.” Snefia


berkata dengan gugup.


Sudut matanya mencari cari. Jawaban Snefia itu bukalah


maksud Gaara. Sebelum Rama bersuara.


“Maaf. Setiap perwakilan harus dua orang. Kalau boleh tahu


anda Bersama siapa.” Rama menyela. Bosnya terlihat cemas.


“Saya Bersama dengan ….” Suara pintu dari ujung terbuka,


perhatian beberapa orang tertuju. Gadis itu membungkuk  sesaat sebelum berlari medekati Snefia. Lalu


duduk di bangku kosong.


“Dia Lidia, yang menjadi partner dalam kompetisi.” Snefia


melanjutkan ucapanya tersenyum kaku.  wajah Gaara terlihat menghitam.


“Maaf, perwakilan dari yamor taka da yang bernama Lidia tapi


Snefia ratnasari dan Maira larasati.” Nadia menyela dengan laporan pendaftaran


dari yamor colletion di tangannya.


“Ah soal itu. Karena nama Maira sudah lama resign dari


perusahaan. Sekitar dua bulan yang lalu.”  Ucap Snefia ragu ragu.


Nafasnya berderu, laki laki ini sebentar lagi akan menamuk.


“Rama  lanjutka rapatnya.” Garra berkata. Seketika dia beranjak dengan wajah yang jauh terpuruk.


Kaki lebarnya membawa raga itu berjalan tanpa arah.


Dimana. Dimana lagi dia harus menemukan Maira. Dirinya sudah


sangat sangaat tersiksa. Mana harapan yang dia ucapkan pagi ini. Kenapa cepat


sekali dirinya di buat sadar dari harapan tadi.


Haaaakkkkk …. Berteriak lah Gaara. Kamu perlu mengeluarkan


semua kekesalah dan amarah dalam dirimu. Asal kamu tahu tak semua eksptasi itu


sesuai dengan kanyataan nya. Itu peribahasa yang tak pernah meleset. Sekalipun


kamu adalah dewa nantinya.


Langkah Gaara yang keluar dari perusahaan itu sangat gusar.


Pohon yang menjadi hiasan dalam ruangan tak luput dari pembontakan Gaara.


Seluas kakinya melangkah banyak yang hancur sudah.


Bahkan parkiran sekarang banyak mobil yang di lewatinya


mengalami kerusakan akibat ulahnya. Sudah pasti uang perusahaan yang akan


menggantinya.

__ADS_1


“Kenapa Maira, kenapa kau menghukum aku dengan kepergianmu.”


Garra terduduk lesu di koridor berlaintai kasar itu. suara lirih itu


mengartikan nada yang teramat kecewa.


Huaaaakkkk …. Meremas kuat rambutnya tak akan mengubah


apapun. Dirinya teramat menyesal sekarang. Kenapa kenapa dulu dia menyianyiakan


kehadiarn Maira. Bahkan sampai tak menganggap kehadiran Maira sama sekali.


Kenapa tuhan.


“Kapan.Kapan kau akan berhenti menghukumku. Kapaaaan ..”


berteriak sekuat tenaga laki laki itu meringkuk memeluk dirinya. Dia depresi.


Seorang satpan menghampiri Garra, niat membantu sang bos. Diluar dugaan jiwa


shikopat sang bos keluar seketika.


“Tuan, anda baik baik saja.” Sapa satpan memegang Pundak laki


laki yang meringkuk di lantai kasar dan kotor itu. Sebuah tangan kekar itu  memegang tangan pria tua itu dengan teramat kesar.


Garra bangkit dengan sorot mata yang tajam. “ Apa aku


terlihat baik baik saja.” Garra berkata, remasan tanganya pada pria tua itu


semakin kuat.


“Maaf tuan, tapi ini sak …” Garra meremasnya semakin kuat,


tangan satpam itu bisa  saja mengalami


patah tulang andaikan Rama tak datang tepat waktu.


Akkkkkhhh …. Teriak satpan kala Garra tersenyum jahat, jari


jarinya meremas kuat kerah baju korbanya. Sebelum   Tangan


kekar lainya menahan tangan Garra.


“Maaf tuan,  nona Maira akan sedih melihat ini.” Rama berkata dengan tatapan tajam. Garra


melepaskan tanganya. Sorot matanya menampilakan kebodohan lalu Kembali menyesal


luar biasa.


“Rama gadis itu menghindariku. Hahaha.” Garra berkata dengan


tatapan kosong. Tangan kekarnya Kembali meremas rambutnya dengan kasar.


Berjalan keluar dengan langkkah tertatih Garra mendekati jalanan padat


pengendara. Rama menatap bingung pada laki laki yang jas nya itu sudah menempel debu jalanan


“Kalau aku tak bisa hidup bahagia bersamanya, mungkin


kematian akan lebih indah karena bisa melihatnya.” Gara bicara nada rendah. Senyuman


yang menampilakan ketampanannya sekilas terlihat. Langkah kaki laki laki itu


membawa raga tanpa jiwa berjalan kejalaanan yang penuh pengendara.


Klakson dari para penguna mobil saling bersahutan kala pria


yang putus asa itu sudah siap mati.

__ADS_1


Piiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiipppppppppppppppp ……………….


__ADS_2